2 Kripto Terbaik Dibeli dengan Modal USD 100, Mau Tahu?

10 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto mengawali tahun ini dengan performa yang kurang menggembirakan. Hampir seluruh aset digital utama tercatat turun dua digit sejak awal tahun.

Berbeda dengan saham atau obligasi yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi riil, mata uang kripto tidak memiliki keterkaitan langsung dengan fundamental ekonomi. Karena itu, sulit menunjuk satu penyebab pasti atas pelemahan industri ini.

Dikutip dari Yahoo Finance, Senin (2/3/2026), Chief Investment Officer Bitwise Asset Management, Matt Hougan, dalam wawancara menyebut kondisi ini bisa jadi merupakan bagian dari siklus naik-turun (boom and bust) yang memang kerap terjadi di pasar kripto tanpa pemicu tunggal yang jelas.

Kabar baiknya, secara historis kripto selalu mampu bangkit dari fase penurunan tajam seperti ini. Hingga saat ini, belum ada alasan kuat untuk meyakini bahwa pola tersebut akan berubah.

Dengan modal USD 100, investor bisa mempertimbangkan dua aset digital besar yang dinilai berpeluang memanfaatkan potensi rebound jangka panjang, yakni Bitcoin dan XRP.

Bitcoin: Efek Merek Kuat dan Status “Emas Digital”

Harga Bitcoin tercatat turun sekitar 23% sejak awal tahun. Koreksi ini menghapus hampir seluruh kenaikan yang sempat terjadi menjelang kemenangan pemilu Presiden Donald Trump.

Meski begitu, faktor yang sebelumnya mendorong reli—yakni ketidakpastian ekonomi dan kebijakan pemerintah yang pro-kripto—masih tetap ada. Ditambah lagi, Bitcoin memiliki kekuatan merek (brand) yang sangat dominan.

Sebagai pionir kripto pertama, Bitcoin menikmati keunggulan sebagai pemain awal (first-mover advantage). Posisinya diibaratkan seperti Coca-Cola di pasar minuman ringan. Meski banyak kripto baru menawarkan teknologi lebih cepat dan canggih, mereka sulit menyaingi tingkat kepercayaan dan pengenalan nama yang dimiliki Bitcoin.

Kepercayaan ini krusial untuk menarik investor institusi besar seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan yayasan investasi. Peran mereka membantu mendorong transformasi Bitcoin dari aset spekulatif menjadi “emas digital” atau penyimpan nilai alternatif.

Memang, Bitcoin tidak bisa dinilai berdasarkan laba atau arus kas seperti saham. Namun sejarah menunjukkan aset ini selalu pulih dari fase koreksi dan kembali mencetak rekor tertinggi dalam beberapa tahun. Di tengah kebijakan perdagangan AS yang fluktuatif dan menggoyahkan kepercayaan terhadap dolar AS, investor pun terdorong mencari diversifikasi ke aset alternatif.

XRP: Potensi Pertumbuhan Lebih Tinggi dan Dukungan ETF

Dari sisi kapitalisasi pasar, XRP termasuk salah satu kripto terbesar di dunia. Meski tidak sepopuler Bitcoin, ukurannya membuat XRP menonjol dibanding ribuan altcoin lain.

XRP dirancang sebagai mata uang perantara untuk transfer uang lintas negara. Aset ini mampu memproses hingga 1.500 transaksi per detik dengan biaya sangat rendah, hanya 0,00001 XRP per transaksi—atau kurang dari satu sen dolar AS.

Pengembangnya, Ripple Labs, terus menjaga relevansi ekosistem dengan meluncurkan produk baru seperti stablecoin RippleUSD. Stablecoin ini menggunakan buku besar (ledger) yang sama dengan XRP, sehingga meningkatkan aktivitas jaringan dan biaya transaksi, yang sebagian kemudian dibakar (burning) untuk mengurangi suplai beredar.

Selain itu, peluncuran sejumlah ETF spot XRP turut membuka akses bagi investor institusi. Dengan ETF, investor dapat memperoleh eksposur langsung ke XRP tanpa harus mengelola dompet digital atau aspek teknis penyimpanan kripto.

Lalu, mana yang lebih menarik?

Dari sisi potensi pertumbuhan, XRP dinilai memiliki ruang kenaikan lebih besar karena ukuran pasar yang lebih kecil dan pengembangan aktif. Namun dalam kondisi ketidakpastian industri, banyak investor cenderung memilih Bitcoin yang memiliki reputasi dan kepercayaan lebih mapan.

Yang perlu diingat, meski kripto berpotensi rebound, sangat sulit menentukan titik terendah pasar. Karena itu, kesabaran dan diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |