Harga Bitcoin Reli Lagi, Analis Ingatkan Jangan FOMO

2 days ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Sentimen pasar terhadap Bitcoin (BTC) kembali berubah positif setelah harga aset kripto terbesar di dunia itu berhasil menembus level USD 80.000 pada awal pekan ini.

Data platform analitik Santiment pada 7 Mei menunjukkan optimisme investor kini mencapai level paling bullish dalam empat bulan terakhir.

Dikutip dari CoinMarketCap, Jumat (8/5/2026), perubahan sentimen tersebut terjadi setelah sebelumnya pasar kripto sempat diliputi kekhawatiran akibat ketidakpastian ekonomi global dan sejumlah insiden keamanan di industri aset digital.

Kini, investor ritel kembali ramai membicarakan potensi kenaikan Bitcoin di media sosial.

Santiment mengukur perubahan sentimen itu melalui indikator Positive/Negative Sentiment yang menganalisis jutaan unggahan dan diskusi di media sosial menggunakan model machine learning untuk membedakan sentimen bullish dan bearish.

Saat ini, rasio sentimen tercatat di level 1,37, tertinggi sejak awal Januari 2026 ketika pasar kripto sempat menguat pada akhir 2025.

Sebaliknya, pada pertengahan April lalu sentimen pasar justru sempat jatuh ke area bearish setelah terjadinya eksploitasi terhadap platform KelpDAO.

Saat itu, Santiment menilai kepanikan pasar justru menjadi kondisi yang lebih sehat karena mendorong investor jangka pendek keluar dari pasar.

Analis Peringatkan Risiko Koreksi Bitcoin

Setelah harga Bitcoin kembali pulih, Santiment kini mengingatkan risiko lain yang mulai muncul, yakni fenomena fear of missing out (FOMO) atau ketakutan investor tertinggal reli harga.

“Ketika rasa takut mulai menghilang dan FOMO dengan cepat mendominasi pembahasan di media sosial, trader sering kali baru masuk pasar saat reli harga sudah berlangsung cukup jauh,” tulis Santiment.

Menurut perusahaan analitik tersebut, kondisi itu meningkatkan risiko terbentuknya puncak harga jangka pendek, aksi ambil untung, hingga lonjakan volatilitas secara tiba-tiba.

Meski begitu, Santiment menegaskan kondisi ini belum tentu menandakan reli Bitcoin telah berakhir.

Namun, profil risiko pasar dinilai kini jauh lebih tinggi dibanding beberapa pekan lalu ketika mayoritas investor masih berada dalam fase panik.

Pada perdagangan terbaru, harga Bitcoin berada di sekitar USD 81.000 atau naik sekitar 7,5% dalam tujuh hari terakhir dan melonjak 18% dalam sebulan terakhir.

Bitcoin bahkan sempat menyentuh level USD 82.000 pada 6 Mei 2026, tertinggi dalam tiga bulan terakhir sebelum akhirnya terkoreksi tipis.

Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin bergerak di kisaran USD 80.800 hingga USD 82.800 menurut data CoinGecko.

Bitcoin Perlu Tembus USD 89.000 untuk Konfirmasi Tren

Meski harga Bitcoin terus menguat, tidak semua analis melihat pemulihan ini sebagai sinyal bullish yang sepenuhnya aman.

Analis dari Bitfinex menilai reli menuju USD 80.000 masih bisa menyesatkan dan pasar belum benar-benar siap untuk melanjutkan kenaikan lebih tinggi.

Sementara itu, sejumlah trader kini fokus memantau apakah Bitcoin mampu kembali menembus area harga tertentu yang sebelumnya menjadi titik kerugian investor lama pada akhir 2025 hingga awal 2026.

Pengamat pasar IT Tech mengatakan Bitcoin perlu menembus level sekitar USD 89.000 dan bertahan di atas area tersebut sebelum tren pemulihan yang lebih kuat dapat dikonfirmasi.

Menurut dia, terdapat sejumlah zona harga antara USD 89.000 hingga USD 112.000 yang berpotensi memicu tekanan jual baru.

Pasalnya, banyak investor yang sebelumnya terjebak di area harga tersebut kemungkinan akan memilih keluar dari pasar begitu harga kembali pulih.

Kondisi itu membuat pasar Bitcoin diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat meski sentimen investor saat ini kembali membaik.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |