Ancaman Tarif Trump Guncang Pasar, Harga Bitcoin dan Ether Kembali Tertekan

1 day ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto kembali melemah setelah investor global mencerna ancaman tarif terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ketidakpastian geopolitik ini membuat pelaku pasar memilih sikap aman dan mengurangi kepemilikan aset berisiko.

Mengutip Cointelegraph.com, Rabu (21/1/2026), Bitcoin tercatat turun ke kisaran USD 88.983, sementara Ether melemah ke sekitar USD 2.964.

Kedua aset kripto utama tersebut kembali menyentuh level terendah dalam lebih dari dua pekan terakhir. Ancaman tarif ini disebut berkaitan dengan upaya pemerintah AS menekan Denmark agar mempertimbangkan ulang penguasaan wilayah Greenland.

Namun, negara-negara Eropa dinilai tidak menunjukkan respons yang terbuka untuk bernegosiasi. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik ekonomi dapat meluas dan berdampak pada stabilitas global. Investor pun memilih menghindari risiko sambil menunggu kepastian kebijakan ke depan.

Akibatnya, total kapitalisasi pasar kripto turun menjadi sekitar USD 2,71 triliun, dari hampir USD 3 triliun pada pekan sebelumnya, menandakan tekanan jual yang masih kuat. Saham Melemah, Emas dan Obligasi Jadi Pilihan Aman Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga merambah ke pasar saham.

Indeks S&P 500 tercatat turun 1,9% dalam satu hari perdagangan. Di tengah penurunan saham, investor justru beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Harga emas melonjak dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor lima tahun naik ke level tertinggi dalam hampir enam bulan.

Kenaikan ini menandakan investor meminta imbal hasil lebih besar untuk menutup risiko ekonomi. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap inflasi maupun potensi perlambatan ekonomi. Investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka.

Investor kawakan Ray Dalio bahkan menyebut dunia berpotensi memasuki fase baru konflik keuangan global, di mana negara-negara mulai meninjau ulang ketergantungan terhadap aset Amerika Serikat.

Tantangan Masih Besar

Di tengah tekanan pasar, Bitcoin masih menjadi aset kripto terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 1,8 triliun. Posisi ini menempatkan Bitcoin sebagai aset global terbesar kedelapan.

Namun, jarak tersebut mulai terkejar oleh perusahaan besar dunia seperti TSMC dan Saudi Aramco yang memiliki nilai pasar sangat besar. Sementara itu, posisi Ether dinilai lebih rentan.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 360 miliar, Ether kini berada di luar 40 besar aset global. Nilai Ether bahkan telah disalip oleh perusahaan ritel dan hiburan seperti Home Depot dan Netflix, mencerminkan lemahnya minat investor terhadap altcoin.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada risiko utang global. Jepang diperkirakan akan menggelar pemilu cepat yang berpotensi mendorong stimulus ekonomi tambahan, meski rasio utang negara tersebut sudah melampaui 200% dari produk domestik bruto.

Harga Kripto pada 21 Januari 2026

Sebelumnya, pasar kripto global kembali melemah dalam 24 jam terakhir. Sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar tercatat mengalami koreksi harga cukup dalam, seiring meningkatnya aksi ambil untung dan sentimen kehati-hatian investor. Hal itu terjadi di bitcoin (BTC) dan Ethereum.

Tekanan terjadi hampir merata, dari Bitcoin hingga altcoin utama, meskipun stabilitas stablecoin tetap terjaga. Mengutip Coinmarketcap.com, Rabu (21/1/2026) harga Bitcoin (BTC) dalam 24 jam terakhir tercatat berada di level USD 88.394,28, melemah 4,66%. Koreksi ini terjadi setelah BTC gagal mempertahankan momentum reli sebelumnya, memicu aksi ambil untung jangka pendek di kalangan investor institusional maupun ritel.

Sementara itu, Ethereum (ETH) mengalami tekanan lebih dalam. ETH turun 8,11% ke posisi USD 2.934,56. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya tekanan jual pada aset berisiko, khususnya altcoin, di tengah ketidakpastian arah pasar kripto secara keseluruhan.

Di sisi lain, Tether (USDT) relatif stabil. Dalam 24 jam terakhir, USDT berada di kisaran USD 0,9987 dengan penurunan tipis 0,07%. Koreksi juga dialami BNB, yang turun 5,32% ke level USD 875,20.

Adapun XRP tercatat melemah 4,82% ke harga USD 1,89. Pergerakan XRP menunjukkan bahwa sentimen negatif masih membayangi, meskipun minat spekulatif terhadap aset ini belum sepenuhnya hilang.

Stablecoin Bertahan, Altcoin Besar Ikut Melemah

Harga USD Coin (USDC) dalam 24 jam terakhir berada di USD 0,9998, turun sangat tipis 0,01%. Berbeda dengan stablecoin, Solana (SOL) justru mencatatkan koreksi cukup dalam. SOL turun 5,69% ke level USD 125,96.

Tekanan juga dialami TRON (TRX) yang melemah 4,70% ke harga USD 0,2964. Selanjutnya, Dogecoin (DOGE) turun 4,39% dalam 24 jam terakhir ke posisi USD 0,1234. Aset kripto berbasis meme ini masih bergerak fluktuatif, sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar dan pergerakan jangka pendek.

Sementara itu, Cardano (ADA) tercatat melemah 5,01% ke level USD 0,3512. Koreksi ADA menunjukkan investor masih bersikap wait and see terhadap perkembangan proyek dan adopsi jaringan.

Tekanan Dalam di XMR, BCH hingga HYPE

Harga Bitcoin Cash (BCH) dalam 24 jam terakhir berada di USD 574,17, turun 1,66%. Dibandingkan aset lain, penurunan BCH relatif lebih terbatas, menandakan tekanan jual yang tidak terlalu agresif.

Namun kondisi berbeda terjadi pada Monero (XMR). XMR anjlok 19,72% ke level USD 501,20, menjadi salah satu aset dengan koreksi terdalam dalam daftar 15 kripto teratas.

Selanjutnya, Chainlink (LINK) turun 5,67% ke harga USD 12,14. Sementara itu, LEO Token (LEO) melemah 2,82% ke level USD 8,72. Adapun Hyperliquid (HYPE) tercatat turun 10,89% ke posisi USD 21,11.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |