Bitcoin Terancam Turun ke USD 10.000, Analis Peringatkan Sinyal Bearish

12 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Aset kripto Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda memasuki fase bearish seiring meningkatnya volatilitas dan korelasi dengan pasar saham global.

Senior commodity strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, menyoroti fenomena ini dalam analisis terbarunya pada 12 April. Ia menilai, kinerja Bitcoin sejak peluncuran ETF justru menunjukkan tekanan terhadap daya tariknya sebagai instrumen diversifikasi.

“Pasar bearish kripto mungkin masih dalam tahap awal jika melihat kinerja sejak ETF bitcoin mulai diperdagangkan pada Januari 2024,” tulis McGlone dikutip dari news Bitcoin.com, Selasa (14/4/2026).

Analisis tersebut juga membandingkan performa ETF Bitcoin milik BlackRock, yakni iShares Bitcoin Trust (IBIT), dengan ETF indeks saham S&P 500.

Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun akses investor institusi semakin luas, Bitcoin belum mampu memberikan imbal hasil yang sebanding dengan risiko yang ditanggung.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Korelasi dengan Saham Meningkat, Risiko Bitcoin Bertambah

Data menunjukkan Bitcoin kini semakin bergerak searah dengan pasar saham, dengan tingkat korelasi mendekati 0,5. Di sisi lain, volatilitasnya tercatat hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan aset tradisional.

Menurut McGlone, kondisi ini menjadi masalah bagi investor yang mencari diversifikasi portofolio.

“Apa yang menarik, imbal hasil total Bitcoin relatif sama dengan pasar saham, tetapi dengan volatilitas sekitar 4 kali lebih tinggi. Volatilitas tinggi dan korelasi tinggi, tanpa imbal hasil yang lebih baik, biasanya harus dihindari dalam diversifikasi,” jelasnya.

Hal ini membuat Bitcoin kini lebih dipandang sebagai aset berisiko tinggi (high beta), bukan lagi sebagai lindung nilai seperti yang sering diklaim sebelumnya.

Meski demikian, harga Bitcoin saat ini masih berada di kisaran USD 71.883, turun dari puncaknya di 2025 yang mendekati USD 126.000. Dalam dua pekan terakhir, BTC bahkan masih mencatat kenaikan sekitar 5,6%, menunjukkan fase konsolidasi.

Risiko Koreksi Dalam, Bitcoin Bisa Turun ke USD 10.000

McGlone juga mengingatkan potensi penurunan tajam harga Bitcoin hingga ke level USD 10.000. Prediksi ini didasarkan pada model mean reversion, yang melihat lonjakan harga pasca-2020 sebagai anomali akibat likuiditas tinggi.

Ia juga menyoroti membanjirnya jumlah token kripto baru yang dinilai melemahkan nilai fundamental pasar, mirip dengan gelembung dot-com di masa lalu.

“Pandangan saya, kehancuran pasar kripto mungkin baru saja dimulai. Dulu hanya ada satu pada 2009, yaitu Bitcoin, sekarang ada jutaan token yang nilainya miliaran dolar tanpa fundamental kuat,” ujarnya.

Menurutnya, jika likuiditas global semakin ketat dan investor beralih ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah AS, maka tekanan terhadap Bitcoin bisa semakin besar.

Meski demikian, sejumlah faktor masih menopang harga Bitcoin, seperti berkurangnya pasokan pasca halving, cadangan di bursa yang rendah, serta tingginya dana institusi dalam ETF Bitcoin.

Namun, secara keseluruhan, pasar kripto dinilai masih rentan terhadap perubahan sentimen global dan kondisi ekonomi makro.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |