Ambisi Trump Terkait Greenland Guncang Pasar Global, Bitcoin Ikut Terpukul

4 weeks ago 26

Liputan6.com, Jakarta - Ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland kembali memicu ketegangan geopolitik global. Wacana pengambilalihan wilayah otonom milik Denmark itu menimbulkan kekhawatiran luas, tidak hanya di Eropa, tetapi juga di pasar keuangan dunia. Pernyataan Trump dinilai membuka kembali risiko konflik terbuka di kawasan strategis Arktik.

Mengutip Cointelegraph.com, dalam pidatonya di forum ekonomi dunia di Davos, Trump menyampaikan alasan geopolitik di balik ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland. Ia menilai wilayah tersebut penting sebagai penyangga pengaruh Rusia dan China di kawasan Arktik yang kian strategis secara militer dan ekonomi. Namun, narasi tersebut memantik reaksi keras dari negara-negara sekutu AS.

Greenland sendiri merupakan wilayah otonom di bawah kedaulatan Denmark. Upaya pengambilalihan, terlebih dengan ancaman kekuatan militer, dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Apalagi Denmark merupakan anggota NATO, aliansi pertahanan yang juga diikuti Amerika Serikat.

Ketegangan meningkat ketika Trump sempat melontarkan kemungkinan penggunaan tarif dan tekanan ekonomi terhadap negara-negara yang menentang rencananya. Retorika tersebut dinilai agresif dan berpotensi menyeret negara-negara Barat ke dalam konflik kepentingan internal.

Meski Trump akhirnya menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer, para analis menilai kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi. Pasar global menangkap sinyal ketidakpastian baru, terutama terkait stabilitas hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya sendiri.

Reaksi Eropa dan Retaknya Hubungan Sekutu Barat

Penolakan keras datang dari Eropa, terutama dari Prancis. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka mempertanyakan langkah Trump terkait Greenland. Pernyataan Macron mencerminkan kegelisahan Eropa terhadap pendekatan unilateral Washington yang dinilai semakin konfrontatif.

Uni Eropa juga merespons dengan langkah konkret. Sejumlah pembahasan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat ditangguhkan, termasuk proposal yang sebelumnya bertujuan menurunkan tarif impor produk Eropa ke pasar AS. Keputusan ini mempertegas bahwa isu Greenland telah meluas menjadi konflik kepercayaan antarblok ekonomi.

Di Parlemen Eropa, suara penolakan terhadap tekanan AS semakin menguat. Ancaman tarif tambahan dari Washington dianggap sebagai bentuk pemaksaan politik yang tidak sejalan dengan semangat kerja sama transatlantik. Situasi ini memunculkan kembali wacana penggunaan instrumen balasan dagang oleh Uni Eropa.

Pasar Global Bergejolak, Bitcoin Ikut Tertekan

Ketegangan geopolitik akibat isu Greenland turut mengguncang pasar keuangan global. Investor cenderung bersikap hati-hati, merespons meningkatnya risiko konflik dan perang dagang. Pasar saham berfluktuasi, sementara aset-aset berisiko mengalami tekanan.

Di pasar kripto, Bitcoin justru menunjukkan pelemahan signifikan. Alih-alih berfungsi sebagai aset lindung nilai, Bitcoin bergerak seiring sentimen risk-off global. Harga Bitcoin tercatat turun tajam sejak retorika Trump terkait Greenland mencuat ke ruang publik.

Analis menilai situasi ini membuktikan bahwa Bitcoin masih sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan global. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung melepas aset berisiko, termasuk kripto, dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Tekanan terhadap pasar kripto juga diperparah oleh ketidakpastian regulasi dan keputusan sejumlah institusi besar yang menarik dukungan terhadap kebijakan ramah kripto. Isu Greenland menjadi faktor tambahan yang memperburuk sentimen investor.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |