Ripple Bantah Narasi “Kripto Tak Berguna”, Penggunaan di AS Terus Naik

4 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Chief Legal Officer Ripple, Stuart Alderoty, menantang anggapan bahwa kripto tidak memiliki kegunaan nyata, di tengah meningkatnya penggunaan aset digital di Amerika Serikat (AS).

Alderoty, yang juga menjabat sebagai Presiden National Cryptocurrency Association (NCA), menyampaikan melalui platform X pada 27 Februari bahwa ia berulang kali membantah narasi tersebut, khususnya yang dinilai muncul dari media besar.

Merujuk pada The New York Times (NYT), ia mengatakan:

“Sebagai Presiden National Cryptocurrency Association, saya telah mengirimkan banyak surat dan artikel opini kepada NYT untuk membantah narasi mereka yang malas dan ketinggalan zaman bahwa kripto tidak berguna. Semuanya diabaikan," jelas dia dikutip dari Bitcoin.com, Minggu (1/2/2026).

“Sangat tidak bertanggung jawab dan berbahaya untuk mengabaikan jutaan warga Amerika nyata yang saat ini mengandalkan kripto untuk membuat hidup mereka lebih baik," tambah dia.

Pernyataan tersebut secara langsung menantang sikap skeptis yang menurutnya masih melekat pada sebagian media arus utama terhadap industri aset digital.

Survei Tunjukkan Adopsi Kripto Terus Meluas

Untuk mendukung pernyataannya, NCA pada Januari 2026 merilis laporan berjudul Crypto in America: Merchant Adoption yang dilakukan bersama PayPal.

Survei yang melibatkan 619 pengambil keputusan pembayaran di AS dan dilakukan oleh The Harris Poll menunjukkan 39% merchant telah menerima kripto sebagai metode pembayaran di kasir. Angka tersebut bahkan mencapai 50% untuk perusahaan besar.

Di antara merchant yang menerima aset digital, kripto menyumbang rata-rata 26% dari total penjualan. Sebanyak 72% responden juga melaporkan peningkatan transaksi kripto dalam setahun terakhir.

Ke depan, 84% merchant memperkirakan kripto akan menjadi metode pembayaran umum dalam lima tahun mendatang. Bahkan, 90% menyatakan bersedia mengadopsinya jika integrasinya semudah kartu kredit.

Temuan ini menunjukkan penerimaan komersial terhadap bitcoin, ethereum, dan aset digital lainnya semakin luas, sekaligus memperkuat argumen bahwa kripto kian memiliki peran nyata dalam transaksi sehari-hari.

The Fed: Kripto Tak Berguna, Stablecoin Bisa Tekan Perbankan

Sebelumnya, Presiden Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed wilayah Minneapolis, Neel Kashkari, kembali melontarkan kritik keras terhadap aset kripto. Ia menyebut kripto sebagai sesuatu yang tidak berguna dan berpotensi memberi dampak negatif terhadap sistem keuangan tradisional.

Dalam sebuah diskusi panel, Kashkari menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak struktural stablecoin terhadap industri perbankan. Menurutnya, keberadaan stablecoin bisa membuat bank semakin enggan menyalurkan kredit.

“Saya sangat berhati-hati terhadap stablecoin dan berbagai instrumen sejenis, karena saya pikir hal itu akan memberi tekanan pada perekonomian, sebab bank akan semakin sedikit menyalurkan pinjaman,” ujarnya, dikutip dari U Today, Jumat (20/2/2026).

Sebagai Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Kashkari menilai sistem keuangan saat ini masih jauh lebih stabil dibandingkan sistem berbasis kripto.

Ia juga mempertanyakan klaim para pendukung kripto yang menyebut teknologi ini mampu menyelesaikan berbagai persoalan keuangan, khususnya di dalam negeri.

“Ketika saya mendesak mereka soal apa sebenarnya manfaatnya, mereka dengan cepat mengakui bahwa ini tidak berguna di Amerika,” kata Kashkari.

Menurutnya, kripto lebih sering diklaim bermanfaat untuk transaksi lintas negara, bukan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Ilusi Transfer Uang Lintas Negara

Kashkari mengakui bahwa kripto kerap dipromosikan sebagai solusi untuk pengiriman uang internasional. Namun, ia menilai manfaat tersebut masih bersifat semu.

“Kripto dianggap berguna untuk mengirim uang ke negara lain atau bagi konsumen di luar negeri,” ujarnya.

Untuk memperjelas pandangannya, Kashkari menceritakan pengalaman pribadinya. Ia menyebut sang istri lahir di Filipina dan keluarganya masih tinggal di sana.

“Jika saya ingin mengirim uang ke mertua saya untuk membeli kebutuhan sehari-hari, mereka bilang, ‘Wah, mahal sekali kalau pakai cara lama. Dengan kripto ini, bisa langsung terkirim,’” tuturnya.

Namun, menurut Kashkari, masalah utama justru muncul ketika penerima harus mengubah aset digital tersebut menjadi mata uang resmi di negaranya.

Proses konversi inilah yang menimbulkan biaya dan hambatan tambahan, sehingga mengurangi efisiensi yang selama ini diklaim oleh industri kripto.

Ia menilai, selama kripto masih harus dikonversi ke mata uang fiat, manfaatnya tetap terbatas.

“Di situlah letak masalahnya. Gesekan tetap ada ketika aset digital harus diubah kembali menjadi uang yang bisa digunakan,” ujarnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |