Polisi Hong Kong Gagalkan Aksi Bakar Diri Investor Kripto

23 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Polisi Hong Kong menangkap seorang pria asal China daratan yang diduga berencana membakar dirinya sendiri setelah mengalami kerugian besar akibat investasi kripto.

Dikutip dari CoinMarketCap, Sabtu (16/5/2026), pria berusia 34 tahun bermarga Li itu diamankan di sebuah restoran McDonald’s di kawasan Admiralty. Polisi menemukan korek api dan cairan mudah terbakar yang dibawanya.

Menurut pihak berwenang, Li mengalami kerugian investasi mata uang kripto hingga 500 ribu yuan atau sekitar USD 76 ribu setara Rp 1,3 miliar (asumsi kurs Rp 17.000 per dolar AS).

Li diketahui mulai berinvestasi di sebuah platform perdagangan kripto sejak Februari hingga Mei 2026. Setelah mengalami kerugian besar, ia disebut berulang kali melayangkan keluhan kepada platform tersebut.

Pada 13 Mei 2026, Li tiba di Hong Kong. Keesokan harinya, staf platform investasi menyadari adanya unggahan yang memperlihatkan rencana perjalanan Li sekaligus indikasi niat untuk mengakhiri hidupnya.

Pihak platform kemudian melaporkan hal itu kepada Cybersecurity and Technology Crime Bureau Hong Kong. Aparat akhirnya berhasil melacak keberadaan Li di McDonald’s kawasan Admiralty sebelum aksi nekat itu terjadi.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Daftar Serius Kerugian Kripto

Dari hasil penyelidikan awal, polisi menemukan dua wadah berisi cairan mudah terbakar yang dibawa Li.

Petugas menduga Li awalnya berencana makan siang di restoran tersebut sebelum berjalan menuju Hong Kong Park untuk melakukan aksi bakar diri di ruang publik.

Beruntung, tidak ada korban luka maupun proses evakuasi dalam insiden tersebut karena polisi bergerak cepat mengamankan situasi.

Li kemudian ditangkap dengan tuduhan memiliki barang yang berpotensi digunakan untuk merusak atau menghancurkan properti. Kasus ini kini ditangani Unit Kejahatan Regional Pulau Hong Kong.

Kasus tersebut menambah daftar panjang dampak serius kerugian investasi kripto terhadap kondisi mental investor.

Sebelumnya, media Cryptopolitan juga melaporkan kematian seorang investor kripto berusia 32 tahun bermarga Chen pada awal 2026.

Chen disebut kehilangan sekitar USD 1,2 juta atau setara Rp 19,2 miliar akibat transaksi kripto yang gagal. Mahasiswa pascasarjana di Hong Kong itu dilaporkan melompat dari apartemen keluarganya setelah mengaku kepada sang ayah terkait kerugian tersebut.

Saat kejadian, Chen baru kembali dari Inggris untuk menjalani evaluasi medis.

Peningkatan Kasus Penipuan

Maraknya kerugian investasi digital juga diikuti peningkatan kasus penipuan daring terkait kripto.

Pada akhir April 2026 saja, lebih dari 80 kasus penipuan investasi online dilaporkan dalam satu pekan di Hong Kong. Total kerugian yang tercatat mencapai lebih dari HKD 80 juta atau sekitar USD 10,2 juta.

Di tingkat global, berbagai otoritas mulai meningkatkan upaya pemberantasan penipuan kripto. Namun, korban umumnya sulit mendapatkan kembali seluruh dana yang hilang.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) misalnya baru memulai proses kompensasi korban AirBit Club, skema piramida kripto berkedok penambangan mata uang virtual.

DOJ menyebut telah menyita aset senilai lebih dari USD 400 juta dari para pelaku yang divonis pada 2023. Namun, skema tersebut sudah berjalan bertahun-tahun sebelum akhirnya diproses hukum.

Sementara itu, laporan Internet Crime Report 2025 milik FBI mencatat lebih dari 181 ribu pengaduan terkait kripto dari warga Amerika Serikat dengan total kerugian melampaui USD 11 miliar.

Penipuan investasi menjadi penyumbang hampir 49% dari total kerugian akibat scam digital. FBI juga menyebut kelompok usia di atas 60 tahun menjadi korban terbesar dengan total kerugian mencapai USD 7,7 miliar.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |