Debat Memanas, Founder Solana Klaim Jaringannya Lebih Terdesentralisasi

9 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri bersama Solana kembali memicu perdebatan di media sosial terkait isu desentralisasi dalam industri kripto. Dalam unggahan terbarunya, Anatoly Yakovenko menyatakan bahwa Solana kini berada di depan Ethereum dalam hal tingkat distribusi jaringan.

Bahkan, menurutnya, jaringan yang tergolong lebih muda tersebut mungkin sudah melampaui Bitcoin dalam aspek tertentu.

“Solana lebih mendekati tingkat desentralisasi ala Satoshi dibandingkan Ethereum. Bahkan mungkin saat ini sudah melampaui Satoshi,” ujar Yakovenko dikutip dari U.Today, Sabtu (28/2/2026).

Pernyataan ini sontak menarik perhatian komunitas kripto. Selama ini, Solana kerap mendapat kritik akibat beberapa kali mengalami gangguan jaringan (downtime) yang memalukan karena kendala teknis.

Namun, Yakovenko menilai kritik tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan tingkat desentralisasi jaringan. Ia menyoroti bahwa siapa pun sebenarnya dapat menjalankan node Solana hanya dengan menggunakan laptop.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Perdebatan ‘Laptop’ dan Akses Menjalankan Node

Komentar Yakovenko memicu apa yang disebut sebagai perdebatan “laptop”, yakni soal kemudahan menjalankan node dalam sebuah jaringan blockchain.

Pendiri Solana itu kemungkinan merujuk pada kemampuan menjalankan “Light Clients” atau node non-voting. Fitur ini memungkinkan pengguna memverifikasi kondisi ledger (buku besar) secara independen tanpa memerlukan server kelas industri dengan perangkat keras mahal.

Yakovenko sebelumnya juga menegaskan bahwa desentralisasi tidak semata-mata ditentukan oleh distribusi token. Pada Desember 2025, ia menyampaikan pandangannya:

“Pandangan saya yang mungkin kontroversial adalah bahwa setiap jaringan proof-of-stake yang dirancang dengan benar sudah cukup terdesentralisasi, terlepas dari distribusi, kepemilikan, maupun nilai tokennya.”

Menurutnya, selama jaringan proof-of-stake dirancang dengan benar, maka jaringan tersebut sudah cukup terdesentralisasi, terlepas dari bagaimana distribusi token atau kepemilikannya.

Solana vs Ethereum dan Bitcoin, Perdebatan Belum Usai

Perdebatan mengenai tingkat desentralisasi bukan hal baru dalam dunia kripto, khususnya ketika membandingkan Solana dengan Ethereum maupun Bitcoin.

Pada Agustus tahun lalu, Yakovenko kembali menegaskan bahwa Solana telah dan selalu terdesentralisasi.

“Full node yang dijalankan tanpa izin adalah satu-satunya yang dibutuhkan siapa pun untuk berpartisipasi di setiap lapisan jaringan. Tidak ada cara bagi pihak lain dalam jaringan untuk mencuri dana pengguna, berbeda dengan model multisig dewan keamanan. Itulah perbedaannya,” ujarnya saat itu.

Ia menjelaskan bahwa siapa pun dapat menjalankan full node tanpa izin khusus untuk berpartisipasi dalam jaringan. Selain itu, menurutnya, tidak ada mekanisme yang memungkinkan pihak lain dalam jaringan mencuri dana pengguna, berbeda dengan model tertentu yang menggunakan multisig dewan keamanan.

Klaim terbaru ini kembali memanaskan persaingan antara Solana, Ethereum, dan Bitcoin dalam perebutan status sebagai jaringan blockchain paling terdesentralisasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |