UBS Jajaki Investasi Kripto untuk Nasabah Bank Swasta

1 month ago 26

Liputan6.com, Jakarta - UBS bakal menawarkan opsi investasi kripto kepada beberapa klien perbankan swasta. UBS sedang memilih mitra untuk penawaran kripto yang diusulkan.

Demikian mengutip Channel News Asia, ditulis Sabtu (24/1/2026), berdasarkan sumber Bloomberg, UBS awalnya akan mengizinkan klien terpilih dari bank swasta di Swiss untuk membeli dan menjual bitcoin dan ether. Layanan tersebut akan dapat diperluas ke pasar termasuk Asia-Pasifik dan Amerika Serikat.

“Sebagai bagian dari strategi aset digital UBS, kami secara aktif memantau perkembangan dan mengeksplorasi inisiatif yang mencerminkan kebutuhan klien, perkembangan peraturan, tren pasar dan kontrol risiko yang kuat,” ujar juru bicara UBS kepada Reuters.

“Kami menyadari pentingnya teknologi buku besar terdistribusi seperti blockchain yang mendasari aset digital,” demikian seperti dikutip.

Peningkatan fokus bank pada kripto sebagian merupakan respons terhadap meningkatnya permintaan aset digital dari klien kaya.

Tahun lalu, Bloomberg News melaporkan bahwa JPMorgan Chase sedang mempertimbangkan untuk menawarkan perdagangan mata uang kripto kepada klien institusionalnya, sementara Morgan Stanley mengatakan akan menawarkan perdagangan kripto di platform E*Trade mulai paruh pertama tahun ini.

Langkah seperti itu oleh UBS akan menandai langkah signifikan lainnya dalam adopsi aset digital yang lebih luas oleh institusi di Presiden AS Donald Trump, yang telah berjanji untuk menjadikan Amerika sebagai "ibu kota kripto dunia."

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Kapitalisasi Pasar Kripto Susut Rp 4.226 Triliun, Bagaimana Tren ke Depan?

Sebelumnya, pasar aset kripto mengalami tekanan besar setelah Bitcoin bergerak volatil dan sempat turun di bawah level USD 90.000 atau sekitar Rp 1,52 miliar (asumsi kurs Rp 16.923 per dolar AS). Kondisi ini terjadi di tengah ketidakjelasan terkait dugaan perubahan kapitalisasi pasar sebesar USD 250 miliar pada 2026 atau setara Rp 4.226 triliun, yang turut melibatkan sejumlah aset kripto seperti XMR dan HYPE.

Melansir Coinmarketcap, Jumat (23/1/2026), laporan mengenai pergeseran pasar tersebut masih menuai perdebatan. Sejumlah data justru menunjukkan adanya keuntungan signifikan, yang kembali menegaskan tingginya volatilitas pasar kripto serta dampak yang belum sepenuhnya dapat diprediksi terhadap harga Bitcoin maupun aset kripto lain yang kurang populer seperti XMR dan HYPE.

Sejumlah pihak terlibat, mulai dari analis ternama hingga pelaku industri yang memilih tetap anonim. Mereka memperkirakan volatilitas masih akan berlanjut dan menyoroti dinamika pasar yang tengah berlangsung. Turunnya Bitcoin ke bawah USD 90.000 mencerminkan perubahan sentimen investor serta kondisi pasar di tengah pergeseran tersebut.

Tom Lee, Analis, Fundstrat Global Advisors, mencatat, hal ini karena dinamika pasokan pasca-halving, bersama dengan meningkatnya adopsi institusional dan korporat, dapat mendorong Bitcoin ke USD 200.000, atau bahkan USD 250.000, pada akhir tahun.

Penyesuaian Strategi

Dampak langsung dari penurunan ini dirasakan cukup besar oleh investor dan industri kripto secara keseluruhan. Penyusutan kapitalisasi pasar memunculkan kekhawatiran terkait stabilitas, sehingga baik individu maupun pelaku usaha terus memantau perkembangan situasi ini dengan saksama.

Dalam konteks yang lebih luas, kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi pasar keuangan dan mendorong penyesuaian strategi investasi. Tingginya volatilitas membuat para pedagang bersikap lebih hati-hati, yang pada akhirnya dapat memengaruhi perilaku pasar serta tingkat kepercayaan investor terhadap aset kripto.

Pelaku pasar tetap siaga seiring fluktuasi harga yang turut berdampak pada volume perdagangan. Di sisi lain, lembaga pemerintah dan regulator kemungkinan akan mencermati perkembangan ini untuk mempertimbangkan langkah lanjutan, seiring pasar mengevaluasi kembali tingkat stabilitasnya.

Ke depan, potensi dampak finansial dapat mencakup peningkatan regulasi atau intervensi guna menjaga stabilitas pasar. Berdasarkan tren historis, pasar kerap menunjukkan pemulihan setelah mengalami penurunan tajam.

Sejumlah analis menilai koreksi di masa lalu dapat menjadi pijakan bagi pertumbuhan berikutnya, sehingga memberikan konteks terhadap fluktuasi yang terjadi saat ini.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |