Liputan6.com, Jakarta - Seorang mantan pedagang kripto dilaporkan diculik dan ditawan di antara Paris, Prancis dan Saint-Germain-en-Laye (Yvelines) pada 26-27 Agustus 2025.
Hal itu berdasarkan laporan media lokal yang menguti sumber, dari Yahoo Finance, Kamis, (28/8/2025).
“Istrinya dihubungi dan menyatakan kalau suaminya telah meninggalkan rumah pada Selasa pagi pukul 11.00 untuk pergi bekerja. Ia mengungkapkan mantan pedagang kripto ini telah menjalankan sebagian aktivitasnya terkait kripto,” ujar sumber.
Para penculik diduga meminta tebusan lebih dari USD 11.630 atau Rp 190,24 juta (asumsi kurs dolar AS untuk rupiah di kisaran 16.358) untuk pembebasan korban. Mantan pedagang kripto ini meski dibebaskan, tetapi ia kembali ke rumah dengan wajah bengkak.
Penculikan kripto di Prancis
Prancis dilanda gelombang penculikan terkait kripto dalam beberapa bulan terakhir. Pada Januari, pelaku menculik salah satu pendiri perusahaan dompet kripto Ledger, David Balland dan rekannya.
Pelaku memotong jari Balland dan meminta tebusan besar. Ia dibebaskan sehari kemudian, dan pacarnya ditemukan terikat di bagasi mobil di luar Paris.
Pada Mei, putri dan cucu CEO bursa perdagangan kripto Paymium, Pierre Noizat, hampir diculik di siang bolong di Paris.
Aktivitas kriminal yang menyasar para pengusaha kripto dan keluarga mereka telah mempermalukan pemerintah Prancis. Menteri Dalam Negeri, Bruno Retailleau bahkan bertemu dengan pemimpin kripto dalam pertemuan darurat pada pertengahan Mei untuk meningkatkan keamanan mereka.
Kasus Penculikan Terkait Kripto di Prancis, 25 Orang Didakwa
Sebelumnya, pihak berwenang di Perancis resmi mendakwa 25 orang atas keterlibatan mereka dalam sejumlah kasus penculikan dan percobaan penculikan yang menargetkan tokoh-tokoh di dunia kripto.
Melansir Coinmarketcap, Selasa (3/6/2025), menurut laporan dari Le Monde yang merujuk pada pengumuman kejaksaan umum Paris tanggal 31 Mei, dari 25 orang tersebut, enam di antaranya masih berstatus di bawah umur. Usia para tersangka berkisar antara 16 hingga 23 tahun.
Kelompok ini diduga terlibat dalam berbagai rencana penculikan terhadap tokoh kripto ternama dan juga keluarga mereka.
Dari total tersangka, delapan belas saat ini berada dalam tahanan praperadilan, tiga lainnya meminta sidang ditangguhkan, sementara empat masih berada dalam pengawasan ketat pengadilan.
Penyelidikan utama difokuskan pada sebuah insiden penculikan yang gagal pada 13 Mei lalu di distrik ke-11, Paris. Target dari aksi ini adalah putri dan cucu dari Pierre Noizat, CEO Paymium, sebuah platform pertukaran kripto asal Prancis.
Pihak kepolisian mengungkap bahwa upaya penculikan tersebut bukanlah yang pertama. Sehari sebelumnya, kelompok yang sama telah merencanakan aksi serupa namun juga gagal.
Tak lama berselang, sebuah operasi penculikan lain di wilayah dekat Nantes juga berhasil digagalkan oleh aparat kepolisian.
Aksi Kekerasan Terekam Kamera, Dalang Masih Buron
Sebuah rekaman yang tersebar luas di media sosial memperlihatkan bagaimana empat orang bertopeng melakukan serangan terhadap keluarga Noizat. Dalam video tersebut, terlihat jelas putri Noizat, suaminya, dan anak mereka diserang secara brutal. Ketiganya mengalami luka ringan dan telah mendapat perawatan di rumah sakit.
Latar belakang para pelaku terbilang beragam, berasal dari Paris, Chatellerault, Senegal, Angola, hingga Rusia. Beberapa pengacara pembela menggambarkan para tersangka sebagai profil muda yang dibujuk oleh uang dan terjebak dalam situasi di luar kendali mereka.
Meski beberapa pelaku telah ditangkap, pihak berwenang belum berhasil mengungkap siapa dalang utama dari seluruh rangkaian serangan ini. Mereka menduga ada otak kejahatan yang berperan sebagai pengendali di balik layar.
Peningkatan Ancaman: Kasus Serupa Merebak di Seluruh Prancis
Insiden penculikan yang menargetkan tokoh industri kripto bukan hanya terjadi di Paris. Sejak awal tahun ini, beberapa kasus serupa telah terjadi di berbagai wilayah Prancis.
Termasuk di antaranya penculikan terhadap David Balland salah satu pendiri Ledger pada Januari lalu, serta penculikan ayah dari seorang miliarder kripto pada 1 Mei. Kedua insiden ini diduga masih berkaitan dengan gelombang penculikan yang sedang marak.
Hingga kini, polisi baru berhasil mengungkap dan menangkap pelaku yang berperan sebagai operator lapangan dan koordinator logistik. Dalang atau otak besar di balik jaringan ini masih menjadi buruan utama.