Harga Bitcoin Betah Rp 1,4 Miliar saat Emas Sentuh Level USD 5.000, Ini Penyebabnya

2 months ago 78

Liputan6.com, Jakarta - Analis menilai meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian fiskal Amerika Serikat (AS) mendorong dana masuk ke emas ketimbang pasar kripto. Hal ini juga ditunjukkan dari pergerakan bitcoin (BTC) yang sideways sedangkan emas mencapai level psikologis USD 5.000 per troy ounce.

Berdasarkan data Coinmarketcap.com, Selasa (27/1/2026) pukul 16:56 WIB, harga bitcoin naik 0,30% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin merosot 3,43%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 87.767 atau Rp 1,47 miliar (asumsi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat 16.780).

Sementara itu, Ethereum (ETH) mendaki 0,73% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga Ethereum terpangkas 6,05%. Kini, harga ETH berada di posisi USD 2.903 atau Rp 48,70 juta. Kapitalisasi pasar kripto dalam 24 jam terakhir naik 0,2% menjadi USD 2,98 triliun atau Rp 49.992 triliun.

Di sisi lain, harga emas telah melampaui level psikologi USD 5.000 per troy ounce. Lonjakan ini didorong oleh aksi borong bank sentral, ketegangan geopolitik dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Selama setahun terakhir, harga emas telah naik 83%.

Financial Expert Ajaib Panji Yudna menuturkan, berbanding terbalik, bitcoin bergerak menyamping (sideways) di kisaran USD 87.000-USD 88.000. “Bitcoin kini tertinggal jauh dengan penurunan sekitar 17% secara year over year dan terkoreksi 30% dari puncaknya pada Oktober USD 126.000,”  kata Panji dalam keterangan resmi, Selasa pekan ini.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Fase Konsolidasi

Data CryptoQuant menunjukkan pemegang bitcoin jangka panjang mulai menjual aset mereka dalam kondisi rugi untuk pertama kali sejak Oktober 2023.

"Pola ini biasanya mengindikasikan fase konsolidasi yang berkepanjangan,” kata dia.

Dari sisi makro, tekanan terhadap aset berisiko semakin kompleks seiring dengan merosotnya indeks dolar Amerika Serikat (DYX) ke level terlemah sejak 18 September. Pelemahan dolar AS ini secara unik dipicu oleh langkah kolaboratif antara US Federal Reserve dan Bank of Japan yang melakukan intervensi pasar untuk mendongkrak nilai tukar yen terhadap greenbank.

“Meskipun dolar AS melemah yang biasanya menguntungkan aset keras likuiditas saat ini lebih memilih mengalir ke emas akibat meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian fiskal AS ketimbang ke pasar kripto,” kata dia.

Strategy Menambah 14.910 Bitcoin Sejak Awal 2026

Sebelumnya, Michael Saylor kembali mengisyaratkan pembelian bitcoin (BTC) lainnya oleh Strategy. Sinyal ini beberapa hari setelah perusahaan itu mengungkapkan pembelian senilai USD 1,25 miliar atau Rp 21,12 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.900). Dengan demikian, kepemilikan bitcoin menjadi lebih dari 687.000 BTC.

Mengutip Yahoo Finance, Senin (19/1/2026), dalam sebuah unggahan di platform X pada Minggu, Saylor membagikan tangkapan layar dari StrategyTracker yang menunjukkan harga bitcoin bersama dengan penanda untuk pembelian perusahaan pada masa lalu dengan keterangan “Bigger Orange”. Saylor telah memakai unggahan serupa pada masa lalu untuk memberi sinyal pembelian yang akan datang, biasanya sebelum mengungkapkan secara resmi.

Strategy memulai tahun ini dengan pembelian 1.283 BTC senilai USD 115,97 juta atau Rp 1,96 triliun pada 4 Januari 2026. Kemudian diikuti dengan pembelian jauh lebih besar yaitu 13.627 BTC senilai USD 1,25 miliar atau Rp 21,12 triliun pada 11 Januari.

Pembelian Bitcoin

Berdasarkan StrategyTracker, perusahaan itu telah menambahkan 14.910 BTC sejak awal 2026.

Perusahaan tersebut sekarang memegang 687.410 BTC dengan harga pembelian rata-rata USD 75.353 atau Rp 1,27 miliar per koin. Dengan harga Bitcoin yang diperdagangkan di sekitar USD 90.000-an atau Rp 1,52 miliar, posisi tersebut tetap menguntungkan di atas kertas.

Namun, perdagangan ini tidak lepas dari tekanan di tempat lain.

Saham Strategy telah tertinggal selama setahun terakhir, dengan harga saham turun tajam dari level tertinggi sebelumnya. Perusahaan telah mendanai pembelian melalui berbagai instrumen penggalangan modal, termasuk penjualan obligasi konversi, sebuah struktur yang dapat meningkatkan leverage sambil menjaga biaya tunai relatif rendah.

Bitcoin diperdagangkan sedikit di atas USD 92.600 pada jam perdagangan pagi Asia pada Senin, turun 2,6% dalam 24 jam terakhir karena perselisihan tarif AS-Eropa menekan aset berisiko.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |