Studi: Kapitalisasi Pasar Stablecoin Euro Mesat Setelah Rilis MiCA

2 months ago 31

Liputan6.com, Jakarta - Pasar stablecoin euro telah pulih sejak Peraturan Pasar Aset Kripto atau Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA) Uni Eropa (UE) ini diberlakukan dengan kapitalisasi pasar naik dua kali lipat. Hal ini setelah peraturan yang mengatur token tersebut diluncurkan pada Juni 2024.

Mengutip Yahoo Finance, Minggu (7/12/2025), laporan Tren Stablecoin Euro 2025 dari perusahaan pemrosesan pembayaran Decta yang berbasis di London menunjukkan potensi pergeseran nilai token, yang nilainya dipatok pada mata uang tunggal Eropa dan secara historis kesulitan mendapatkan daya tarik terhadap mata uang lain yang dipatok pada dolar AS.

Perubahan ini kontras dengan kontraksi 48% yang terjadi pada tahun sebelumnya, menurut laporan tersebut. Hal ini juga kontras dengan kenaikan 26% dalam total kapitalisasi pasar stablecoin.

Berdasarkan laporan itu juga menyebutkan, kapitalisasi pasar koin euro naik menjadi sekitar USD 500 juta atau Rp 8,32 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.650) pada Mei 2025. Hal ini terutama karena peningkatan kewajiban penerbit dan persyaratan cadangan wajib yang distandarisasi.

Saat ini, nilainya mencapai USD 680 juta atau Rp 11,3 triliun, menurut data yang dilacak oleh CoinGecko. Meskipun demikian, jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari USD 300 miliar atau Rp 4.995 triliun yang tersimpan dalam token yang dipatok dalam dolar AS, pasar yang didominasi oleh USDT Tether, sementara USDC Circle Internet (CRCL) berada di posisi kedua.

Pertumbuhan terutama terkonsentrasi pada beberapa token yang menonjol. EURS, yang diterbitkan oleh Stasis yang berbasis di Malta, mencatat kenaikan paling dramatis, melonjak 644% menjadi USD 283,9 juta pada Oktober 2025. EURC dan EURCV Circle Internet, dari SG-Forge milik Societe Generale, juga mencatat kenaikan signifikan.

Aktivitas Transaksi Stablecoin Euro

Aktivitas transaksi melonjak secara paralel. Volume euro-stablecoin bulanan naik hampir sembilan kali lipat setelah implementasi MiCA sebesar USD 3,83 miliar.

EURC dan EURCV termasuk di antara yang paling diuntungkan, dengan volume meningkat masing-masing sebesar 1.139% dan 343%, didorong oleh peningkatan penggunaan dalam pembayaran, peningkatan penggunaan mata uang fiat, dan perdagangan aset digital.

Kesadaran konsumen juga tampaknya meningkat. Decta menemukan lonjakan substansial dalam aktivitas pencarian di seluruh UE, termasuk pertumbuhan 400% di Finlandia dan 313,3% di Italia, dengan peningkatan yang lebih kecil tetapi stabil di pasar seperti Siprus dan Slowakia.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Stablecoin Meningkat Pesat, Bank Sentral Eropa Ingatkan Ini

Sebelumnya,  Bank Sentral Eropa atau the European Central Bank (ECB) memperingatkan ekspansi stablecoin yang pesat menimbulkan risiko stabilitas keuangan yang baru. Hal ini terutama karena keterkaitan dengan pasar global semakin mendalam. Namun, jangkauan stablecoin di kawasan euro masih terbatas.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (25/11/2025), temuan ini berasal dari laporan ECB berjudul “Stablecoins on the rise: still small in the euro area, but spillover risks loom yang disusun oleh Senne Aerts, Claudia Lambert dan Elisa Reinhold. Laporan ini mengkaji kerentanan struktural, kasus penggunaan dan risiko lintas batas yang terkait dengan percepatan ekosistem stablecoin.

Pasar Stablecoin

Menurut para penulis, kapitalisasi pasar gabungan semua stablecoin telah melonjak melampaui USD 280 miliar atau Rp 4.663 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.656). Kapitalisasi pasar ini mencapai rekor tertinggi sepanjang masa dan mencakup sekitar sekitar 8% dari total pasar aset kripto.

Dua stablecoin berdenominasi dolar AS mendominasi secara luar biasa. Tether (USDT) mencapai USD 184 miliar atau Rp 3.064 triliun dan USDC mencapai USD 75 miliar atau Rp 1.249 triliun.

Sebaliknya, stablecoin berdenominasi euro tetap tidak signifikan, hanya 395 juta euro atau Rp 7,58 triliun (asumsi euro terhadap rupiah di kisaran 19.207), menunjukkan ketidakseimbangan mata uang yang ekstrem di pasar. ECB mengaitkan lonjakan permintaan ini sebagian dengan kejelasan regulasi global, termasuk implementasi terbaru Peraturan Pasar Aset Kripto (MiCA) dan Undang-Undang GENIUS oleh Uni Eropa.

Risiko Stablecoin

Laporan ECB menekankan pasar stablecoin saat ini sebagian besar didorong oleh aktivitas perdagangan, alih-alih pembayaran di dunia nyata. Sekitar 80% aktivitas perdagangan di bursa kripto terpusat melibatkan stablecoin, menunjukkan perannya sebagai aset penyelesaian inti dalam keuangan kripto.

Meskipun stablecoin sering disebut sebagai alat pembayaran lintas batas atau penyimpan nilai di negara-negara dengan inflasi tinggi, ECB mencatat bukti terbatas tentang penggunaan konsumen yang luas. Hanya 0,5% volume stablecoin yang tampaknya merupakan transaksi ritel organik, menunjukkan adopsi di dunia nyata masih minim.

Para penulis memperingatkan stablecoin menghadapi kerentanan struktural yang besar, dengan peristiwa pelepasan nilai tukar (de-pegging) dan penarikan dana secara besar-besaran (redemption run) yang menimbulkan ancaman paling langsung.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |