Apakah Hal Finney Adalah Satoshi Nakamoto? Foto Lama Picu Spekulasi Baru Pencipta Bitcoin

1 day ago 4

Liputan6.com, Jakarta Misteri tentang siapa sebenarnya pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto, kembali mencuat. Kali ini, perbincangan dipicu oleh sebuah foto lama Hal Finney — sosok yang menerima transaksi Bitcoin pertama pada 2009 — yang diunggah di X (Twitter).

Foto itu langsung viral, ditonton lebih dari satu juta kali hanya dalam sehari, menunjukkan betapa besarnya minat komunitas terhadap sosok di balik nama samaran tersebut.

Dikutip dari U.Today, Sabtu (29/8/2025), Hal Finney memang selalu masuk dalam daftar pendek kandidat Satoshi. Ia bukan hanya seorang kriptografer berpengalaman puluhan tahun, tetapi juga orang pertama yang menjalankan perangkat lunak Bitcoin dan memberi umpan balik langsung kepada Nakamoto.

Latar belakangnya sebagai bagian dari komunitas cypherpunk, keterlibatannya dalam proyek PGP, serta rekam jejak panjang dalam advokasi privasi, membuat banyak orang menilai Finney sangat cocok dengan sosok Satoshi.

Bahkan, fakta bahwa ia tinggal di kota yang sama di California dengan Dorian Nakamoto — nama lain yang pernah diduga Satoshi — semakin menambah teka-teki.

Meski begitu, ada alasan kuat mengapa Finney dianggap bukan Satoshi. Analisis linguistik menunjukkan gaya tulisannya berbeda, sementara catatan aktivitas Satoshi mengindikasikan zona waktu yang tidak sesuai dengan lokasi Finney. Yang paling penting, Finney sendiri selalu membantah tuduhan tersebut.

Hingga wafat pada 2014, ia tetap menegaskan bahwa dirinya hanyalah pendukung awal yang menyadari kecemerlangan Bitcoin sejak awal.

Viralnya foto lama Finney ini membuktikan satu hal: pertanyaan “Siapakah Satoshi Nakamoto?” masih menjadi misteri tak terpecahkan.

JP Morgan Prediksi Harga Bitcoin Bakal Sentuh Level Segini

Sebelumnya, analis JPMorgan optimistis harga Bitcoin saat ini "terlalu rendah" dibandingkan dengan emas.

Dalam percakapan dengan The Block, dikutip dari Yahoo Finance Jumat (29/8/2025), Nikolaos Panigirtzoglou prediksi kripto ini dapat mencapai USD 126.000 atau Rp 2,06 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.351) pada akhir 2025.

Prediksi ini muncul ketika volatilitas Bitcoin telah mencapai titik terendah dalam sejarah, yang seharusnya membantu lembaga-lembaga mulai memandang Bitcoin sebagai kelas aset portofolio, sama seperti emas.

"Ya, inilah potensi keuntungan yang kami soroti dalam catatan kami, yang kami perkirakan akan tercapai pada akhir tahun," kata Direktur Pelaksana JP Morgan, Panigirtzoglou.

Bank tersebut mengamati volatilitas Bitcoin terhadap emas dilaporkan telah turun ke rekor terendah, yaitu 2,0, yang berarti Bitcoin hanya membutuhkan modal risiko dua kali lebih banyak dalam portofolio dibandingkan emas, menurut laporan tersebut.

Selain itu, persaingan antar perusahaan perbendaharaan semakin memanas. KindlyMD yang terdaftar di Nasdaq telah mengajukan penggalangan dana hingga USD 5 miliar untuk meningkatkan cadangan Bitcoin-nya, dan Twenty-First Capital milik Adam Back sedang bermanuver untuk menjadi pemegang saham perusahaan terbesar kedua, tepat di belakang Strategy, dan di depan Marathon Digital.

Arus Masuk Pasif

Arus masuk pasif juga meningkat, berkat inklusi indeks. Strategy Inc. ditambahkan ke dalam tolok ukur ekuitas utama.

Status Metaplanet sebagai perusahaan berkapitalisasi menengah menyebabkannya dimasukkan ke dalam indeks FTSE All-World melalui promosinya. Kedua langkah tersebut telah meningkatkan eksposur Bitcoin ke lebih banyak portofolio di seluruh dunia.

JPMorgan menyatakan dalam catatannya dinamikanya sedang berubah. Pada akhir 2024, Bitcoin diperdagangkan pada harga USD 36.000 di atas nilai wajar berdasarkan penyesuaian risiko, dan saat ini diperdagangkan USD 13.000 di bawah nilai wajar, yang menyiratkan bahwa nilainya dapat meningkat lebih lanjut.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |