Perang Iran Diprediksi Guncang Pasar Kripto 2026, Harga Bitcoin Terancam

1 month ago 52

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin menunjukkan kenaikan dalam beberapa waktu terakhir, namun reli tersebut dinilai masih rapuh. Tekanan geopolitik seperti perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan kondisi makroekonomi global membuat sentimen pasar belum sepenuhnya pulih.

DIkutip dari Coinmarketcap, Senin (13/4/2026), sekitar sepekan setelah rebound, Bitcoin masih bergerak di kisaran USD 71.000. Data dari TradingView menunjukkan harga berada di sekitar USD 71.276 pada sesi terbaru. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar bagi Bitcoin untuk melanjutkan tren kenaikan yang berkelanjutan.

Analis pasar kripto sekaligus pendiri Coin Bureau, Nic Puckrin, menilai dampak konflik Iran bahkan bisa membayangi pasar hingga 2026.

Ia mengatakan, “Bahkan jika perang berakhir sekarang, dampaknya kemungkinan akan membentuk cerita pasar pada 2026 dan setidaknya mendominasi narasi hingga kuartal II.”

Menurutnya, kondisi pasar saat ini masih sangat rapuh. Kenaikan harga Bitcoin ke level yang lebih tinggi sangat bergantung pada berbagai faktor positif di luar konflik geopolitik.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Syarat Bitcoin Bisa Tembus USD 90.000

Nic Puckrin menjelaskan, untuk mendorong harga Bitcoin menuju USD 90.000, dibutuhkan kombinasi beberapa faktor penting.

Ia menyebut, “Untuk mencapai USD 90.000, kita membutuhkan kombinasi gencatan senjata yang mengakhiri ketegangan geopolitik, penurunan harga minyak ke sekitar USD 80, serta data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan yang dapat meredakan kekhawatiran stagflasi.”

Selain itu, pergerakan harga Bitcoin juga sangat dipengaruhi kondisi makro. Jika Bitcoin mampu ditutup di atas USD 71.000 dalam satu pekan, maka peluang kenaikan ke kisaran USD 74.000 terbuka.

Namun, jalur kenaikan tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar yang lebih luas, termasuk sentimen “risk-on” serta perkembangan konflik di Timur Tengah.

Dalam beberapa waktu terakhir, volatilitas harga masih tinggi. Bitcoin sempat menembus USD 73.000 pada awal April, namun kembali turun ke sekitar USD 71.000 setelah muncul kabar terkait ketegangan geopolitik.

Sentimen pasar juga terpengaruh oleh mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang memperbesar ketidakpastian global.

Inflasi, Kebijakan The Fed, dan Arah Bitcoin ke Depan

Selain faktor geopolitik, inflasi juga menjadi tekanan besar bagi pasar kripto. Data dari U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan lonjakan inflasi yang dipicu konflik perang.

Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026 menjadi semakin kecil. Sikap kebijakan moneter Federal Reserve pun masih menjadi perdebatan.

Berdasarkan data dari CME Group melalui FedWatch Tool, peluang suku bunga tetap di kisaran 3,50%–3,75% pada pertemuan mendatang sangat tinggi, bahkan di atas 98%.

Sementara itu, peluang pemangkasan suku bunga pada Juli hanya sekitar 33,6%. Artinya, kebijakan moneter ketat kemungkinan masih akan berlangsung lebih lama.

Bagi investor kripto, kondisi ini menciptakan dilema. Di satu sisi, ada harapan pelonggaran kebijakan di masa depan. Namun di sisi lain, tekanan inflasi dan risiko geopolitik masih tinggi.

Ke depan, pasar akan mencermati beberapa indikator penting:

  • Pergerakan harga minyak global
  • Data ekonomi terbaru
  • Perkembangan konflik geopolitik
  • Arah kebijakan bank sentral

Jika ketegangan mereda dan inflasi turun, Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan. Namun jika risiko global terus meningkat, reli Bitcoin bisa kembali tertahan.

Dalam situasi saat ini, pergerakan Bitcoin masih berada dalam fase tidak pasti—antara peluang rebound lanjutan atau kembali melemah akibat tekanan global.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |