Perang Stablecoin Memanas, Siapa Mendominasi di 2026?

2 months ago 60

Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto saat ini tengah diramaikan oleh satu isu utama, yakni persaingan stablecoin. Selama hampir satu dekade, USDT besutan Tether menjadi pemimpin tak terbantahkan, menyediakan sebagian besar likuiditas untuk perdagangan kripto global. Stablecoin ini berperan layaknya “mata uang penghubung” yang digunakan luas, mulai dari transaksi harian pengguna ritel hingga eksekusi order bernilai jutaan dolar oleh pelaku bisnis besar.

Dikutip dari coinmarketcap, Selasa (16/12/2025), namun memasuki 2026, peta persaingan mulai berubah. Kehadiran pemain besar Wall Street menandai fase baru yang kerap disebut sebagai Stablecoin Wars. Keseimbangan kekuatan perlahan bergeser, memunculkan pertanyaan besar: apakah Tether masih mampu mempertahankan dominasinya, atau justru akan tergeser oleh institusi keuangan mapan?

Meski kerap disorot terkait transparansi cadangan asetnya, Tether justru menunjukkan performa keuangan yang solid. Perusahaan ini mencatat laba tinggi berkat investasinya pada obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Bitcoin. Di sisi lain, posisi Tether yang berada di luar yurisdiksi langsung Amerika Serikat masih memicu kekhawatiran investor tradisional.

Selama bertahun-tahun, tuntutan audit penuh terus bergema. Namun hingga kini, pengawasan regulasi yang benar-benar ketat terhadap Tether masih belum terwujud. Meski demikian, kekuatan utama USDT tetap sulit disaingi, yakni likuiditas yang sangat besar dan dominasi sebagai pasangan perdagangan utama di berbagai bursa kripto.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Masa Depan Tether

Menyadari tantangan tersebut, Tether tidak tinggal diam. Perusahaan ini mulai mendiversifikasi sumber pendapatan, termasuk berinvestasi di berbagai sektor, meluncurkan operasi penambangan Bitcoin, hingga mendukung pengembangan bisnis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Langkah ini bertujuan memastikan masa depan Tether tidak hanya bergantung pada stablecoin semata.

Di sisi lain, persaingan datang dari USDC yang diterbitkan oleh Circle. Berbeda dengan Tether, USDC mengedepankan kepatuhan terhadap hukum Amerika Serikat dan secara rutin mempublikasikan hasil audit cadangan asetnya. Pendekatan ini membuat USDC menjadi pilihan favorit bagi institusi dan perusahaan yang menempatkan kepatuhan regulasi sebagai prioritas utama.

Dalam dua tahun terakhir, Circle aktif memperluas jangkauan bisnisnya, khususnya di Asia, serta menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan besar dan regulator. Meski sempat menghadapi tekanan saat krisis perbankan 2023, USDC kini dikenal sebagai stablecoin yang “ramah regulator”.

Reputasi tersebut menjadi aset penting dalam ekosistem ekonomi digital masa depan, terutama ketika adopsi aset kripto oleh institusi semakin meluas.

Peta Persaingan

Peta persaingan stablecoin semakin kompleks dengan masuknya raksasa Wall Street. Pada 2023, PayPal meluncurkan PYUSD yang menyasar pasar ritel dan kebutuhan remitansi. Setahun kemudian, BlackRock ikut meramaikan persaingan lewat peluncuran BUIDL, produk pasar uang ter-tokenisasi berbasis Ethereum.

Bagi investor dari ekonomi tradisional, stablecoin yang didukung institusi besar menawarkan kombinasi ideal: regulasi jelas, kepercayaan tinggi, dan likuiditas kuat. Kehadiran mereka bukan sekadar ikut bermain di pasar kripto, melainkan berpotensi menulis ulang aturan main.

Menuju 2026, pasar kripto tampak bergerak ke dua arah. Pertama, perdagangan kripto lepas pantai yang masih didominasi USDT berkat likuiditas dan familiaritas. Kedua, ekosistem institusional yang mencakup aset ter-tokenisasi, bursa teregulasi, dan operasi korporasi, di mana USDC, BUIDL, dan PYUSD mulai unggul.

Jika arus likuiditas terus mengalir ke platform yang teregulasi, pengaruh Tether bisa perlahan menyusut. Namun, jika semangat desentralisasi tetap dominan, USDT berpeluang mempertahankan mahkotanya lebih lama.

Pada akhirnya, Stablecoin Wars bukan sekadar persaingan produk, melainkan pertarungan arah masa depan likuiditas digital global. Pemenangnya akan sangat ditentukan oleh ke mana arah industri kripto melangkah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |