Harga Bitcoin Turun 2%, Indeks Fear and Greed Kembali ke Zona Fear

2 days ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir seiring memburuknya sentimen pasar kripto global. Bitcoin tercatat turun sekitar 2% dan diperdagangkan di level USD 90.430 pada Kamis (8/1/2026) pukul 01.15 waktu setempat.

Koreksi tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan sebesar 2,5% menjadi USD 3,18 triliun. Pada saat yang sama, Crypto Fear and Greed Index kembali turun ke zona fear, menandakan meningkatnya kehati-hatian investor.

Dikutip dari coinmarketcap, Kamis (8/1/2026), secara teknikal, penurunan harga Bitcoin terjadi setelah reli kuat sejak awal tahun yang sempat membawa aset kripto terbesar itu menembus level USD 93.500. Namun, tekanan jual membuat Bitcoin belum mampu mempertahankan kenaikan di atas USD 93.000.

Data CoinMarketCap menunjukkan pasar kripto bergerak melemah dalam 24 jam terakhir, dengan Bitcoin menjadi salah satu aset yang paling mendapat tekanan. Indeks Fear and Greed sempat bergerak ke arah netral pada Rabu, tetapi kembali tergelincir ke zona fear, mencerminkan menurunnya kepercayaan investor serta berkurangnya minat terhadap aset berisiko.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Likuidasi Pasar

Tekanan jual yang meningkat juga tercermin dari data likuidasi pasar. Berdasarkan catatan CoinGlass, lebih dari 111 ribu trader mengalami likuidasi dengan total nilai mencapai USD 364,56 juta dalam 24 jam terakhir.

Analis kripto Maartunn menyoroti meningkatnya tekanan jual jangka pendek pada Bitcoin. Ia mencatat bahwa Net Taker Volume Bitcoin mencapai minus USD 19 juta pada rata-rata pergerakan 25 jam, menjadi yang terkuat sejak 23 Desember.

“Net Taker Volume (25H MA) baru saja menyentuh -USD 19 juta — tekanan jual terkuat sejak 23 Desember. Penjual agresif kembali menguasai pasar,” tulis Maartunn.

Indikator Net Taker Volume mengukur selisih antara volume beli dan jual berbasis market order. Nilai negatif menunjukkan dominasi aksi jual agresif. Meski demikian, data dari Blockchain.com memperlihatkan bahwa rata-rata pergerakan 200 minggu masih berada di bawah harga Bitcoin, yang dinilai tetap mendukung prospek positif dalam jangka panjang.

Harga Bitcoin Masih Cenderung Bullish

Dari sisi teknikal, harga Bitcoin masih bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 50 hari, yang menandakan tren jangka pendek masih cenderung bullish meski sedang terkoreksi. Namun, risiko penurunan tetap terbuka jika tekanan jual berlanjut.

Level Fibonacci Retracement menjadi area penopang penting, dengan support utama di kisaran USD 89.336 (0,382) dan USD 87.657 (0,5). Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) turun dari 66 ke 51,54, menandakan mulai masuknya aksi ambil untung pascareli awal tahun.

Analis kripto Ali Martinez menyebut arah pergerakan Bitcoin selanjutnya akan ditentukan oleh penutupan harga harian.

“Bitcoin membutuhkan penutupan harian di luar kisaran USD 88.000–USD 94.000 untuk mengonfirmasi arah tren,” ujar Ali Martinez.

Jika tekanan bearish berlanjut, Bitcoin berpotensi turun di bawah USD 89.000. Namun, apabila SMA 50 hari mampu menahan harga, Bitcoin masih berpeluang melanjutkan penguatan menuju area USD 94.000 hingga USD 98.640 dalam jangka menengah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |