Tokocrypto Ungkap Proof of Reserves, Aset Pengguna Tembus Rp 5,8 Triliun

16 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Tokocrypto terus memperkuat kepercayaan pengguna dengan menerapkan Proof of Reserves (PoR) atau Bukti Cadangan. Mekanisme ini memungkinkan publik dan pengguna memverifikasi ketersediaan aset secara transparan dan terukur, seiring meningkatnya perhatian terhadap keamanan dana nasabah di industri kripto.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menegaskan transparansi menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan pengguna.

“Di tengah kembali munculnya kekhawatiran publik soal keamanan aset nasabah di industri, Tokocrypto memastikan dana pengguna dikelola secara bertanggung jawab dan dapat diverifikasi. Proof of Reserves kami adalah bentuk komitmen transparansi agar pengguna bisa melihat dan mengecek bahwa aset mereka tersedia secara utuh,” ujar Calvin dalam keterangan tertulis, Senin (12/1/2026).

Sebagai pedagang aset kripto yang telah berlisensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tokocrypto mulai merilis Proof of Reserves sejak 2023. Sejak pertama kali diperkenalkan, nilai aset pengguna yang tercatat dalam sistem ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Per 1 Januari 2026, total aset pengguna yang terverifikasi dalam Proof of Reserves Tokocrypto mencapai USD 345.379.785 atau setara sekitar Rp 5,806 triliun. Nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan periode awal peluncuran PoR, menandakan meningkatnya partisipasi dan kepercayaan pengguna terhadap platform Tokocrypto.

Terbesar Masih Bitcoin

Calvin menilai pertumbuhan nilai aset dalam Proof of Reserves juga mencerminkan minat investasi kripto pengguna yang tetap solid.

“Pertumbuhan nilai aset pengguna dalam PoR hingga sekitar USD 345 juta per 1 Januari 2026 menunjukkan minat investasi kripto pengguna yang tetap tinggi. Kami melihat potensi pertumbuhan ini masih bisa berlanjut seiring meningkatnya partisipasi investor dan semakin matangnya ekosistem aset kripto di Indonesia,” kata Calvin.

Aset yang tercatat dalam Proof of Reserves Tokocrypto didominasi oleh token berkapitalisasi besar dan likuid secara global.

Per 1 Januari 2026, aset tersebut meliputi Bitcoin (BTC) sebesar 1.246,79999263 BTC, Ethereum (ETH) sebesar 10.005,61888101 ETH, BNB sebesar 12.272,89562512 BNB, serta Tether (USDT) sebesar 75.520.184,47678899 USDT.

Tokocrypto juga menegaskan bahwa aset-aset tersebut merupakan milik pengguna dan dicatat secara terpisah dari aset perusahaan. Dengan demikian, seluruh saldo yang ditampilkan dalam Proof of Reserves mencerminkan kewajiban Tokocrypto kepada pengguna, bukan dana operasional internal perusahaan.

Transaksi Capai Rp 150 triliun

Dalam penerapannya, Tokocrypto mengadopsi teknologi Merkle Tree dan zk-SNARKs untuk memastikan proses verifikasi berjalan akurat tanpa mengorbankan privasi data pengguna. Melalui sistem Merkle Tree, pengguna dapat melakukan verifikasi mandiri guna memastikan saldo mereka tercatat dalam perhitungan kewajiban perusahaan.

Sementara itu, teknologi zk-SNARKs digunakan untuk membuktikan bahwa total saldo pengguna setara atau lebih kecil dari total aset cadangan yang dimiliki Tokocrypto, tanpa membuka informasi sensitif ke publik.

“Kami menerapkan verifikasi berbasis Merkle Tree dan zk-SNARKs untuk memastikan audit cadangan aset lebih akurat sekaligus menjaga privasi. Pengguna juga bisa melakukan self-verification untuk memastikan saldo mereka tercatat dalam perhitungan, dengan prinsip cakupan aset 1:1,” tutur Calvin.

Selain Proof of Reserves, Tokocrypto juga memperkuat sistem keamanan melalui enkripsi data, proteksi API, serta teknologi deteksi intrusi. Perusahaan telah mengantongi sertifikasi ISO 27001 dan ISO 27017.

Hingga Desember 2025, total nilai transaksi Tokocrypto tercatat melampaui Rp150 triliun, mencerminkan kinerja yang tetap solid di tengah dinamika pasar global.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |