Harga Bitcoin Anjlok 50% di 2026, Apakah Bisa Crash Lebih Dalam?

20 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Setelah sempat mencetak rekor tertinggi di atas USD 126.000 pada akhir 2025, Bitcoin mengalami perjalanan berat sepanjang 2026. Nilainya sempat anjlok sekitar 50% dari puncaknya sebelum akhirnya sedikit pulih.

Kondisi ini memicu perdebatan di kalangan investor. Sebagian melihatnya sebagai peluang beli, sementara lainnya menganggap situasi tersebut sebagai sinyal awal potensi kejatuhan yang lebih dalam.

Dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (12/4/2026), sejumlah pakar investasi menilai arah pergerakan Bitcoin saat ini masih penuh ketidakpastian. Faktor global seperti kondisi ekonomi makro hingga tensi geopolitik dinilai berperan besar dalam menentukan arah harga aset kripto terbesar di dunia tersebut.

Meski sempat mengalami tekanan signifikan, pergerakan Bitcoin tetap menjadi sorotan karena dianggap sebagai indikator penting dalam pasar aset digital global.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Skenario Positif, Bitcoin Dinilai Semakin Kuat

Di tengah penurunan harga, sejumlah ahli melihat Bitcoin justru menunjukkan ketahanan yang kuat.

CEO Thiess Invest, Marcel Thiess, menilai Bitcoin telah mengalami pematangan pasar.

“Bitcoin telah menunjukkan ketahanan yang besar di 2026, bahkan setelah mengalami penurunan 40%,” ujarnya.

Menurutnya, meningkatnya adopsi institusional menjadi faktor penting yang membuat harga Bitcoin kini tidak lagi semata dipengaruhi investor ritel atau spekulan.

Pandangan serupa disampaikan oleh strategist investasi teknologi, Igor Pejic.

“Saya tidak melihat tanda-tanda spesifik yang mengarah pada crash Bitcoin lebih lanjut saat ini. Dari sisi volume pasar dan pelaku yang terlibat, seharusnya Bitcoin lebih stabil dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Namun, untuk mendorong harga kembali menembus USD 100.000, dibutuhkan sentimen positif seperti stabilitas geopolitik dan kejelasan regulasi di Amerika Serikat.

Skenario Negatif, Risiko Penurunan Masih Mengintai

Di sisi lain, tidak semua pakar optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam waktu dekat.

Penulis buku The Millionaire Dropout, Vince Stanzione, menilai pergerakan Bitcoin saat ini belum menunjukkan alasan kuat untuk kembali naik signifikan.

“Diperdagangkan di kisaran USD 70.000, Bitcoin berada di level yang kurang lebih sama seperti hampir lima tahun lalu,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai sentimen positif seperti persetujuan ETF di AS, kebijakan yang lebih ramah kripto, hingga sikap regulator yang lebih longgar belum mampu mendorong kenaikan harga secara berkelanjutan.

Sementara itu, analis Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, memperingatkan bahwa harga Bitcoin bisa turun hingga USD 10.000 jika gagal bertahan di atas level USD 75.000.

Stanzione juga menilai katalis besar berikutnya baru akan datang pada peristiwa halving Bitcoin pada April 2028, yang secara historis sering memicu tren kenaikan besar.

Sebelum itu, ia belum melihat alasan kuat bagi investor untuk masuk ke pasar Bitcoin saat ini.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |