Bitcoin Tetap Hijau saat Bursa Asia Crash, Analis Prediksi Potensi Bull Trap

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) tercatat masih mampu bertahan dan diperdagangkan di zona hijau pada perdagangan Senin pagi, meskipun pasar keuangan global mengalami tekanan besar.

Kondisi ini terjadi ketika sejumlah pasar saham Asia mengalami salah satu aksi jual paling tajam dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan harga energi disebut menjadi pemicu utama gejolak tersebut.

Situasi tersebut bahkan memicu pembukaan perdagangan dengan status “limit down” pada sejumlah indeks utama di kawasan Asia.

Salah satu contohnya adalah indeks KOSPI di Korea Selatan, yang anjlok lebih dari 9 persen hingga memicu circuit breaker atau penghentian sementara perdagangan untuk meredam kepanikan pasar.

Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, Bitcoin justru masih menunjukkan stabilitas relatif dibandingkan aset tradisional.

Pergerakan harga Bitcoin pada awal perdagangan berada di kisaran USD 67.100 hingga USD 67.200 sebelum sempat naik dan mencapai puncak sekitar USD 67.600 pada pukul 04.25 UTC.

Namun setelah mencapai level tersebut, tekanan jual mulai muncul sehingga harga bergerak turun secara bertahap.

Tekanan Pasar Global Mulai Menular

Setelah menyentuh level tertinggi harian, tekanan jual terhadap Bitcoin meningkat menjelang pukul 05.00 UTC, yang mendorong harga bergerak melemah.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar USD 67.816, dengan para investor bullish atau bulls mencoba mempertahankan level dukungan harga yang lebih tinggi.

Meski begitu, gejolak di pasar Asia mulai memberikan dampak ke pasar global lainnya.

Fenomena “limit down” di pasar Timur kini mulai menular ke pasar Amerika Serikat. Kontrak berjangka indeks saham AS menunjukkan potensi penurunan signifikan ketika perdagangan dibuka.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan apakah Bitcoin akan mampu mempertahankan stabilitasnya jika tekanan di pasar global semakin besar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin sering dipandang sebagai aset alternatif yang dapat bertahan ketika pasar tradisional mengalami tekanan.

Namun hubungan antara pasar kripto dan pasar saham global masih sering berubah, terutama ketika terjadi gejolak ekonomi besar.

Analis Prediksi Potensi Bull Trap Bitcoin

Di tengah ketidakpastian pasar, analis Bitcoin Willy Woo memberikan pandangannya mengenai potensi pergerakan harga aset kripto tersebut.

Menurut Woo, kemungkinan reli Bitcoin menuju kisaran USD85.000 sebaiknya dipandang sebagai potensi “bull trap” atau jebakan kenaikan harga sementara.

Ia mencatat bahwa aliran dana investor mulai pulih sejak pertengahan Februari.

Menurut Woo, aksi jual besar pada fase awal pasar bearish membuat tekanan jual sementara mulai mereda.

Ia memperkirakan Bitcoin dapat bergerak dalam fase konsolidasi sebelum mencoba menguji level resistensi di kisaran USD80.000 hingga USD85.000. Level ini dianggap sebagai titik harga rata-rata bagi investor jangka pendek.

Namun demikian, Woo menegaskan bahwa Bitcoin masih berada di tengah fase pasar bearish jika dilihat dari kondisi likuiditas jangka panjang.

Reli sementara ini diperkirakan dapat berlangsung hingga akhir April, sebelum pasar menentukan arah berikutnya.

Analisis tersebut didasarkan pada pemantauan Woo terhadap aliran modal dan perubahan likuiditas di pasar kripto.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |