Changpeng Zhao Tegaskan Binance Bukan Biang Kerok Kejatuhan Pasar Kripto

2 months ago 67

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri sekaligus mantan CEO Binance, Changpeng Zhao, membantah tuduhan bahwa bursa kripto terbesar di dunia itu menjadi penyebab kejatuhan besar pasar kripto pada Oktober tahun lalu. Ia menyebut klaim tersebut tidak realistis dan bahkan menuding adanya “serangan berbayar” yang menyasar Binance.

Dikutip dari Coinmarketcap, Sabtu (31/1/2026), Changpeng Zhao menyampaikan hal itu dalam sesi tanya jawab di platform media sosial milik Binance. Ia menolak anggapan bahwa perusahaannya memicu gelombang penutupan posisi paksa (likuidasi) saat trader mengalami error sistem dan masalah harga di platform.

Setelah insiden tersebut, Binance diketahui membayar kompensasi sekitar USD 600 juta kepada nasabah dan perusahaan trading yang terdampak.

“Ada kelompok besar yang mengklaim crash 10 Oktober disebabkan oleh Binance dan ingin Binance mengganti semuanya,” kata Changpeng Zhao.

“Jika Anda hidup dalam dunia versi Anda sendiri seperti itu, kecil kemungkinan Anda akan sukses di masa depan,” ungkapnya.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Diawasi oleh Otoritas

CZ — sapaan Changpeng Zhao — juga menegaskan Binance beroperasi di bawah pengawasan regulator Abu Dhabi, sehingga operasional perusahaan dapat ditinjau otoritas setempat. Ia menambahkan pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) juga memantau platform tersebut melalui mekanisme pengawasan khusus.

Zhao mundur dari jabatan pimpinan pada November 2023 setelah mengaku bersalah dalam kasus terkait lemahnya kontrol anti pencucian uang. Kesepakatan hukum saat itu mewajibkan Binance menunjuk pengawas kepatuhan independen. Presiden Donald Trump kemudian memberikan pengampunan kepada Zhao pada Oktober 2025.

Laporan September 2025 menyebut Binance berpotensi mencapai kesepakatan dengan Departemen Kehakiman AS untuk mengakhiri kewajiban pengawasan tersebut.

Likuidasi Terbesar dalam Sejarah Kripto

Pada 10 Oktober, pasar kripto mencatat likuidasi posisi leverage senilai sekitar USD 19 miliar — menjadi yang terbesar sepanjang sekitar 16 tahun sejarah industri kripto. Sejumlah pengamat pasar, termasuk Don Wilson dari DRW, mengkritik beberapa platform kripto karena dinilai tidak bertindak netral saat gejolak terjadi.

Changpeng Zhao menegaskan nasabah Binance yang mengalami kerugian akibat gangguan platform telah menerima penggantian penuh. Binance menyalurkan dana pemulihan sebesar USD 400 juta, terdiri dari USD 300 juta untuk trader ritel yang terdampak likuidasi besar dan USD 100 juta untuk klien institusi yang mengalami tekanan likuiditas.

Dalam sesi tersebut, Zhao juga menyinggung adanya kampanye negatif terorganisir terhadap dirinya dan Binance.

Ia menyebutnya sebagai serangan internet berbayar dan mengingatkan pengguna agar waspada terhadap akun baru dengan sedikit pengikut yang menyebarkan informasi palsu. Ia juga memperingatkan pemilik akun besar agar tidak menerima bayaran untuk menyebarkan serangan, karena dapat merusak reputasi dalam jangka panjang.

Pandangan Soal Bitcoin dan Transparansi Binance

Changpeng Zhao juga membagikan pandangannya soal peluang Bitcoin memasuki fase supercycle. Ia mengaku sebelumnya cukup yakin, namun kini lebih berhati-hati karena meningkatnya ketegangan global dan ketidakpastian ekonomi.

Ia menyinggung percakapannya dengan pendukung emas, Peter Schiff.

Menurut Zhao, Bitcoin memiliki teknologi yang lebih baik dibanding emas, tetapi belum memiliki tingkat penerimaan global yang sama seperti emas yang telah dibangun selama ratusan tahun.

Ia juga menyoroti sistem proof-of-reserves Binance yang memungkinkan pengguna memeriksa cadangan aset secara terbuka. Zhao mencontohkan pada Desember 2022, Binance mampu memproses penarikan lebih dari USD 15 miliar dalam tujuh hari — termasuk sekitar USD 7 miliar dalam satu hari — tanpa menghentikan operasional platform.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |