Pendiri Ethereum: Stablecoin Desentralisasi Belum Cukup Tangguh

3 months ago 77

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Ethereum, Vitalik Buterin memperingatkan stablecoin terdesentralisasi saat ini tidak cukup tangguh untuk mendukung visi jangka panjang kripto.

Ia menilai, industri ini membutuhkan desain baru yang kurang bergantung pada dolar Amerika Serikat (AS) dan kurang rentang terhadap penguasaan sosok kaya.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (13/1/2026), dalam sebuah unggahan di platform X pada Minggu, Buterin menuturkan, model yang ada saat ini memiliki tiga kelemahan inti. Kelemahan itu antara lain ketergantungan pada satu referensi harga fiat, sistem oracle yang dapat dimanipulasi oleh sejumlah besar modal dan imbal hasil staking yang mendistorsi ekonomi stablecoin.

Stablecoin, mata uang kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang stabil, biasanya dipatok pada dolar AS atau mata uang fiat lainnya, telah menjadi salah satu segmen pasar aset digital yang paling cepat berkembang.

Kapitalisasi pasar stablecoin secara keseluruhan melonjak 49% pada 2025 hingga mencapai USD 306 miliar atau Rp 5.158 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.860) pada Desember, didorong oleh regulasi yang lebih jelas dan adopsi institusional yang semakin meningkat.

Bank dan perusahaan fintech semakin banyak menjajaki peluncuran token mereka sendiri, sementara perusahaan kripto besar telah merangkul stablecoin sebagai jembatan antara keuangan tradisional dan blockchain. Di antaranya, proyek kripto yang didukung Trump, World Liberty Financial, meluncurkan token terkait dolar AS mereka sendiri, USD1, tahun lalu.

Sorotan Buterin

Institusionalisasi stablecoin yang cepat telah menghidupkan kembali ketegangan yang telah lama ada di dalam dunia kripto, apakah teknologi ini harus berfungsi sebagai alternatif terdesentralisasi untuk sistem keuangan, atau berkembang menjadi perpanjangan yang diatur darinya.

Para kritikus memperingatkan stablecoin yang dijalankan oleh perusahaan dan didukung oleh dolar yang diterbitkan pemerintah merusak tujuan asli kripto yaitu ketahanan terhadap sensor, privasi, dan kemerdekaan dari kendali negara.

Pendiri aplikasi TYMIO, Georgii Verbitskii menuturkan, kekhawatiran Buterin menyoroti kelemahan mendasar dalam model stablecoin saat ini.

"Jika stablecoin dimaksudkan untuk mendukung ketahanan jangka panjang, terutama di tingkat negara-bangsa atau infrastruktur keuangan global, maka ketergantungan pada satu mata uang fiat seperti dolar AS merupakan kelemahan struktural,” kata Verbitskii kepada Decrypt.

"Dalam jangka waktu yang cukup panjang, inflasi, kebijakan moneter, dan kontrol politik pasti akan merembes ke dalam sistem,” ia menambahkan.

Verbitskii mengatakan, token dominan seperti USDT milik Tether dan USDC milik Circle sudah merupakan produk institusional yang sangat kuat, dengan kontrol terpusat dan paparan terhadap inflasi fiat.

“Stablecoin yang benar-benar global kemungkinan perlu independen dari negara mana pun, berpotensi berbasis pada keranjang aset atau komoditas yang terdiversifikasi dan diamankan oleh mekanisme yang sulit untuk dikuasai secara finansial,” ujar dia.

Potensi Risiko

Buterin berpendapat dalam jangka panjang, bahkan patokan dolar AS yang stabil pun menciptakan risiko. "Melacak USD dalam jangka pendek memang baik, tetapi menurut saya, bagian dari visi ketahanan negara bangsa seharusnya adalah kemandirian bahkan dari pergerakan harga tersebut,” tulisnya.

"Dalam jangka waktu 20 tahun, bagaimana jika terjadi hiperinflasi, bahkan secara moderat?”

Pendiri Ethereum itu juga memperingatkan bahwa sebagian besar stablecoin terdesentralisasi bergantung pada oracle yang dapat dikuasai jika cukup banyak uang digelontorkan ke dalamnya.

Tanpa desain yang lebih baik, menurut dia, protokol harus bergantung pada tingkat ekstraksi nilai yang tinggi dari pengguna untuk mempertahankan diri, sehingga sistem menjadi kurang menarik dan kurang adil.

"Ini adalah bagian besar mengapa saya terus-menerus menentang tata kelola yang terfinansialisasi,” Buterin menambahkan.

“Secara inheren, hal itu tidak memiliki asimetri pertahanan/penyerangan, sehingga tingkat ekstraksi yang tinggi adalah satu-satunya cara untuk menjadi stabil.”

Kemitraan Penting

CEO perusahaan blockchain layer-1 Concordium, Boris Bohrer-Bilowitzki mengatakan kepada Decrypt, desentralisasi oracle adalah masalah yang “membutuhkan pekerjaan infrastruktur yang sebenarnya, bukan sekadar sandiwara tata kelola.”

"Proyek-proyek saat ini sangat bergantung pada kemitraan TradFi dan dukungan perusahaan dengan mengabaikan fundamental,” ujar dia.

"Kemitraan penting untuk adopsi dan penyebaran skala luas, tetapi tidak boleh mengalahkan kepatuhan terhadap peraturan, keamanan, dan ketahanan yang sebenarnya.”

Masalah ketiga, kata Buterin, adalah imbal hasil staking. Jika pengguna stablecoin hanya dapat memperoleh beberapa poin persentase sementara staking menawarkan pengembalian yang lebih tinggi, maka stablecoin menjadi kurang kompetitif secara struktural.

Buterin menguraikan beberapa pendekatan yang mungkin, termasuk menurunkan imbal hasil staking secara drastis, menciptakan bentuk staking yang lebih aman, atau menemukan cara untuk membuat staking yang dapat dipotong (slashable staking) kompatibel dengan jaminan stablecoin.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |