Salah Klik, Trader Kripto Ini Kehilangan Lebih dari Rp 800 Miliar

10 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Seorang trader kripto mengalami kerugian besar setelah melakukan transaksi yang diduga sebagai kesalahan fatal atau “fat finger” di jaringan Ethereum. Berdasarkan data on-chain, pengguna anonim tersebut menukar USDT senilai USD 50,4 juta atau kurang lebih Rp 854 miliar (estimasi kurs RP 16.947 per dolar) dengan hanya 35.900 token AAVE.

Dikutip dari U.Today, Jumat (13/3/2026), transaksi tersebut langsung menyebabkan kerugian lebih dari USD 50 juta atau Rp 847 miliar, menjadikannya salah satu kesalahan transaksi terbesar dalam sejarah terbaru Ethereum.

Tidak seperti sistem keuangan tradisional, transaksi di dunia decentralized finance (DeFi) bersifat permanen. Artinya, tidak ada layanan pelanggan atau mekanisme pembatalan ketika terjadi kesalahan.

CEO Aave, Stani Kulechov, mengonfirmasi insiden tersebut melalui platform X.

"Kami bersimpati kepada pengguna tersebut dan akan mencoba menghubunginya. Kami juga akan mengembalikan sekitar USD 600 ribu biaya transaksi yang dikumpulkan dari transaksi tersebut. Pelajaran pentingnya adalah bahwa meskipun DeFi harus tetap terbuka dan tanpa izin, industri ini masih bisa membangun perlindungan tambahan untuk melindungi pengguna dengan lebih baik," ujarnya.

Insiden ini kembali memicu diskusi mengenai risiko besar dalam transaksi DeFi, terutama ketika nilai transaksi mencapai puluhan juta dolar.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Bagaimana Kesalahan Ini Bisa Terjadi?

Sebagian besar bursa kripto terdesentralisasi (DEX) menggunakan model Automated Market Maker (AMM) yang bergantung pada liquidity pool.

Harga aset dalam liquidity pool ditentukan oleh rumus matematika yang menghitung rasio dua token dalam pool tersebut.

Dalam kasus ini, pengguna memasukkan USDT senilai USD 50,4 juta ke dalam pool dan menyedot hampir seluruh cadangan token AAVE di dalamnya.

Akibatnya, kurva harga dalam pool tersebut langsung melonjak drastis, membuat harga AAVE dalam transaksi tersebut naik secara ekstrem.

Biasanya, sistem memiliki fitur pengaman bernama slippage tolerance, yang berfungsi membatalkan transaksi jika harga yang terjadi terlalu jauh dari harga pasar.

Batas toleransi ini umumnya berada di kisaran 0,5% hingga 1%.

Namun agar transaksi besar ini bisa terjadi, pengguna diduga menonaktifkan perlindungan slippage atau mengabaikan peringatan yang muncul di platform.

Peringatan Sudah Muncul, Tapi Tetap Dilanjutkan

Menurut Kulechov, sistem sebenarnya sudah memberikan peringatan sebelum transaksi tersebut diproses.

"Dengan ukuran pesanan tunggal yang sangat besar, antarmuka Aave—seperti kebanyakan platform trading—memberikan peringatan tentang slippage yang luar biasa dan meminta konfirmasi melalui kotak centang. Pengguna mengonfirmasi peringatan tersebut di perangkat selulernya dan melanjutkan proses swap," jelasnya.

Platform CoW Protocol, yang digunakan dalam transaksi tersebut, sebenarnya dirancang untuk melindungi pengguna dari transaksi buruk, bot MEV (Maximal Extractable Value), serta slippage ekstrem dengan menggunakan pihak ketiga yang disebut solver untuk menemukan rute transaksi paling efisien.

Namun dalam kasus ini, pengguna tetap memutuskan untuk melanjutkan transaksi meskipun sudah menerima peringatan risiko.

"Transaksi tidak bisa diproses tanpa pengguna secara eksplisit menerima risiko melalui kotak konfirmasi. Router CoW Swap berfungsi sebagaimana mestinya, dan integrasi tersebut mengikuti praktik standar industri. Namun meskipun pengguna dapat melanjutkan swap, hasil akhirnya jelas jauh dari optimal," kata Kulechov.

Ia menambahkan bahwa tim Aave akan mengevaluasi cara untuk meningkatkan perlindungan bagi pengguna agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |