Liputan6.com, Jakarta - Aksi jual membayangi pasar kripto pada perdagangan Kamis sore, 28 Agustus 2025 di Amerika Serikat (AS).
Mengutip Yahoo Finance, Jumat (29/8/2025), harga bitcoin (BTC) setelah sempat tembus level USD 113.000 atau Rp 1,84 miliar (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.355), turun 0,7% ke posisi USD 111.800 atau Rp 1,82 miliar.
Aksi jual dalam ether (ETH) dan XRP sedikit lebih besar, dengan kedua token masing-masing turun 2,1% dan 1,4%.
Solana (SOL) yang berkinerja baik di antara mata uang utama naik 3,1% selama sehari terakhir.
Sementara itu, harga emas diam-diam naik di tengah bitcoin (BTC) berjuang keras selama dua minggu terakhir naik perlahan. Harga emas naik 0,8% pada Kamis pekan ini menjadi USD 3.477 per ounce.
Pada Agustus 2025, kinerja harga emas lebih baik bahkan lebih tajam, dengan naik hampir 4%. Sedangkan bitcoin turun 5,2%.
Di harga USD 3.477, emas kini hanya beberapa dolar AS di bawah rekor tertingginya di USD 3.534 yang dicapai pada awal bulan ini di tengah kekhawatiran yang kini telah mereda kalau emas batangan Swiss akan turun di bawah tarif hukuman Gedung Putih terhadap Swiss.
Sentimen The Fed
Entah mengapa, perkembangan makro, suku bunga yang lebih rendah dan dolar AS yang lebih lemah, yang mendorong harga emas selama beberapa minggu terakhir gagal memicu minat terhadap emas digital, alias bitcoin.
Yang akan terjadi pada September tampaknya adalah dimulainya kembali pemangkasan suku bunga Federal Reserve dan satu atau mungkin dua anggota Fed baru (yang kemungkinan dovish) yang ditunjuk oleh Presiden Trump. Empat bulan terakhir tahun ini bisa menjadi menarik.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Strategy Kembali Beli Bitcoin, Segini Nilainya
Sebelumnya, Strategy membeli bitcoin USD 357 juta atau Rp 5,80 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.268). Dana pembelian bitcoin (BTC) berasal dari saham biasa.
Demikia disampaikan Strategy dalam keterangan resmi seperti dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (26/8/2025).
Perusahaan yang berbasis Tysons Corner, Virginia ini menerbitkan saham Strategy senilai USD 310 juta atau Rp 5,04 triliun untuk mendanai pembelian terbarunya.
Langlah ini menandai kembalinya kondisi normal setelah perusahaan pembeli bitcoin itu melakukan serangkaian penyesuaian pada strategi perusahaan.
Strategy memberi sinyal seminggu yang lalu kalau akan memodifikasi kebijakan penerbitan saham yang baru diadopsi yang membatasi kemampuannya untuk menerbitkan saham biasa ketika sahamnya diperdagangkan pada valuasi tertentu.
Meski kerangka kerja itu dimaksudkan untuk menunjukkan “disiplin”, Strategy memberi ruang gerak bagi dirinya sendiri. Strategy mengatakan, kerangka kerja itu akan dikesampingkan ketika dianggap menguntungkan.
Saham Strategy turun hampir 2,7% menjadi USD 348 pada Senin. Saham Strategy menurun signifikan dari level tertinggi di USD 457 bulan lalu, tetapi sahamnya masih naik 20% year to date. Sementara itu, harga bitcoin susut 1,6% menjadi USD 112.580 dalam 24 jam terakhir.
Pembelian Bitcoin
Ketika saham Strategy diperdagangkan dengan premi dibandingkan kepemilikan Bitcoin-nya, perusahaan dapat meningkatkan jumlah Bitcoin yang dimilikinya per lembar saham dengan menerbitkan saham biasa. Tahun ini, Strategy telah memperkenalkan beberapa jenis saham preferen sebagai sumber pendanaan baru.
Pembelian Bitcoin terbaru Strategy, misalnya, sebagian didanai oleh penawaran SRTK, STRF, dan STRD. Strategy baru-baru ini mengumpulkan sekitar USD 47 juta atau Rp 764,62 miliar dengan menjual saham preferen, yang memiliki berbagai kewajiban dan pembayaran dividen.
CEO dan CIO Damped Spring Advisors, Andy Constan, termasuk di antara mereka yang membandingkan Strategy dengan Skema Ponzi, dengan alasan perusahaan harus menerbitkan saham biasa untuk mendanai dividen yang wajib dibayarkan secara rutin kepada pemegang saham preferennya.