Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin dan kripto teratas lainnya terpantau alami pergerakan yang beragam pada Rabu, (27/8/2025) pukul 7:00 WIB. Mayoritas kripto jajaran teratas terpantau kembali berada di zona hijau.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) kembali menguat. Bitcoin naik 1,44 persen dalam 24 jam, tetapi masih melemah 0,84 persen sepekan.
Saat ini, harga Bitcoin berada di level USD 111.810 per koin atau setara Rp 1,82 miliar (asumsi kurs Rp 16.308 per dolar AS).
Ethereum (ETH) kembali menguat. ETH meroket 5,23 persen sehari terakhir dan 12,95 persen sepekan. Dengan begitu, saat ini ETH berada di level Rp 75,02 juta per koin.
Harga kripto hari ini selanjutnya, Binance coin (BNB) turut menguat. Dalam 24 jam terakhir BNB tumbuh 3,01 persen dan 5,03 persen sepekan. Hal itu membuat BNB dibanderol dengan harga Rp 14,08 juta per koin.
Kemudian Cardano (ADA) kembali berada di zona hijau. ADA menguat 3,69 persen dalam sehari dan 2,72 persen sepekan. Dengan begitu, ADA berada pada level Rp 14.134 per koin.
Harga Solana
Adapun Solana (SOL) turut menghijau. SOL naik 4,84 persen dalam sehari dan 11,41 persen sepekan. Saat ini, harga SOL berada di level Rp 3,19 juta per koin.
XRP kembali berada di zona hijau. XRP menguat 5,51 persen dan 5,66 persen sepekan. Dengan begitu, XRP kini dibanderol seharga Rp 49.126 per koin.
Koin Meme Dogecoin (DOGE) kembali menguat. Dalam satu hari terakhir DOGE naik 4,33 persen dan 4,61 persen sepekan. Ini membuat DOGE diperdagangkan di level Rp 3.562 per token.
Harga kripto hari ini Tether (USDT) dan USD coin (USDC) masih stabil. Harga keduanya masih berada di level USD 1,00, keduanya menguat masing-masing 0,20 dan 0,19 persen.
Adapun untuk keseluruhan kapitalisasi pasar kripto hari ini berada di level USD 3,87 triliun atau setara Rp 63.115 triliun, menguat sekitar 2,38 persen dalam sehari terakhir.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Investor Kaya Asia Bidik 5% Portofolio di Kripto
Sebelumnya, investor dengan kekayaan tinggi di Asia semakin gencar masuk ke aset kripto, menambah pasar yang sebelumnya didominasi oleh pengguna ritel di India, Indonesia, Vietnam, dan negara lainnya.
Keluarga kaya dan kantor keluarga (family office) di seluruh Asia meningkatkan alokasi kripto, dengan sebagian berencana menempatkan sekitar 5% dari portofolio ke aset digital tersebut.
Dikutip dari Cointelegraph.com, Sabtu (23/8/2025), tren ini pertama kali, mencatat adanya gelombang permintaan dari individu kaya di Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok daratan.
Manajer kekayaan mengatakan mereka menerima lebih banyak pertanyaan dari klien, sementara bursa kripto melaporkan peningkatan volume perdagangan, dan dana kripto baru menarik permintaan yang kuat.
Pendiri NextGen Digital Venture, Jason Huang mengatakan perusahaannya berhasil mengumpulkan lebih dari USD 100 juta atau Rp 1,63 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.364) hanya dalam beberapa bulan untuk dana ekuitas kripto long-short yang diluncurkan di Singapura pada Mei lalu. Dana sebelumnya yang ditutup tahun lalu menghasilkan keuntungan 375% dalam waktu kurang dari dua tahun.
Alokasi Kripto 5%
UBS, bank investasi asal Swiss, mencatat beberapa family office Tionghoa di luar negeri menjadi pendorong pergeseran ini, dengan alokasi kripto sekitar 5%.
Bank tersebut mengatakan generasi kedua dan ketiga dari family office mulai belajar dan ikut terlibat dalam aset digital. Bursa kripto di kawasan ini juga melaporkan peningkatan aktivitas.
HashKey Exchange di Hong Kong mengatakan jumlah pengguna terdaftar mereka naik 85% secara tahunan hingga Agustus 2025, sementara data CryptoQuant menunjukkan volume perdagangan di tiga bursa utama Korea Selatan meningkat 17% sepanjang tahun ini, dengan rata-rata volume harian melonjak lebih dari 20%.
Hingga kini, ledakan kripto di Asia sebagian besar digerakkan dari bawah. Data Chainalysis menunjukkan kawasan Asia Tengah, Asia Selatan, dan Oseania (CSAO) mencatat arus masuk lebih dari USD 750 miliar antara pertengahan 2023 hingga pertengahan 2024, sekitar 16,6% dari volume global.
Arus masuk ini terutama dipicu oleh pengguna ritel yang melakukan transaksi di bawah USD 10.000 untuk perdagangan, remitansi, dan keuangan terdesentralisasi (DeFi). Dalam Global Crypto Adoption Index 2024 dari Chainalysis, India menempati peringkat pertama dunia, dengan investor ritel mendorong aktivitas di bursa terpusat.
Indonesia berada di peringkat ketiga, didorong oleh partisipasi DeFi dari akar rumput dan sektor Web3 yang tumbuh pesat. Vietnam menduduki peringkat kelima, dengan adopsi yang tersebar di platform terpusat maupun DeFi. Filipina berada di posisi kedelapan, di mana kripto banyak digunakan untuk remitansi dan game play-to-earn.