Bitwise Europe Masih Optimistis terhadap Harga Bitcoin pada 2026

2 days ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) memulai tahun baru dengan optimisme setelah alami beberapa bulan yang sulit pada 2025. Harga bitcoin dinilai bakal menggunguli emas.

Mengutip Yahoo Finance, Kamis (8/1/2026), meski hanya sesaat, bitcoin telah mencoba menembus posisi USD 90.000 atau Rp 1,51 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.795) beberapa kali dan bahan berhasil menyentuh USD 94.420 atau Rp 1,58 miliar.

Akan tetapi, Direktur dan Head of Research Bitwise Europe, Andre Dragosch menuturkan, perjalanan pemulihan bitcoin diwarnai oleh kekhawatiran akan resesi.

"Apa yang dilakukan bitcoin saat ini adalah meremehkan prospek makro seluruh prospek 2026.  Bitcoin pada dasarnya memperhitungkan resesi. Tetapi kami tidak berpikir akan ada resesi,” ujar dia.

Resesi merupakan perlambatan ekonomi yang signifikan dan biasanya didefinisikan dalam dua kuartal berturut-turut penurunan Produk Domestik Bruto (PDB).

Selama resesi, investor sering beralih dari aset berisiko tinggi seperti bitcoin ke pilihan lebih aman seperti uang tunai dan obligasi pemerintah dan emas.

Dragosch menuturkan, begitu pasar menyadari tidak ada resesi yang akan terjadi, pasar akan memperbarui selera terhadap aset berisiko seperti bitcoin dan kripto lainnya.

Bitcoin Diprediksi Ungguli Emas

Dragosch menuturkan, tidak adanya kekhawatiran resesi juga akan menyebabkan bitcoin mengungguli emas. "Ini tidak berarti emas akan berkinerja buruk. Hanya saja bitcoin akan mengungguli emas tahun ini dalam lingkungan yang cenderung mengambil risiko,” kata dia.

Pada 2025, emas mengalami tahun luar biasa. Harga emas naik 68,88%. Sebagai perbandingan, bitcoin turun 6,1% pada periode waktu yang sama, menurut CoinGecko.

Optimistis terhadap Harga Bitcoin

Dragosch juga membagikan dua pengamatan tentang bitcoin. Pertama, bitoin belum pernah berkinerja buruk secara berturut-turut selama dua tahun. Kedua, bitcoin menjadi aset terbaik dan terburuk dalam tahun tertentu.

Ia juga masih optimistis terhadap bitcoin pada 2026. “Tahun lalu, bitcoin adalah aset dengan kinerja terburuk. Jadi saya cukup yakin tahun ini, bitcoin akan menjadi aset dengan kinerja terbaik,” kata dia.

Melihat kembali 2025, Dragosch menuturkan, aktivitas on-chain mempengaruhi harga bitcoin, bukan faktor makro positif.

“Mulai dari penjualan dan pengambilan keuntungan oleh pemegang jangka panjang, hingga penjuala karena kepanikan dan peristiwa likuidasi 10 Oktober, semuanya mengakibatkan kesalahan penetapan harga bitcoin,” ia menambahkan.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Analis Sebut Harga Bitcoin Sudah Sentuh Level Terendah

Sebelumnya, harga bitcoin (BTC) bergejolak di atas USD 91.000 atau Rp 1,51 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.777) pada perdagangan kripto Selasa, 6 Januari 2026. Hal ini di tengah momentum optimisme aksi jual pada kuartal keempat mungkin telah berakhir.

“Kami yakin dengan cukup percaya diri, bitcoin dan pasar aset digital yang lebih luas telah mencapai titik terendah,” ujar Analis Gautam Chhugani seperti dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (7/1/2026).

Analis Bernstein menyebutkan, kekhawatiran harga tertinggi Oktober di atas USD 126.000 menandai puncak dalam siklus empat tahun historis untuk token tersebut terlalu dibesar-besarkan, karena industri ini sedang mengalami "revolusi aset digital" yang memperpanjang kenaikan harga.

"Seperti yang telah kami soroti sebelumnya, kami percaya kekhawatiran pasar tentang pola siklus 4 tahun tidak beralasan dalam konteks pasar saat ini, di mana permintaan institusional mendorong adopsi," kata para analis.

Siklus Super

Bernstein mempertahankan prediksinya token tersebut akan mencapai USD 150.000 pada 2026 dan USD 200.000 pada 2027.

Chhugani menunjukkan meskipun Bitcoin mengalami penurunan 6% pada 2025, tahun tersebut positif untuk saham-saham terkait kripto dan IPO.

Ke depan, "siklus super" tokenisasi yang dipimpin oleh pemain unggulan seperti Robinhood (HOOD), Coinbase (COIN), Figure (FIGR), dan Circle (CRCL) akan terus mendorong adopsi institusional dan mengangkat sektor kripto.

Harga Bitcoin telah pulih pada awal 2026 setelah diperdagangkan dalam kisaran ketat dalam beberapa minggu terakhir menyusul aksi jual di kuartal keempat tahun lalu.

Likuidasi paksa dan penjualan oleh pemegang jangka panjang mendorong harga turun hingga 35% dari puncaknya pada Oktober.

Bitcoin Memasuki Tren Bullish

Pada Minggu, 10X Research mencatat indikator teknis memberi sinyal "Bitcoin telah memasuki tren bullish."

Bitcoin mengakhiri Desember dengan penurunan untuk bulan ketiga berturut-turut, pola yang hanya terlihat 15 kali secara historis, seringkali mempersiapkan token untuk kenaikan di bulan Januari.

"Ada peluang bagus untuk reli taktis,” ujar Kepala Aset Digital di Fundstrat, Sean Farrell, pada Senin malam.

Farrell menunjuk pada ekspansi neraca Federal Reserve dan penarikan di Treasury General Account (TGA), mirip dengan AS. Rekening giro pemerintah, sebagai tanda positif bagi bitcoin.

"Likuiditas membaik, arus dana meningkat, dan akhirnya kita melihat beberapa hari kinerja yang lebih baik dibandingkan saham,” kata Farrell.

Ahli strategi ini melihat skenario di mana bitcoin dapat menguji level USD 105.000–USD 106.000, meskipun skenario dasarnya masih memperkirakan penurunan signifikan pada paruh pertama tahun ini sebelum reli hingga akhir 2026.

Ada Diskon Tarif Listrik di 2026? Begini Bocoran Menkeu Purbaya

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |