Kenali Penyakit Cabai di Musim Hujan dan Cara Mengatasinya Sejak Dini

1 month ago 25

Liputan6.com, Jakarta - Musim hujan seringkali menjadi tantangan besar bagi para petani cabai di Indonesia. Curah hujan yang tinggi dan kelembapan udara yang ekstrem menciptakan kondisi ideal bagi perkembangan berbagai penyakit tanaman. Akibatnya, tanaman cabai rentan terserang patogen yang dapat menyebabkan kerugian panen yang signifikan.

Untuk memastikan hasil panen tetap optimal, penting bagi petani untuk mengenali penyakit cabai di musim hujan dan cara mengatasinya sejak dini. Pemahaman mendalam mengenai jenis-jenis penyakit, gejala, serta langkah pencegahan dan penanganan yang tepat menjadi kunci keberhasilan budidaya cabai di tengah musim basah. Melansir dari berbagai sumber, Senin (19/1), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Antraknosa (Patek)

Antraknosa, yang juga dikenal sebagai patek, busuk kering, cacar buah, api-api, atau rapak, merupakan penyakit yang sangat merugikan bagi tanaman cabai. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici dan Gloeosporium piperatum (atau Colletotrichum gloeosporioides) yang mampu bertahan hidup di tanah, sisa tanaman, atau buah yang terinfeksi.

Gejala awal antraknosa ditandai dengan munculnya bercak cokelat kehitaman pada buah cabai yang kemudian meluas dan menjadi busuk lunak. Bercak ini berbentuk bundar atau cekung, seringkali berkembang pada buah yang masih muda atau belum matang. Pada buah yang terinfeksi parah, akan terlihat bintik-bintik hitam kecil melingkar pada kulit buah yang menyebar, bahkan membuat buah mengering dan mengerut seperti mumi.

Penyakit ini sangat rentan di musim hujan karena jamur penyebabnya berkembang pesat pada kelembapan tinggi (lebih dari 80%) dan suhu sekitar 32°C. Penyebarannya juga dipercepat oleh tetesan air hujan, angin, serta sentuhan antarbuah. Untuk pencegahan, gunakan benih sehat, lakukan perlakuan benih dengan air panas atau fungisida, jaga sanitasi lahan, dan atur jarak tanam agar sirkulasi udara baik. Penanganan meliputi pemusnahan buah terinfeksi dan aplikasi fungisida secara bergantian.

2. Layu Fusarium

Layu Fusarium adalah penyakit serius pada tanaman cabai yang disebabkan oleh infeksi jamur patogen Fusarium oxysporum, yang merupakan patogen tular tanah. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian panen hingga 50% jika tidak ditangani dengan baik.

Gejala khas Layu Fusarium meliputi tanaman yang tampak layu, dimulai dari daun bagian bawah yang kemudian menguning hingga ke ranting muda. Gejala layu sering terlihat pada siang hari (sekitar pukul 10.00-14.30) dan tanaman dapat kembali segar pada pagi atau sore hari di tahap awal. Batang bagian bawah yang bersinggungan dengan tanah akan membusuk dan berwarna cokelat, serta akar mengalami busuk basah.

Jamur Fusarium oxysporum tumbuh cepat pada kondisi tanah yang lembap, sehingga musim hujan menjadi periode rentan bagi tanaman cabai. Kelembapan udara tinggi, genangan air hujan, dan pH tanah rendah sangat mendukung perkembangan patogen ini. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemilihan benih tahan penyakit, perbaikan drainase lahan, menjaga pH tanah dengan pupuk kalsium, serta aplikasi cendawan antagonis Trichoderma spp.

3. Busuk Batang (Phytophthora capsici)

Penyakit Busuk Batang Phytophthora disebabkan oleh jamur patogen Phytophthora capsici. Penyakit ini seringkali muncul di musim hujan karena curah hujan dan kelembapan lingkungan yang tinggi sangat mendukung perkembangannya.

Gejala awal ditandai dengan munculnya bercak cokelat menggelap pada bagian batang yang kemudian membesar dan dapat menyebar hingga ke akar serta pucuk tanaman. Pada bercak yang sudah lama, seringkali muncul bulu-bulu halus berwarna hitam putih. Bagian yang terserang akan terasa lembek saat disentuh dan kulitnya mudah terkelupas.

Tanaman yang terinfeksi akan layu, daun menguning, membusuk, dan rontok, dimulai dari daun bawah hingga ke atas. Buah cabai juga dapat menunjukkan spot cokelat busuk, menyebabkan bunga dan buah rontok, bahkan tanaman bisa mati total karena akar membusuk. Pencegahan meliputi penggunaan benih berkualitas, sterilisasi media semai, pembuatan naungan, pengolahan lahan yang baik, menjaga pH tanah antara 6,5-7, serta aplikasi pupuk organik yang diperkaya Trichoderma sp.

4. Bercak Bakteri

Bercak Bakteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris. Penyakit ini umumnya menyerang tanaman cabai di musim hujan karena kondisi lembap sangat mendukung perkembangan bakteri patogen ini.

Gejala penyakit ini meliputi timbulnya bintik-bintik mendalam pada daun, buah, dan batang tanaman. Jika permukaan daun dibalik, akan terlihat lingkaran bercak hitam dengan bagian dalamnya berwarna putih. Serangan yang parah dapat menyebabkan permukaan daun bagian atas terasa kasar dan muncul bercak kuning yang meluas.

Untuk pencegahan, benih dapat direndam dalam air yang dicampur bakterisida sebelum disemai. Menjaga sanitasi kebun dengan rajin membersihkan sampah daun dan melakukan rotasi tanaman dengan jenis yang tidak sefamili dengan cabai juga sangat efektif. Jika sudah terinfeksi, musnahkan buah dan tanaman yang terserang, lalu aplikasikan pestisida berbahan aktif Tembaga Hidroksida, Tebukonazol, dan Trifloksistrobin.

5. Bercak Daun (Cercospora capsici)

Bercak Daun Serkospora, atau dikenal juga sebagai bercak daun mata katak, disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Kondisi lingkungan yang selalu hujan dan kelembapan tinggi sangat mendukung perkembangan jamur ini.

Gejala khas penyakit ini adalah munculnya bercak bulat berwarna cokelat pada daun, berukuran sekitar 1 inci dengan pusat berwarna pucat sampai putih dan tepi berwarna lebih tua. Bercak ini berkembang menjadi bundar besar hingga 1,5 cm yang membentuk cincin konsentris gelap di sekitar titik pusat keputihan. Titik pusat yang putih kadang terlihat kering dan pecah, menyerupai bekas lubang tembakan.

Daun yang terinfeksi akan menguning dan layu atau berguguran, menyebabkan buah terpapar sinar matahari langsung. Dalam kasus parah, bercak juga dapat ditemukan pada tangkai buah dan kelopak, seringkali mengakibatkan busuk pada ujung batang. Pencegahan meliputi pemilihan benih sehat, perbaikan drainase, pemilihan waktu tanam yang tepat, rotasi tanaman, dan sanitasi sisa-sisa tanaman. Penanganan dilakukan dengan memusnahkan tanaman sakit dan aplikasi fungisida berbahan aktif Carbendazim dan Propinep secara bergilir.

6. Busuk Akar

Busuk Akar pada tanaman cabai umumnya disebabkan oleh patogen tular tanah, terutama jamur Phytophthora capsici. Penyakit ini sangat sering terjadi selama periode hujan lebat karena penyebarannya melalui air.

Tanda paling jelas dari busuk akar adalah tanaman layu meskipun tanahnya lembap. Akar yang terinfeksi akan menunjukkan gejala bercak basah atau lesi kebasahan yang berwarna cokelat atau menghitam dan mudah hancur. Pembusukan ini menghambat aliran air dalam jaringan tanaman, menyebabkan daun menjadi layu, dan dapat mengakibatkan rendahnya produktivitas cabai hingga kematian tanaman.

Tanah yang terlalu basah membuat akar cabai tidak bisa bernapas dengan baik, sehingga daya tahan tanaman menurun. Pencegahan adalah strategi paling praktis, meliputi drainase lahan yang baik dengan bedengan tinggi, penyiraman yang tepat, penggunaan sistem irigasi selang hujan atau tetes, serta sanitasi tanaman terinfeksi. Rotasi tanaman dan penggunaan media tanam yang gembur juga sangat dianjurkan.

7. Rebah Semai (Damping-off)

Rebah Semai atau Rebah Kecambah adalah penyakit yang menyerang bibit cabai, disebabkan oleh infeksi jamur seperti Pythium spp. dan Rhizoctonia solani. Kondisi lingkungan yang lembap dan kepadatan tanam yang terlalu rapat dapat mempercepat penyebaran penyakit ini.

Gejala utama adalah pembusukan pada pangkal batang bibit cabai, yang menyebabkan bibit rebah dan mati. Infeksi bisa terjadi sebelum bibit muncul ke permukaan tanah (pre-emergence damping-off) atau setelah muncul (post-emergence damping-off). Pada tanaman muda yang baru ditanam di lahan, gejala bisa berupa batang cabai patah 2-4 hari setelah tanam karena pangkal batang menjadi lunak dan berair.

Perubahan cuaca ekstrem, terutama peralihan musim kemarau ke musim hujan, juga dapat memicu serangan rebah semai. Pencegahan meliputi penggunaan benih sehat dan bersertifikat, perlakuan benih dengan fungisida, penggunaan media tanam steril, pemberian jarak tanam yang cukup, drainase media semai yang baik, serta menghindari pupuk nitrogen berlebihan. Aplikasi cendawan Trichoderma spp. juga dapat membantu mengendalikan penyakit ini.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Penyakit Cabai di Musim Hujan

1. Mengapa tanaman cabai lebih mudah terserang penyakit saat musim hujan?

Jawaban: Karena kelembapan udara tinggi dan tanah lebih basah, kondisi ini sangat disukai jamur dan bakteri penyebab penyakit. Selain itu, sinar matahari yang berkurang membuat tanaman lebih lemah dan rentan infeksi.

2. Apa penyakit cabai yang paling sering muncul di musim hujan?

Jawaban: Beberapa yang paling umum adalah antraknosa (patek), busuk batang, layu bakteri, bercak daun, dan busuk akar. Penyakit ini bisa menyerang daun, batang, hingga buah cabai.

3. Apa ciri-ciri cabai terkena penyakit antraknosa (patek)?

Jawaban: Buah muncul bercak hitam atau cokelat yang makin lama membesar dan membusuk. Biasanya buah rontok sebelum matang dan tidak layak konsumsi.

4. Bagaimana tanda-tanda cabai terkena busuk batang atau busuk akar?

Jawaban: Batang bagian bawah terlihat cokelat kehitaman, lembek, dan tanaman tiba-tiba layu meski tanah masih basah. Jika dicabut, akar terlihat busuk dan berbau.

5. Apakah penyakit cabai bisa menular ke tanaman lain?

Jawaban: Ya, terutama penyakit yang disebabkan jamur dan bakteri bisa menyebar lewat air hujan, percikan tanah, alat berkebun, dan kontak antar tanaman.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |