Mengenal Stablecoin: Pengertian hingga Potensi Pemakaian

5 days ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Anda berkecimpung di dunia kripto, istilah stablecoin sudah tidak asing lagi. Apalagi stablecoin kini makin populer dan analis prediksi tren pengelola stablecoin tether akan meningkat. Seiring tren itu juga, tether diprediksi akan melampaui bitcoin (BTC).

Senior Commodity Strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone mengatakan, tren paling tahan lama di kripto bukan token spekulatif tetapi dominasi tether yang semakin meningkat. "Tether pada akhirnya akan melampaui bitcoin,” ujar dia seperti dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (18/2/2026).

Tether terus meningkat, dan melampaui kripto lainnya dalam kapitalisasi pasar. McGlone menuturkan, stablecoin USDT Tether telah melampaui sebagian besar altcoin. Hanya Ethereum (ETH) dan bitcoin (BTC) yang masih unggul.

Pada 13 Februari 2026, kapitalisasi pasar USDT mencapai USD 184,6 miliar atau Rp 3.108 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.840.).

Untuk memberikan gambaran, total kapitalisasi pasar stablecoin adalah USD 307,1 miliar atau Rp 5.710 triliun, dan stablecoin yang berada di urutan kedua setelah USDT adalah USDC milik Circle dengan nilai USD 73,2 miliar atau Rp 1.232 triliun.

Signifikansinya bukan tentang apresiasi harga, tetapi tentang pertumbuhan pasokan dan posisi modal. Ketika kapitalisasi pasar stablecoin meningkat sementara aset berisiko melemah, hal itu sering kali menandakan perilaku defensif.

Seiring tren terhadap stablecoin meningkat, lalu apa itu stablecoin? Hal ini mungkin mengusik pikiran Anda terutama yang belum berkecimpung di kripto.

Mengutip laman am.jpmorgan.com, secara teoril, stablecoin bertujuan menawarkan manfaat kripto, transaksi berkecepatan tinggi, berbiaya rendah dan terdesentralisasi dengan stabilitas aset tradisional.

Pengertian Stablecoin

Stablecoin merupakan kripto yang nilainya dirancang agar stabil. Kripto ini biasanya dipatok dengan mata uang fiat seperti dolar AS.

Secara teori, stablecoin bertujuan untuk menawarkan manfaat kripto, transaksi berkecepatan tinggi, berbiaya rendah, dan terdesentralisasi dengan stabilitas aset tradisional.

“Namun terlepas dari janjinya, stablecoin telah berada di pinggiran sistem keuangan arus utama, sebagian besar karena kurangnya kerangka peraturan yang komprehensif,” tulis Global Market Strategist Jack Manley dikutip dari laman am.jpmorgan.com.

Undang-Undang GENIUS, setelah disetujui oleh Senat AS, berupaya memperbaiki hal ini. Jika disahkan menjadi undang-undang, Undang-Undang tersebut akan memberlakukan cadangan 1:1 dalam aset likuid berkualitas tinggi seperti surat utang pemerintah dan deposito Federal Reserve, mewajibkan program anti pencucian uang, melarang pembayaran bunga, dan mewajibkan audit berkala.

"Akibatnya, stablecoin memiliki legitimasi baru. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi apa yang dilakukan stablecoin dan dampak yang mungkin ditimbulkannya pada lanskap investasi," ujar Jack.

Potensi Pemakaian Stablecoin

Potensi penggunaan stablecoin sangat beragam, tetapi dapat diringkas menjadi tiga kategori:

Alternatif penyimpanan nilai bank: Stablecoin menawarkan cara untuk menyimpan uang tunai sekaligus mengurangi ketergantungan pada lembaga perbankan. Namun, karena stablecoin USD diduga dilarang membayar bunga, daya tariknya dibandingkan dengan deposito, deposito berjangka, atau dana pasar uang terbatas, terutama bagi penabung di negara-negara dengan mata uang yang tidak stabil atau inflasi yang tak terkendali.

Pembayaran lintas batas: Stablecoin memungkinkan individu dan perusahaan untuk mentransfer aset dengan cepat dan murah antar wilayah, bahkan di luar jam kerja. Selain itu, sifatnya yang "dapat diprogram", mengotomatiskan transaksi untuk dieksekusi ketika kondisi terpenuhi dapat menyederhanakan proses seperti pembayaran kepada vendor. Semua ini terjadi dengan jejak digital yang tidak dapat diubah, mengurangi potensi penipuan atau kesalahan.

Meningkatkan akses ke pasar berbasis blockchain: Stablecoin menghilangkan risiko mata uang yang melekat dalam bertransaksi dengan token yang volatil seperti Bitcoin, memungkinkan pengguna untuk membeli aset digital dengan dolar digital.

Bukan Investasi

Namun, Jack menuturkan, stablecoin bukanlah investasi. Nilainya dirancang untuk tetap konstan, menghilangkan prospek keuntungan modal; dan perannya berlandaskan pada transaksi, bukan penciptaan kekayaan. “Meskipun demikian, potensi dampaknya pada dunia investasi jauh dari dapat diabaikan,” kata Jack.

Pertama, stablecoin dapat mengurangi daya tarik mata uang kripto lainnya. Banyak pengguna yang tertarik pada aset seperti Bitcoin untuk pembayaran kini dapat bertransaksi dengan stablecoin, tanpa volatilitas dan dengan peningkatan pengamanan regulasi. Pada 2024, volume transfer stablecoin melebihi USD 28 triliun, melampaui gabungan Visa dan Mastercard, sebuah tanda kasus penggunaan di dunia nyata semakin populer.

Kedua, penerbit stablecoin, yang diharuskan untuk menyimpan cadangan dalam aset likuid berkualitas tinggi seperti obligasi pemerintah jangka pendek, dapat menjadi sumber permintaan yang meningkat untuk utang pemerintah AS. Kapitalisasi pasar stablecoin telah meningkat hingga hampir 5% dari pasar obligasi pemerintah jangka pendek yang beredar, dan pangsa tersebut dapat meningkat lebih lanjut, terutama jika adopsi asing meningkat. Hal ini dapat sedikit mendukung permintaan obligasi pemerintah, membantu membatasi imbal hasil pada saat penerbitan diperkirakan akan tetap tinggi.

“Secara keseluruhan, meskipun stablecoin tidak akan menjadi perdagangan besar berikutnya, stablecoin memiliki potensi untuk mendefinisikan kembali infrastruktur di balik keuangan global,” kata Jack.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |