Chairman Strategy Michael Saylor Ungkap Alasan Melepas Bitcoin

23 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Strategy, perusahaan perbendaharaan kripto terbesar di dunia akan menjual bitcoin (BTC). Langkah Strategy ini dilakukan untuk mendanai dividen saham preferen abadi dengan imbal hasil tinggi atau STRC.

Mengutip the block, ditulis Rabu (6/5/2026), saat konferensi kinerja keuangan 2026, eksekutif Strategy menyoroti keberhasilkan pesat STRC dan fleksibilitas perusahaan yang lebih besar dalam mengelola neraca keuangan. Hal ini termasuk kemampuan untuk membayar dividen dengan menjual bitcoin sambil terus meningkatkan kepemilikan bitcoin secara keseluruhan.

Chairman Strategy Michael Saylor menuturkan, posisi perusahaan saat ini membutuhkan apresiasi bitcoin sebesar 2,3% per tahun supaya kepemilikan yang ada dapat menutupi kewajiban dividen STRC tanpa batas waktu, tanpa menjual saham biasa apapun.

Saylor menjelaskan, perusahaan dapat segera menghentikan penjualan saham biasa MSTR dan mendanai dividen melalui penjualan bitcoin. Pendekatan ini pada akhirnya akan membantu Strategy membeli lebih banyak bitcoin ketimbang yang dijualnya untuk menutupi dividen STRC-nya yang telah mengumpulkan USD 8,5 miliar sejak diluncurkan.

“Kami mungkin akan menjual sebagian bitcoin untuk mendanai dividen, hanya untuk mengantisipasi pasar,” kata dia.

Sementara itu, Michael Saylor berulang kali menegaskan kalau perusahaanya tidak akan pernah menjual bitcoin, menjadikan pesan itu sebagai bagian inti dari Strategy sebagai pemegang bitcoin korporat utama.

“Kami akan menjual bitcoin ketika itu menguntungkan perusahaan. Kami tidak akan hanya duduk diam dan mengatakan kami tidak akan pernah menjual bitcoin,” ujar CEO Strategy, Phong Le.

“Kami ingin menjadi aggregator bersih bitcoin, meningkatkan total bitcoin, tetapi yang lebih penting, meningkatkan bitcoin per saham kami,” ujar dia.

Kepemilikan Bitcoin oleh Strategy

Strategy saat ini memegang 818.334 bitcoin, sekitar 3,9% dari total pasokan bitcoin. Nilainya mencapai USD 66,5 miliar atau Rp 1.157 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.410).

Pada kuartal pertama, Strategy mengakuisisi 89.599 bitcoin dan membeli 56.235 bitcoin lagi pada awal kuartal kedua.

Sementara itu, pada kuartal pertama, Strategy melaporkan kerugian operasional sebesar USD 14,5 miliar atau Rp 252,37 triliun. Hal itu terutama disebabkan oleh penyesuaian nilai pasar terkait pergerakan harga bitcoin selama kuartal tersebut. Perusahaan mencatatkan kerugian bersih sebesar USD 12,5 miliar atau Rp 217,56 triliun.

Pimpinan Strategy mengatakan, perusahaan akan menggandakan nilai bitcoin per saham dalam tujuh tahun melalui strategi “kredit digital” yang dipimpin STRC.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Strategy Hentikan Sementara Beli Bitcoin Jelang Laporan Kinerja

Sebelumnya, jeda yang dilakukan salah satu pembeli bitcoin (BTC) paling agresif yakni Strategy Inc menimbulkan pertanyaan di pasar kripto. Hal ini mengingat Strategy Inc cukup aktif beli bitcoin terutama pada bulan lalu.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (5/5/2026), selama berbulan-bulan, investor telah terbiasa dengan ritme yang dapat diprediksi yakni sinyal, beli dan ulangi. Konsistensi itu menjadikan Strategy, perusahaan milik Michal Saylor sebagai indikator permintaan bitcoin oleh institusi. Setiap pembelian dipantau secara cermat sebagai peristiwa yang menggerakkan pasar.

Jadi, ketika jeda pembelian itu terjadi pekan lalu, perhatian dengan cepat beralih dari bitcoin ke hal lain mengenai waktu, struktur, dan aturan yang mengatur perusahaan perusahaan publik.

Strategy telah membangun salah satu strategi akumulasi bitcoin paling agresif di pasar keuangan sehingga menjadikan pemegang bitcoin terbesar untuk korporasi. Strategy memiliki 818.334 BTC dengan rata-rata pembelian USD 75.537 atau Rp 1,31 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.390).

Perkuat Posisi

Seiring waktu ada 100 aksi beli yang dilakukan Strategy sehingga memperkuat posisi sebagai pembeli institusi yang dominan. Bahkan dalam beberapa minggu terakhir, kecepatan aksi tetap agresif. Strategy membeli 34.164 BTC senilai USD 2,54 miliar atau Rp 44,17 triliun pada April. Kemudian berlanjut pembelian sebanyak 3.273 BTC sekitar USD 255 juta atau Rp 4,43 triliun. Namun, 3 Mei 2026, pol aitu berubah.

“Tidak ada pembelian (pekan lalu-red). Kembali bekerja,” tulis Saylor di platform X, dahulu bernama Twitter.

Hal ini menandai jeda dalam siklus akumulasi mingguan perusahaan yang dipantau ketat.

Meskipun beberapa orang awalnya melihat jeda tersebut sebagai perubahan sentimen, penjelasannya jauh lebih struktural.

Alasan sebenarnya: kepatuhan.Perusahaan publik biasanya dibatasi untuk membuat keputusan perdagangan besar sebelum rilis pendapatan karena aturan seputar informasi nonpublik material (MNPI).

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |