Meta Meluncurkan Pembayaran Stablecoin di Solana dan Polygon

6 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Meta telah mulai mengizinkan konten kreator untuk menerima penghasilan dalam stablecoin USDC langsung ke dompet kripto di Solana dan jaringan Ethereum Polygon. Hal ini menandai langkah pertama perusahaan media sosial ini dalam membayar kripto sejak meninggalkan proyek Diem pada 2022.

Mengutip Yahoo Finance, Kamis (30/4/2026), sistem pembayaran kripto ini mendukung dompet populer termasuk MetaMask, Phantom, dan Binance dengan Stripe sebagai penyedia pembayaran untuk menangani infrastruktur teknis. Saat ini, hanya konten kreator di Kolombia dan Filipina yang memenuhi syarat untuk pembayaran stablecoin.

Ketika dihubungi Decyrpt, juru bicara Meta menekankan perusahaan itu tidak menerbitkan stablecoin meta. Sebaliknya, perusahaan memanfaatkan USDC Circle, stablecoin terbesar kedua dengan kapitalisasi pasar lebih dari USD 77 miliar atau Rp 1.337 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.370).

“Kami berupaya menawarkan metode pembayaran yang paling relevan. Itulah sebabnya kami sedang menjajaki bagaimana stablecoin dapat menjadi bagian dari rangkaian opsi kami,” juru bicara itu menambahkan.

Pemilihan geografis ini mencerminkan strategi Meta untuk menguji fitur keuangan di pasar negara berkembang, di mana adopsi kripto sering kali melampaui infrastruktur perbankan tradisional.

Adopsi stablecoin oleh Meta merupakan pembalikan strategis dari kripto sebelumnya. Perusahaan itu menutup proyek Libra yang kemudian berganti nama menjadi Diem pada 2022 setelah menghadapi pengawasan regulasi yang ketat. Minat terhadap stablecoin di kalangan perusahaan AS telah naik secara subtansial sejak penandatanganan GENIUS Act tahun lalu yang mengatur token kripto yang dipatok ke dolar AS.

Chainalysis memprediksi volume perdagangan stablecoin dapat mencapai USD 1,5 kuadriliun pada 2035, mencerminkan meningkatnya kepercayaan pada jalur pembayaran dolar digital di kalangan pelaku keuangan tradisional.

Meta, Coinbase, dan Kraken Berlomba Bangun Superapp Kripto, Bisa Trading Sekaligus Bayar

Sebelumnya, perusahaan teknologi dan kripto global semakin agresif membanguhn superapp. Meta, Coinbase, dan Kraken menjadi sorotan setelah mengumumkan inisiatif terbaru mereka.

Perusahaan teknologi ini menggabungkan layanan pembayaran, perdagangan saham, dan aset digital dalam satu platform terpadu, mulai dari pembayaran stablecoin hingga perdagangan saham dan derivatif berbasis token.

Chief Investment Officer Bitwise Asset Management, Matt Hougan, mengungkapkan pada 24 Februari:

“Sejauh hari ini… 1) Meta mengungkap rencana meluncurkan pembayaran stablecoin di Facebook, WhatsApp, dan Instagram (itu berarti 3 miliar pengguna); 2) Coinbase mengaktifkan perdagangan saham — 24 jam selama 5 hari, tanpa komisi; 3) Kraken meluncurkan perdagangan kontrak berjangka perpetual (perps) 24/7 pada saham yang ditokenisasi.”

Ia menambahkan, “Delapan bulan lalu SEC mengatakan ‘biarkan superapp hadir’ dan pasar kini merespons.”

Pernyataan tersebut mengaitkan langkah sejumlah perusahaan dengan perubahan arah kebijakan regulator Amerika Serikat (AS), yang dinilai semakin terbuka terhadap integrasi layanan kripto dalam platform arus utama.

Klarifikasi Meta dan Perubahan Arah Regulasi SEC

Muncul spekulasi, Meta Platforms tengah menghidupkan kembali proyek stablecoin lama mereka seperti Libra atau Diem. Namun, Direktur Komunikasi Meta, Andy Stone, memberikan klarifikasi melalui platform X pada 24 Februari.

“Tidak ada yang berubah; masih belum ada stablecoin Meta. Ini tentang memungkinkan individu dan pelaku usaha melakukan pembayaran di platform kami menggunakan metode yang mereka pilih.”

Artinya, Meta menegaskan belum menerbitkan stablecoin sendiri. Fokus perusahaan saat ini adalah memfasilitasi pembayaran di platform mereka—Facebook, WhatsApp, dan Instagram—menggunakan metode pembayaran pilihan pengguna.

Di sisi lain, perubahan pendekatan regulator menjadi faktor penting. Di bawah kepemimpinan Ketua SEC, Paul Atkins, Komisi Sekuritas dan Bursa AS atau U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) disebut beralih dari pendekatan penegakan hukum yang ketat menjadi lebih mendukung inovasi superapp.

“Project Crypto” dan Ambisi AS Pimpin Keuangan Digital

Perubahan kebijakan ini menjadi bagian dari inisiatif “Project Crypto” yang diluncurkan pada akhir 2025 dan kemudian diperluas menjadi kerja sama antara SEC dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) pada Januari.

Regulator kini melihat platform terintegrasi sebagai cara memperluas pilihan pasar sekaligus memodernisasi pasar modal Amerika Serikat. Konsepnya memungkinkan perdagangan efek dan aset kripto non-sekuritas berlangsung berdampingan dalam satu ekosistem.

Reformasi yang diusulkan juga membuka peluang layanan terpadu seperti perdagangan, pinjam-meminjam (lending), dan staking berada dalam satu struktur regulasi. Selain itu, penyederhanaan perizinan memungkinkan perantara sekuritas mengoperasikan berbagai produk dalam satu atap.

Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai pemimpin global dalam sektor keuangan digital, di tengah persaingan inovasi teknologi dan kripto yang semakin ketat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |