Meneropong Masa Depan Kripto pada 2026

3 months ago 91

Liputan6.com, Jakarta - Analis kripto dan pakar industri jauh lebih berhati-hati dalam memprediksi pasar secara keseluruhan dibandingkan tahun lalu hal yang tidak mengejutkan mengingat kinerja aset digital pada kuartal terakhir 2025. 

Meski banyak yang masih percaya Bitcoin dapat melampaui rekor tertingginya pada Oktober sebesar USD 126 ribu pada suatu titik di 2026, fokus jelas telah bergeser dari valuasi token ke teknologi dan protokol yang mendasarinya, serta ke progres lambat tetapi stabil yang membuat blockchain semakin terintegrasi dengan dunia keuangan yang lebih luas.

Tidak mengherankan, banyak pakar menunjuk integrasi AI ke seluruh ekosistem kripto sebagai salah satu tren dominan tahun mendatang tetapi pertanyaan kuncinya adalah bagaimana penerapannya.

"Pada 2026, AI Terdesentralisasi (DeAI) akan mendominasi headline sebagai solusi atas krisis energi global yang ditimbulkan oleh sistem AI terpusat saat ini,” kata Pendiri Akash Greg Osuri, dikutip dari Kitco.com, Minggu (28/12/2025).

Osuri menjelaskan, DeAI memecahkan hambatan terbesar pertumbuhan AI energi. Semakin jelas bahwa Large Language Model (LLM) terpusat mencapai batas skalabilitasnya. Ketika batas itu terlihat pada 2026, industri akan beralih ke solusi terdesentralisasi.

"Kita akan melihat AI menjadi salah satu use case terbesar Web3. Model harus lebih berdaulat dan skalabel, dan jaringan terdesentralisasi adalah satu-satunya cara untuk mewujudkannya dalam skala besar," ujar dia.

Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, Osuri meyakini dunia akan melihat pergeseran besar menuju anonimitas, dan privasi akan menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Fokus 2026

“Kita kemungkinan akan melihat kebangkitan ‘User-Generated AI’, yang menekankan pentingnya asal-usul data (provenance) dan pembuktian mana yang nyata dan mana yang palsu—sesuatu yang hanya bisa diselesaikan oleh blockchain,” katanya.

Secara bersamaan, ‘Physical AI’ (robotika dan AI berwujud) akan masuk arus utama. Ia memprediksi 2026 akan menjadi tahun ketika robot fisik mengalami ‘momen ChatGPT’-nya, mencerminkan adopsi massal yang dilihat pada 2023.

"Pada 2026, fokus akan bergeser dari model raksasa serba guna ke kecerdasan yang terspesialisasi dan dapat diverifikasi. Ini bisa menjadi tahun ‘Auditable Intelligence’, di mana pasar menuntut bukti privasi dan asal-usul data," kata CEO FLock.io Jiahao Sun.

Bitcoin Mundur Sementara

2025 meski merupakan tahun besar bagi Bitcoin dengan rekor baru USD 126.000, daya tariknya mulai memudar menjelang tahun baru. Namun, para ahli percaya BTC sedang membangun fondasi kuat untuk fase bullish berikutnya meski tidak menjamin terjadi pada 2026.

Matthew Sigel dari VanEck menyebut sinyal BTC “campuran namun konstruktif” dan memperkirakan 2026 lebih sebagai tahun konsolidasi.

"Bukan lonjakan besar. Bukan kehancuran,” katanya.

Alex Thorn dari Galaxy Digital menilai 2026 terlalu kacau untuk diprediksi, meski rekor baru masih mungkin. Ia menambahkan bahwa Bitcoin kini lebih berperilaku seperti aset makro matang daripada aset spekulatif berpertumbuhan tinggi.

Charlie Morris dari ByteTree melihat Bitcoin sebagai “aset cadangan internet”, namun tidak yakin bank sentral akan mengadopsinya. Ia juga menilai sektor AI dan teknologi terlalu mahal dan rawan koreksi, yang bisa berdampak pada Bitcoin karena korelasinya dengan teknologi.

Sebaliknya, Sid Powell dari Maple Finance menilai siklus ini lebih sehat karena kualitas permintaan yang lebih baik, didukung ETF dan institusi. Max Gokhman dari Franklin Templeton menambahkan bahwa partisipasi institusional dapat membuat volatilitas lebih rendah dan pemulihan lebih cepat menuju 2026.

Lupakan Altcoin, Pikirkan Protokol pada 2026

Para ahli percaya fokus akan kembali ke protokol dan proyek dengan kegunaan nyata. Santiago Roel Santos dari Inversion mengatakan kejutan terbesar 2026 bukan token “to the moon”, melainkan kesadaran bahwa banyak L1 berkinerja buruk karena kurangnya permintaan di lapisan dasar.

"Ethereum terlihat lebih seperti incumbent matang daripada aset pertumbuhan. Adopsi meningkat, tapi penangkapan nilai lemah,” katanya.

Dia menuturkan, L2 dan lapisan aplikasi akan unggul karena lebih dekat dengan aktivitas nyata dan pendapatan berulang terutama yang terkait stablecoin dan perdagangan perpetual on-chain.

Michael Hubbard dari SOL Strategies melihat pergeseran menuju utilitas jaringan, tokenisasi aset dunia nyata, dan infrastruktur fisik terdesentralisasi.

Powell menambahkan, sektor seperti kredit yang ditokenisasi, fixed income on-chain, dan infrastruktur aset dunia nyata akan menjadi kejutan positif karena menghasilkan pendapatan nyata.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |