Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah sejak Trump Kembali Jadi Presiden

2 months ago 63

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin jatuh ke level terendah sejak Donald Trump kembali memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat lebih dari setahun lalu. Penurunan ini menghapus hampir seluruh kenaikan yang sempat dibukukan aset kripto terbesar tersebut sejak kemenangan presiden AS yang dikenal ramah terhadap industri kripto.

Bitcoin melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung hampir empat bulan. Harga sempat turun di bawah USD74.424,95, yang menjadi level terendah sepanjang 2025. Harga tersebut terakhir terlihat pada 7 April, ketika rencana tarif awal Trump mengguncang pasar keuangan global.

“Banyak trader mencoba memanfaatkan penurunan harga dengan harapan Bitcoin bisa kembali naik ke atas USD80.000. Namun, ketika harga Bitcoin terus melemah, banyak posisi tersebut akhirnya dilikuidasi dan justru menekan harga lebih dalam," dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (4/2/2026).

Pada perdagangan Selasa waktu New York, Bitcoin sempat anjlok hingga 7 persen ke level USD72.877, terendah sejak 6 November 2024. Namun, harga sempat memangkas penurunan dan diperdagangkan di kisaran USD75.800 pada awal perdagangan Asia, Rabu. Secara year to date, Bitcoin tercatat turun sekitar 13 persen.

Likuidasi dan Tekanan Pasar Global

Meski Gedung Putih kini dipimpin presiden pro-kripto dan adopsi institusional terus meningkat, harga Bitcoin telah merosot sekitar 40 persen sejak mencetak rekor tertinggi pada awal Oktober. Kejatuhan ini dipicu gelombang likuidasi besar pada 10 Oktober lalu, setelah komentar tambahan Trump soal tarif memicu aksi jual.

Peristiwa tersebut menghapus sekitar USD19 miliar posisi kripto berbasis leverage, dan pasar belum sepenuhnya pulih hingga kini. Tekanan terbaru Bitcoin juga terjadi di tengah gejolak pasar global.

Pada akhir pekan lalu, pasar logam mulia sempat mengalami penurunan tajam setelah reli spektakuler. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi dari level mendekati rekor akibat aksi jual saham teknologi. Di sisi lain, harga emas dan perak kembali menguat, sementara minyak melonjak seiring meningkatnya risiko geopolitik.

Untuk Bitcoin, pasar derivatif mengindikasikan potensi pelemahan lanjutan, karena belum terlihat katalis positif yang signifikan dalam waktu dekat.

Sentimen Kripto di Titik Terendah

Data dari CME dan Coinglass menunjukkan open interest atau jumlah kontrak berjangka kripto yang masih terbuka anjlok tajam sepanjang akhir pekan. Sementara itu, funding rate untuk kontrak berjangka perpetual—yang mendominasi volume perdagangan kripto—berbalik negatif, menandakan meningkatnya minat terhadap posisi bearish.

“Sentimen pasar kripto kini berada di titik terendah. Volatilitas akhirnya meningkat setelah bergerak turun selama hampir setahun, seiring para pelaku pasar berebut melakukan lindung nilai, dengan kondisi pasar yang sudah berada dalam mode bearish.”

Tekanan juga terlihat di pasar altcoin. MarketVector Digital Assets 100 Small-Cap Index yang melacak 50 aset kripto kecil anjlok hampir 70 persen dalam setahun terakhir. Altcoin secara umum tertinggal dibanding Bitcoin dan Ether sejak kedua aset tersebut mendapat persetujuan produk ETF di AS.

“Bitcoin masih diperdagangkan layaknya aset berisiko tinggi, bukan sebagai emas digital. Itu bukan berarti tesis Bitcoin telah gagal—melainkan menunjukkan bahwa posisinya sebagai emas digital belum sepenuhnya terbentuk.”

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |