David Schwartz: XRP Ledger Dirancang agar Tak Bisa Dikendalikan Ripple

18 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Chief Technology Officer (CTO) Emeritus Ripple, David Schwartz, menegaskan bahwa XRP Ledger (XRPL) sejak awal dirancang agar tidak bisa dikendalikan oleh Ripple sebagai perusahaan pembuatnya. Pernyataan itu ia sampaikan melalui platform media sosial X pada 24 Februari.

Dikutip dari Bitcoin.com, Jumat (27/2/2026), Schwartz membela fondasi desentralisasi XRPL dan menekankan bahwa arsitektur jaringan tersebut memang sengaja dibangun untuk mencegah kendali terpusat.

“Kami dengan hati-hati dan sengaja merancang XRPL sehingga kami tidak bisa mengendalikannya. Itu bukan karena kami tidak 100% yakin pada diri kami,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keputusan tersebut bukan semata-mata didorong filosofi teknis, melainkan juga pertimbangan hukum dan korporasi.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Faktor Regulasi Jadi Pertimbangan Utama

Schwartz menjelaskan bahwa lingkungan regulasi serta status Ripple sebagai perusahaan yang memiliki investor menjadi faktor penting dalam perancangan XRPL.

“Mengingat lingkungan regulasi dan realitas praktis sebagai sebuah perusahaan dengan investor, tidak mungkin kami bisa memastikan bahwa kami sepenuhnya mengendalikan tindakan kami sendiri,” katanya.

Ia mencontohkan bahwa Ripple harus mematuhi perintah pengadilan di Amerika Serikat.

“Ripple, misalnya, harus menghormati perintah pengadilan AS. Tidak bisa menolak. Saya pikir pengadilan AS itu baik dan umumnya mengeluarkan keputusan yang masuk akal dengan alasan yang tepat. Namun, apakah pengadilan AS bisa saja memutuskan bahwa hubungan internasional dengan rezim yang represif lebih penting daripada XRPL atau Ripple? Kami cukup khawatir hal itu bisa saja terjadi,” jelasnya.

Menurut Schwartz, potensi intervensi hukum seperti itulah yang mendorong Ripple untuk memastikan jaringan tidak berada dalam kendali perusahaan.

Desain untuk Cegah Kendali Terpusat

Schwartz menegaskan bahwa Ripple secara sadar memilih untuk tidak memiliki kendali atas XRPL.

“Kami benar-benar dan secara jelas memutuskan bahwa kami TIDAK INGIN memiliki kendali, dan itu justru akan menguntungkan kami sendiri,” tegasnya.

Ia juga membedakan antara kepercayaan sukarela dan ketergantungan struktural dalam ekosistem blockchain.

“Kami selalu ingin orang mempercayai kami. Orang yang mempercayai saya tentu menguntungkan bagi saya. Ripple juga demikian. Tetapi jika orang harus mempercayai saya, Ripple, atau pihak lain untuk menggunakan XRPL, itu justru merugikan kami. Sejak awal kami ingin ketergantungan semacam itu seminimal mungkin,” ujarnya.

Tak Bisa Dikendalikan Siapapun

Schwartz menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa XRPL dirancang agar tidak bisa dimiliki atau dikendalikan siapa pun.

“Kami merancangnya sehingga kami tidak bisa memiliki atau mengendalikannya, karena itu satu-satunya cara untuk memastikan bahwa tidak ada siapa pun yang bisa memiliki atau mengendalikannya.”

XRPL sendiri dirancang untuk membatasi otoritas terpusat dan, menurut Schwartz, mengurangi risiko pengaruh korporasi, intervensi regulator, maupun potensi penyalahgunaan kekuasaan. Meski demikian, sejauh mana pengaruh praktis Ripple terhadap jaringan tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan pelaku industri kripto.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |