Sindikat Perdagangan Manusia yang Pakai Pembayaran Kripto Melonjak 85%

6 days ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Pembayaran kripto kepada sindikat yang diduga terlibat perdagangan manusia melonjak 85% sepanjang 2025. Transaksi ratusan juta dolar Amerika Serikat terlacak di blockchain publik, menurut laporan terbaru dari perusahaan analitik blockchain asal Amerika Serikat, Chainalysis.

Melansir CNBC International, Rabu (18/2/2026), perusahaan tersebut menyebut sebagian besar aktivitas berkaitan dengan ekosistem kejahatan yang berkembang di Asia Tenggara. 

Di kawasan ini, kompleks penipuan (scam compounds), operasi judi online ilegal, serta jaringan pencucian uang berbahasa Mandarin disebut saling terhubung.

Dalam laporannya, Chainalysis mengelompokkan aktivitas kripto yang berkaitan dengan perdagangan manusia ke dalam tiga kategori utama, yakni layanan eskort internasional dan prostitusi, agen penempatan tenaga kerja yang merekrut korban ke kompleks penipuan, serta penjual materi pelecehan seksual anak atau child sexual abuse material (CSAM).

Meski data blockchain menunjukkan sebagian besar layanan terpusat di Asia Tenggara, pembayaran justru datang dari berbagai wilayah, termasuk Amerika Utara dan Selatan, Eropa, hingga Australia. Hal ini menunjukkan jangkauan operasi yang bersifat global.

Laporan tersebut juga menemukan pelaku kejahatan siber semakin memanfaatkan platform pesan seperti Telegram untuk mengiklankan layanan, merekrut korban, serta mengatur pembayaran.

“Terjadi pergeseran yang lebih luas dari forum darknet lama ke aplikasi pesan dan ekosistem Telegram yang semi-terbuka. Dikombinasikan dengan kripto, hal ini memungkinkan jaringan tersebut berkembang lebih cepat, menjalankan ‘layanan pelanggan’, dan memindahkan uang secara global dengan hambatan yang jauh lebih kecil,” kata analis intelijen Chainalysis, Tom McLouth.

Meski demikian, Chainalysis menekankan transparansi blockchain publik juga memberikan visibilitas yang belum pernah ada sebelumnya terhadap arus dana kriminal. Data tersebut dapat dimanfaatkan aparat dan lembaga pengawas untuk menelusuri serta mengganggu aktivitas ilegal.

“Intinya, skala keuangan yang sebenarnya sangat besar, setidaknya mencapai ratusan juta dolar AS dalam bentuk transaksi kripto, dan dampak kerugian fisiknya jauh berkali-kali lipat dibanding angka dolar mana pun,” ujar McLouth.

Jaringan Eskort dan Prostitusi

Analisis blockchain menunjukkan banyak transaksi dilakukan oleh jaringan yang terorganisir. Laporan tersebut menyebut, meskipun sebagian layanan eskort dan pekerja seks beroperasi secara legal di sejumlah negara, dugaan praktik perdagangan manusia dapat dikenali dari pola keuangan tertentu.

McLouth mengatakan jaringan yang dicurigai semakin banyak menggunakan stablecoin serta kelompok pencucian uang berbahasa Mandarin untuk mencairkan dana dengan cepat. Jaringan ini beroperasi terutama melalui kanal Telegram berbahasa Mandarin, yang membantu pelaku “membersihkan” dana ilegal melalui kripto.

Chainalysis memperkirakan layanan pencucian uang tersebut menyalurkan sedikitnya USD 16,1 miliar atau Rp 271,14 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.840) dana ilegal sepanjang 2025.

Data juga menunjukkan layanan eskort internasional berbasis kripto menyumbang porsi signifikan dari transaksi bernilai besar. Hampir setengah transaksi yang dilacak melebihi USD 10.000. Iklan yang ditinjau peneliti menawarkan paket perjalanan lintas negara, layanan “pendampingan” multi-hari, hingga paket VIP dengan harga di atas USD 30.000.

Menurut Chainalysis, ukuran dan konsistensi transfer tersebut, serta pola pembayaran berulang antar kelompok dompet kripto, menunjukkan operasi yang dikelola secara profesional, bukan individu yang berdiri sendiri.

Sementara itu, pembayaran kripto ke jaringan prostitusi yang dicurigai cenderung dalam jumlah lebih kecil, umumnya antara USD 1.000 hingga USD 10.000. Namun, pola transaksi tetap mengindikasikan aktivitas yang dikelola setingkat agensi.

Perekrut Tenaga Kerja dan Kompleks Penipuan

Kategori lain yang menonjol adalah agen penempatan tenaga kerja yang merekrut individu ke kompleks penipuan di Asia Tenggara. Kompleks ini dikenal menjalankan skema penipuan berbasis kripto.

Biaya perekrutan biasanya berkisar antara USD 1.000 hingga USD 10.000 dalam bentuk kripto, sesuai harga yang diiklankan di kanal Telegram.

Beberapa contoh yang disebutkan dalam laporan termasuk unggahan lowongan “customer service” atau “data entry” untuk pekerjaan di Kamboja atau Myanmar, dengan janji gaji bulanan tinggi dan biaya perjalanan ditanggung.

Setelah direkrut, korban diduga dipaksa menjalankan penipuan asmara, investasi kripto palsu, dan berbagai penipuan daring lain yang menyasar korban di luar negeri.

Dalam sejumlah percakapan Telegram yang dianalisis, perekrut membahas pengiriman pekerja lintas batas, pengurusan dokumen palsu, serta koordinasi pembayaran kepada perantara.

Chainalysis juga menemukan keterkaitan antara kanal perekrutan dan dompet kripto yang sebelumnya terhubung dengan platform judi ilegal serta layanan pencucian uang. Hal ini mengindikasikan aktivitas perdagangan manusia tersebut terhubung dengan jaringan kriminal yang lebih luas.

Skala kompleks ini sempat menjadi sorotan ketika Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan penyitaan bitcoin senilai sekitar USD 15 miliar saat itu dari pusat penipuan besar di Kamboja yang menjalankan skema penipuan asmara.

“Sejak akhir 2025 kami melihat peningkatan penegakan hukum terhadap bagian-bagian tertentu dari ekosistem ini, terutama kompleks penipuan. Namun, jaringan eksploitasi seksual dan perdagangan manusia yang mendasarinya sering kali tetap dapat beroperasi melalui infrastruktur alternatif, baik fisik maupun digital,” kata McLouth.

Jaringan CSAM

Chainalysis juga melacak jaringan yang terlibat dalam distribusi materi pelecehan seksual anak (CSAM). Jaringan ini menggunakan struktur pembayaran kripto yang berbeda, tetapi menunjukkan tingkat organisasi serta strategi keuangan dan distribusi yang semakin canggih.

Sekitar separuh transaksi kripto terkait CSAM bernilai di bawah USD 100. Namun, angka tersebut mencerminkan pembayaran individu dalam model langganan di grup obrolan privat dan kanal berbagi file terenkripsi.

Pelacak blockchain itu juga mengamati dana tersebut berpindah dari kripto arus utama ke aset yang berfokus pada privasi seperti Monero, serta ke layanan pertukaran instan tanpa verifikasi identitas.

Laporan tersebut juga mencatat adanya irisan antara layanan langganan CSAM dan komunitas “sadistic online extremism”.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |