Bitcoin Diprediksi Tembus USD 100.000 pada 2026

2 months ago 64

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin diperkirakan masih memiliki peluang besar untuk mencetak reli harga signifikan hingga menembus level USD 100.000 pada 2026, meski saat ini performanya masih tertekan.

Dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (5/2/2026), aset kripto terbesar di dunia ini memulai tahun dengan kondisi yang kurang menggembirakan. Hingga 1 Februari, harga Bitcoin tercatat turun sekitar 11 persen. Bahkan, nilainya masih terpaut sekitar 39 persen dari rekor tertinggi yang dicapai pada Oktober tahun lalu.

Pelemahan terbaru Bitcoin disebut dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap sosok Kevin Warsh, kandidat Ketua Federal Reserve (The Fed) yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Warsh dikenal memiliki pandangan kebijakan moneter yang cenderung ketat (hawkish).

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar, mengingat banyak investor berharap bank sentral AS akan segera menurunkan suku bunga untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan aset berisiko, termasuk kripto.

Meski begitu, sebagian analis tetap optimistis. Bitcoin diyakini masih memiliki prospek cerah dan berpotensi naik sekitar 29 persen dari level saat ini di kisaran USD 77.500 hingga mencapai USD 100.000 sebelum akhir 2026.

Bitcoin Masih Dipandang sebagai Aset Berisiko

Selama ini, Bitcoin kerap disebut sebagai “emas digital” karena sifatnya yang global, netral, dan tidak terikat pada otoritas tertentu. Seperti emas, Bitcoin juga memiliki karakteristik kelangkaan yang kuat.

Jumlah Bitcoin dibatasi hanya 21 juta unit. Selain itu, mekanisme halving yang terjadi sekitar setiap empat tahun membuat suplai Bitcoin semakin terbatas dan terukur. Faktor inilah yang membuat pendukungnya memandang Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai (store of value) jangka panjang.

Namun, tidak semua pelaku pasar sepakat dengan narasi tersebut. Hingga kini, Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset berisiko (risk-on asset). Hal ini terlihat dari lonjakan harga emas yang justru menjadi pilihan utama bank sentral di tengah ketidakpastian geopolitik, pelemahan dolar AS, serta lonjakan utang global.

Meski demikian, sebagian pengamat memiliki pandangan berbeda. Kombinasi sifat langka, kemudahan transaksi lintas negara, serta adopsi teknologi dinilai menjadi fondasi kuat bagi kenaikan harga Bitcoin dalam jangka panjang.

Faktor Likuiditas Global Jadi Penopang Bitcoin

Kondisi makroekonomi global juga dinilai berperan besar dalam menentukan arah harga Bitcoin. Beban utang pemerintah AS terus meningkat, sementara suplai uang (M2) dari empat bank sentral terbesar dunia naik sekitar 10 persen dalam 12 bulan terakhir dan mendekati USD 100 triliun.

Di sisi lain, Kevin Warsh yang sebelumnya dikenal mendukung kebijakan moneter ketat, kini disebut lebih terbuka terhadap penurunan suku bunga. Situasi ini dinilai positif bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Meski optimistis Bitcoin bisa naik hingga USD 100.000, analis mengingatkan bahwa memprediksi harga aset kripto secara akurat bukan perkara mudah. Pergerakan Bitcoin hingga akhir tahun tetap dipenuhi ketidakpastian.

Investor juga diimbau memiliki perspektif jangka panjang. Bitcoin dinilai lebih cocok bagi mereka yang siap berinvestasi dalam horizon waktu lima hingga sepuluh tahun, bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |