Survei Visa: 45% Gen Z Tertarik Terima Kripto untuk Hadiah

2 months ago 53

Liputan6.com, Jakarta - Tren hadiah liburan di kalangan generasi muda mulai bergeser. Jika sebelumnya hadiah identik dengan barang fisik seperti mainan, gawai, atau koleksi, kini aset digital mulai dilirik sebagai alternatif. Mata uang kripto bahkan disebut-sebut menjadi salah satu “hadiah modern” yang semakin diminati, khususnya oleh Generasi Z.

Hal ini tercermin dari hasil survei terbaru perusahaan teknologi pembayaran global, Visa. Dikutip dari CNBC, Rabu (17/12/2025), hasil survei menunjukkan bahwa 45 persen Generasi Z dewasa berusia 18 hingga 28 tahun di Amerika Serikat (AS) menyatakan senang jika menerima kripto sebagai hadiah liburan tahun ini.

Survei global yang dilakukan pada Oktober tersebut melibatkan 1.000 responden dewasa dan menggambarkan bagaimana generasi muda semakin akrab dengan aset digital. Bagi Generasi Z, kripto tidak hanya dipandang sebagai instrumen investasi, tetapi juga sebagai simbol inovasi, teknologi, dan kemandirian finansial.

Di tengah meningkatnya adopsi aset digital, temuan ini menegaskan bahwa kripto mulai masuk ke dalam budaya populer, termasuk dalam momen perayaan seperti musim liburan dan hari raya.

Namun demikian, antusiasme ini tidak serta-merta disambut dengan optimisme penuh oleh para perencana keuangan. Sejumlah ahli menilai, meski kripto menarik sebagai hadiah, terdapat risiko besar yang perlu dipahami, terutama terkait volatilitas harga dan sifat spekulatifnya.

Oleh karena itu, pemberian kripto sebagai hadiah dinilai perlu dibarengi dengan pemahaman dan edukasi yang memadai agar tidak menimbulkan ekspektasi keliru, khususnya di kalangan investor muda.

Kripto Dinilai Berisiko sebagai Hadiah Investasi

Perencana keuangan bersertifikat, Flavio Landivar, yang juga penasihat keuangan senior di Evensky and Katz/Foldes Wealth Management, mengingatkan bahwa kripto merupakan aset yang sangat fluktuatif.

Menurutnya, kripto tidak cocok diberikan sebagai hadiah jika tujuan utamanya adalah memberikan aset yang nilainya diharapkan stabil atau terus meningkat dalam jangka panjang.

Berbeda dengan saham atau reksa dana yang merepresentasikan kepemilikan atas aset riil seperti perusahaan, Landivar menilai mata uang kripto tidak memiliki nilai intrinsik yang jelas.

Nilainya lebih banyak ditentukan oleh sentimen pasar dan kesediaan orang lain untuk membelinya, sehingga rentan mengalami perubahan harga yang ekstrem dan penurunan tajam.

“Masih perlu ditentukan secara pasti bagaimana hal itu akan terjadi di masa depan, tetapi untuk saat ini, pada dasarnya nilainya adalah apa yang orang lain bersedia bayarkan untuk itu,” kata Landivar.

Hadiah Kripto Sebaiknya Jadi Sarana Edukasi

Pandangan serupa disampaikan Ashton Lawrence, perencana keuangan bersertifikat sekaligus penasihat kekayaan senior di Mariner Wealth Advisors. Ia menyarankan agar kripto diposisikan sebagai sarana pembelajaran, bukan investasi yang aman.

Menurutnya, jika seseorang ingin memberikan hadiah yang berpotensi tumbuh lebih stabil dalam jangka panjang, instrumen seperti exchange-traded fund (ETF) yang melacak kinerja berbagai saham dinilai lebih tepat. Sementara kripto dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan konsep risiko, volatilitas, dan dinamika pasar keuangan modern.

“Hadiah apa pun harus diposisikan sebagai pengalaman edukatif jangka panjang, bukan sebagai investasi yang stabil,” kata Ashton Lawrence, CPF dan direktur serta penasihat kekayaan senior di Mariner Wealth Advisors di Greenville, South Carolina.

Rekomendasi Bitcoin Dibanding Lainnya

Sementara itu, Mike Casey, seorang CFP dan presiden American Executive Advisors, menilai kripto tetap relevan sebagai hadiah, asalkan nilainya tidak berlebihan. Ia menyebut kisaran USD 50, sekitar Rp 834 ribu  sebagai titik awal yang wajar untuk hadiah kripto di momen ulang tahun atau hari raya.

“titik awal yang bagus” untuk memberikan kripto, kata Mike Casey, seorang CFP, pengadopsi awal bitcoin dan presiden American Executive Advisors di McLean, Virginia. “Kita tidak berbicara tentang ribuan dan ribuan dolar.”

Casey merekomendasikan bitcoin dibandingkan mata uang kripto lainnya. Alasannya, bitcoin memiliki adopsi global paling luas, pasokan yang terbatas, serta rekam jejak historis yang relatif lebih kuat.

"Bitcoin juga merupakan mata uang kripto tertua, dan secara historis, setiap kali bitcoin jatuh dari titik tertinggi, nilai mata uang tersebut akan pulih dan tumbuh lebih besar lagi," kata Casey.

Dalam lima tahun terakhir, harga bitcoin tercatat naik lebih dari 400 persen atau hampir USD 74 ribu, sekitar Rp 1,2 miliar (kurs USD 1 = Rp 16.690). Meski demikian, volatilitas tetap tinggi, terbukti dari penurunan harga sekitar 32 persen dari rekor tertinggi USD 126 ribu, sekitar Rp 2,1 miliar pada Oktober lalu.

Belajar Investasi

Menurut Casey, fluktuasi harga bitcoin justru menjadikannya alat pembelajaran yang efektif bagi investor muda. Dengan memantau nilai hadiah kripto dari waktu ke waktu, Generasi Z dapat belajar bahwa naik turunnya nilai investasi adalah hal yang wajar dalam perjalanan jangka panjang.

“Inilah esensi dari investasi,” kata Casey. “Kita ingin memiliki tujuan jangka panjang. Mereka belajar bahwa sedikit volatilitas sebenarnya tidak apa-apa,” tutupnya. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |