FBI Ringkus Pencuri Aset Kripto Sitaan US Marshals, Ternyata Orang Dalam

23 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Dalam unggahan di media sosial pada Kamis, otoritas federal mengonfirmasi penangkapan John Daghita, putra dari seorang kontraktor pemerintah Amerika Serikat (AS). Ia diduga menyedot aset kripto yang sebelumnya disita oleh U.S. Marshals Service (USMS).

Kasus ini disebut sebagai salah satu aksi pencurian kripto paling berani yang melibatkan orang dalam dalam sejarah lembaga pemerintah AS.

Penangkapan John Daghita dilakukan di pulau Saint Martin, kawasan Karibia.

Dikutip dari U.Today, Jumat (6/3/2026), Direktur FBI, Kash Patel, mengonfirmasi keberhasilan operasi penangkapan tersebut melalui platform media sosial X.

Operasi penangkapan ini juga melibatkan kerja sama internasional. Unit Serious Crime dari International Cooperation Team milik French Gendarmerie National di Saint Martin serta Groupe d’intervention de la Gendarmerie nationale dari Guadeloupe turut membantu otoritas Amerika Serikat dalam penggerebekan tersebut.

John Daghita diketahui merupakan putra dari Dean Daghita, Presiden sekaligus CEO perusahaan teknologi Command Services & Support (CMDSS).

Kronologi

Pada Oktober 2024, perusahaan teknologi yang berbasis di Virginia tersebut memenangkan kontrak federal bernilai besar dari U.S. Marshals Service untuk mengelola aset kripto yang disita pemerintah.

Namun, otoritas menduga John Daghita memanfaatkan akses internal yang dimiliki perusahaan ayahnya untuk mencuri aset kripto tersebut.

Dengan akses tersebut, ia diduga berhasil memindahkan dana kripto dalam jumlah besar dari dompet digital yang dikelola pemerintah.

Aksi tersebut pada akhirnya menyeret perusahaan CMDSS ke dalam sorotan karena keterlibatan tidak langsung dalam skandal yang mengguncang sistem pengelolaan aset digital pemerintah AS.

Skema pencurian tersebut mulai terungkap pada akhir Januari 2026. Penyebabnya terbilang sederhana: tersangka tidak mampu menahan diri untuk memamerkan kekayaannya.

Dalam sebuah percakapan di aplikasi pesan Telegram, John Daghita disebut melakukan screen share yang menampilkan dompet kripto Exodus miliknya.

Dompet tersebut memperlihatkan aset kripto bernilai jutaan dolar dari sebuah akun anonim.

Namun, aktivitas dompet digital tersebut akhirnya berhasil dilacak melalui analisis blockchain (on-chain analysis).

Picu Kekhawatiran

Penyelidikan menunjukkan sekitar USD 25 juta dari dana yang dipamerkan tersebut berasal langsung dari dompet milik pemerintah AS yang terkait dengan aset sitaan dari peretasan besar Bitfinex pada 2016.

Setelah kasus ini terungkap, perusahaan CMDSS langsung menghapus seluruh jejak kehadirannya di media sosial serta situs web resminya.

Sementara itu, U.S. Marshals Service bersama FBI meluncurkan penyelidikan internal.

Kasus ini memicu kekhawatiran serius terkait keamanan operasional lembaga tersebut, terutama karena seorang anak kontraktor independen diduga mampu menyedot hingga USD 46 juta dari sistem pengelolaan aset kripto pemerintah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |