Raksasa Manajer Investasi Ini Nilai Bitcoin seperti Labubu Digital

2 months ago 44

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) kembali menjadi pusat perdebatan di wall street. Hal ini terjadi setelah seorang eksekutif senior Vanguard, raksasa manajer investasi mengungkapkan pandangannya mengenai bitcoin dan menyebutkan bitcoin seperti labubu digital.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Minggu (14/12/2025), Vanguard Group Global Head of Quantitative Equity John Ameriks menuturkan, bitcoin tidak memiliki karakteristik pendapatan, penggabungan dan arus kas yang dicari perusahaan dalam investasi jangka panjang.

Berbicara di konferensi ETFs in Depth Bloomberg di New York pada Kamis pekan ini, Ameriks membandingkan bitcoin dengan mainan mewah yang viral dan dapat dikoleksi. Ia menyebutkan sebagai Labubu Digital.

Tanpa bukti teknologi tersebut memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan, Ameriks mengatakan sulit untuk melihat bitcoin sebagai sesuatu selain spekulasi.

Akses ETF Dibuka, tetapi Keyakinan Tak Menyusul

Terlepas dari kritik itu, baru-baru ini Vanguard membuka platform perdagangannya untuk dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded (ETF) bitcoin memungkinkan klien untuk membeli dan menjual produk terkait kripto tertentu.

Ameriks mengatakan keputusan tersebut diambil setelah terbentuknya rekam jejak perdagangan setelah peluncuran ETF Bitcoin spot AS pada Januari 2024.

Ameriks mengatakan, Vanguard tidak berencana meluncurkan ETF yang berfokus pada kripto sendiri dan tidak akan memberikan panduan tentang pembelian atau penjualan aset digital.

Ameriks mengakui skenario terbatas di mana Bitcoin dapat menunjukkan nilai non-spekulatif, termasuk periode inflasi tinggi atau ketidakstabilan politik.

Ia mengatakan, tesis investasi yang lebih jelas akan membutuhkan perilaku harga yang konsisten selama kondisi tersebut, sesuatu yang belum diberikan oleh sejarah singkat Bitcoin.

Juru bicara perusahaan menuturkan, Vanguard tetap optimistis terhadap teknologi blockchain itu sendiri dan potensinya untuk meningkatkan struktur pasar.

CEO BlackRock Larry Fink Sebut SWF Meningkatkan Kepemilikan Bitcoin

Sebelumnya, CEO BlackRock Larry Fink mengatakan, dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF) meningkatkan kepemilikan bitcoin saat koreksi harga kripto. Dana kekayaan negara memanfaatkan koreksi harga bitcoin di USD 120.000, USD 100.000 dan di bawah USD 90.000.

Demikian disampaikan CEO BlackRock, Larry Fink di New York Times DealBook Summit, dikutip dari crypto-economy.com, ditulis Minggu (7/12/2025).

Fink mengklarifikasi pembelian bitcoin itu bukan transaksi jangka pendek. Pembelian tersebut merupakan posisi jangka panjang dengan investasi multi-tahun.

Abu Dhabi, Luksemburg, dan Bhutan Memimpin Adopsi

Data konkret menunjukkan aktivitas dari Abu Dhabi’s Funs. The Abu Dhabi Investment Council melipatgandakan kepemilikannya atas iShares Bitcoin Trust milik BlackRock pada kuartal ketiga 2025. Posisinya mencapai hampir 8 juta saham senilai USD 518 juta atau Rp 8,62 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.648).

Dana investasi lainnya, Mubadala Investment Company, memegang 8,7 juta lembar saham senilai USD 567 juta pada akhir September. Jika digabungkan, kedua dana ini mengendalikan lebih dari USD 1,1 miliar dalam instrumen investasi ini.

Secara terpisah, Intergenerational Sovereign Wealth Fund Luksemburg melakukan alokasi langsung ke Bitcoin pada Oktober 2024. Dana ini merupakan dana sovereign fund di zona euro pertama yang melakukannya. Dana tersebut mengalokasikan 1% dari portofolionya, sekitar USD 9 juta ke dana yang diperdagangkan di bursa bitcoin. Sovereign wealth fund ini memilih jalur tersebut untuk mengurangi risiko penyimpanan.

Strategi Bhutan

Bhutan menjalankan strategi yang berbeda. Sovereign fund, Druk Holding&Investments, menambang bitcoin menggunakan 100% tenaga air. Negara ini mulai menambang pada 2019 dan sekarang menghasilkan antara 55 dan 75 bitcoin setiap minggu. Saat ini, Bhutan menyimpan lebih dari 13.000 bitcoin, nilai yang kira-kira setara 30% dari produk domestik bruto (PDB).

Di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Fink memberikan perkiraan. Jika sovereign fund mengalokasikan antara 2%-5% dari portofolionya untuk bitcoin. Harganyab isa mencapai USD 500.000-USD 700.000. Mengingat total aset dana ini, alokasi dalam kisaran itu akan menghasilkan permintaan baru sebesar USD 260 miliar-USD 650 miliar untuk aset tersebut.

Konfirmasi Fink mengenai akumulasi sistematis oleh sovereign funds menunjukkan pergeseran persepsi institusional terhadap bitcoin (BTC). Partisipasi investor jangka panjang ini memperkuat perannya sebagai komponen dalam alokasi aset global.

Fink Sebut Bitcoin sebagai Aset Ketakutan

Sikap Larry Fink saat ini berlawanan dengan pernyataannya pada masa lalu. Pada 2017, ia menyebut bitcoin sebagai indeks pencucian uang. Posisinya berubah sejak Juni 2023, ketika BlackRock mengajukan ETF Bitcoin spot. Pada Desember 2025, Fink menggambarkan bitcoin sebagai aset yang ditakuti.

Ia mendefinisikannya sebagai aset yang dibeli investor karena kekhawatiran akan penurunan nilai mata uang, meningkatnya utang publik dan ketidakstabilan geopolitik.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |