7 Cara Mengolah Sisa Makanan Menjadi Pupuk Cair Organik untuk Tanaman

1 month ago 30
  • Apa itu Pupuk Cair Organik (PCO)?
  • Bahan sisa makanan apa saja yang cocok untuk membuat PCO?
  • Berapa lama proses pembuatan PCO dengan metode fermentasi anaerob?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Limbah dapur seringkali dianggap sebagai masalah, namun tahukah Anda bahwa sisa makanan dapat diubah menjadi sumber nutrisi berharga bagi tanaman Anda? Mengolah sisa makanan menjadi pupuk cair organik untuk tanaman adalah solusi cerdas untuk mengurangi sampah rumah tangga sekaligus menyuburkan kebun di rumah. Praktik ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga sangat ekonomis karena memanfaatkan bahan-bahan yang mungkin akan terbuang begitu saja.

Pupuk Cair Organik (PCO) dari sisa makanan merupakan inovasi berkelanjutan yang memberikan beragam manfaat signifikan. PCO membantu meningkatkan kesuburan tanah, menyediakan nutrisi esensial yang mudah diserap tanaman, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas metana dari tempat pembuangan akhir. Dengan demikian, kegiatan berkebun Anda akan menjadi lebih produktif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Melansir dari berbagai sumber, Sabtu (24/1), simak ulasan informasinya berikut ini.

Pengenalan Pupuk Cair Organik dan Manfaatnya

Pupuk Cair Organik (PCO) adalah larutan kaya nutrisi yang dihasilkan dari dekomposisi atau fermentasi bahan-bahan organik. Pupuk ini mengandung unsur hara makro dan mikro yang esensial, sehingga mudah diserap oleh tanaman untuk pertumbuhan optimal. PCO menjadi pilihan populer karena efektivitasnya dalam menutrisi tanaman secara alami.

Salah satu manfaat utama PCO adalah kemampuannya meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk ini memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation, dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi mikroorganisme tanah. PCO juga menyediakan nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, kalium, serta unsur mikro lainnya yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh subur.

Selain itu, penggunaan pupuk organik cair dari sisa makanan sangat ramah lingkungan. Praktik ini secara signifikan mengurangi jumlah limbah organik yang berakhir di TPA, sehingga turut membantu mengurangi emisi gas metana yang berbahaya bagi atmosfer. Tanaman yang diberi PCO juga cenderung memiliki daya tahan lebih baik terhadap serangan hama dan penyakit, menjadikannya lebih sehat dan kuat.

Memilih Bahan Baku: Sisa Makanan yang Cocok dan Tidak Cocok

Kunci keberhasilan dalam membuat pupuk cair organik terletak pada pemilihan bahan baku yang tepat dari sisa makanan. Sisa buah-buahan seperti kulit pisang, jeruk, atau apel, serta sisa sayuran seperti daun layu dan kulit kentang, sangat ideal karena kaya nutrisi dan mudah terurai. Jangan lupa untuk memotongnya menjadi bagian kecil agar proses dekomposisi lebih cepat.

Beberapa bahan lain yang sangat direkomendasikan adalah ampas kopi dan teh, yang juga kaya nutrisi. Nasi basi dapat dimanfaatkan sebagai sumber mikroorganisme lokal (MOL) yang efektif mempercepat fermentasi. Sementara itu, air cucian beras mengandung vitamin B1 dan nutrisi lain yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman. Gula merah atau molase juga penting sebagai sumber energi bagi mikroorganisme selama fermentasi.

Namun, ada beberapa jenis sisa makanan yang sebaiknya dihindari. Sisa makanan berminyak atau berlemak, seperti sisa gorengan atau kuah bersantan, dapat menghambat fermentasi dan menimbulkan bau busuk. Daging, tulang, dan produk susu juga tidak disarankan karena cenderung membusuk, menarik hama, dan menghasilkan bau tidak sedap. Pastikan juga sisa makanan tidak terkontaminasi bahan kimia seperti pestisida atau pembersih.

Metode Fermentasi Anaerob untuk Pupuk Cair Organik

Fermentasi anaerob adalah metode pembuatan pupuk cair organik yang melibatkan dekomposisi bahan organik tanpa kehadiran oksigen. Proses ini sering dibantu oleh mikroorganisme efektif (EM4) atau Mikroorganisme Lokal (MOL) serta sumber gula. Metode ini menghasilkan larutan nutrisi yang pekat dan stabil.

Untuk memulai, siapkan sisa makanan organik yang sudah dipotong kecil-kecil, air bersih (lebih baik air sumur atau hujan), EM4 atau MOL, serta molase atau gula merah yang dilarutkan. Anda juga memerlukan wadah kedap udara, seperti ember plastik dengan penutup rapat dan keran di bagian bawah, untuk memudahkan pemanenan.

Langkah pertama adalah menyiapkan larutan aktivator dengan mencampurkan 1 liter air bersih dengan 100 ml EM4 dan 100 gram gula merah/molase, lalu aduk hingga larut sempurna. Selanjutnya, masukkan sisa makanan ke dalam wadah hingga sekitar 3/4 penuh, kemudian tuangkan larutan aktivator hingga semua bahan terendam. Pastikan wadah tertutup rapat untuk menciptakan kondisi anaerob.

Proses fermentasi biasanya berlangsung selama 2-4 minggu di tempat teduh yang tidak terkena sinar matahari langsung. Selama periode ini, buka tutup wadah sesekali untuk membuang gas yang terbentuk (degassing) dan aduk perlahan jika memungkinkan. Pupuk cair organik siap dipanen ketika tercium bau khas fermentasi, bukan bau busuk.

Membuat Pupuk Cair Organik dengan Metode Fermentasi Aerob

Metode fermentasi aerob adalah alternatif pembuatan pupuk cair organik yang membutuhkan kehadiran oksigen, seringkali menghasilkan pupuk yang lebih cepat jadi namun memerlukan pengadukan rutin. Proses ini mengandalkan mikroorganisme yang bekerja dengan oksigen untuk menguraikan bahan organik.

Bahan yang dibutuhkan meliputi sisa makanan organik yang dipotong kecil-kecil, air bersih, dan gula merah/molase (opsional untuk mempercepat proses). Siapkan wadah terbuka seperti ember atau tong dengan penutup yang tidak kedap udara atau memiliki lubang ventilasi, serta pengaduk.

Setelah bahan disiapkan, masukkan sisa makanan ke dalam wadah. Tambahkan air dengan perbandingan sekitar 1 bagian sisa makanan berbanding 2-3 bagian air. Jika menggunakan gula merah atau molase, larutkan sekitar 50-100 gram per 10 liter air dan campurkan ke dalam adonan untuk memberi energi pada mikroorganisme.

Kunci dari metode aerob adalah pengadukan. Aduk campuran setiap hari atau setidaknya 2-3 hari sekali untuk memastikan aerasi yang cukup dan mencegah timbulnya bau busuk. Tutup wadah dengan longgar agar sirkulasi udara tetap terjaga. Proses ini umumnya memakan waktu 1-3 minggu, dan pupuk cair siap digunakan ketika bahan padat sudah banyak terurai serta cairan memiliki bau tanah atau fermentasi yang segar.

Metode Perendaman Sederhana untuk Ekstraksi Nutrisi

Metode perendaman sederhana, atau leaching, merupakan cara paling dasar untuk mengekstrak nutrisi dari sisa makanan. Meskipun kandungan nutrisinya mungkin tidak sekompleks hasil fermentasi, metode ini tetap efektif dan sangat mudah dilakukan bagi pemula.

Untuk metode ini, Anda hanya memerlukan sisa makanan organik yang dipotong sangat kecil atau dihaluskan, air bersih, wadah seperti ember atau baskom, dan kain saring. Memotong bahan menjadi bagian yang sangat kecil akan memaksimalkan pelepasan nutrisi ke dalam air. Kulit telur yang sudah dihancurkan juga bisa ditambahkan sebagai sumber kalsium.

Masukkan sisa makanan ke dalam wadah, lalu tuangkan air bersih hingga semua bahan terendam. Perbandingan yang umum digunakan adalah sekitar 1 bagian sisa makanan berbanding 5-10 bagian air. Pastikan semua bahan terendam sempurna agar proses ekstraksi berjalan optimal.

Biarkan sisa makanan terendam dalam air selama 3-7 hari, dan aduk sesekali untuk membantu pelepasan nutrisi. Wadah bisa ditutup longgar untuk mencegah masuknya serangga. Setelah masa perendaman, saring cairan untuk memisahkan ampas padat dari pupuk cair. Ampas padat yang tersisa masih dapat dimanfaatkan sebagai kompos padat atau dikubur di sekitar tanaman.

Penyaringan dan Pengenceran Pupuk Cair Organik

Setelah proses pembuatan pupuk cair organik selesai, langkah selanjutnya yang krusial adalah penyaringan dan pengenceran sebelum diaplikasikan ke tanaman. Penyaringan bertujuan untuk memisahkan partikel padat yang tidak terurai sempurna dari cairan pupuk. Hal ini penting agar pupuk yang dihasilkan bersih dan tidak menyumbat alat semprot atau pori-pori tanah saat aplikasi.

Gunakan alat penyaring yang tepat, seperti kain saring halus, saringan teh, atau kain kasa berlapis, untuk mendapatkan cairan yang jernih. Tuangkan pupuk cair yang sudah jadi melalui saringan ke dalam wadah penampung yang bersih. Ampas padat yang tertinggal dapat ditambahkan ke tumpukan kompos padat atau dikubur di sekitar tanaman sebagai pupuk padat, sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.

Pengenceran pupuk cair organik juga sangat penting. Pupuk yang baru jadi biasanya memiliki konsentrasi nutrisi tinggi dan pH yang bervariasi. Pengenceran diperlukan untuk mencegah "burning" atau kerusakan pada tanaman akibat konsentrasi pupuk yang terlalu pekat. Tanpa pengenceran yang tepat, pupuk justru bisa membahayakan tanaman.

Rasio pengenceran yang umum digunakan adalah 1:10 hingga 1:20 (1 bagian pupuk cair berbanding 10-20 bagian air bersih). Untuk tanaman muda atau bibit, disarankan menggunakan rasio yang lebih encer, misalnya 1:20 atau 1:30. Campurkan pupuk cair yang sudah disaring dengan air bersih sesuai rasio yang diinginkan sesaat sebelum aplikasi, agar kualitas pupuk tetap terjaga.

Aplikasi dan Penyimpanan Pupuk Cair Organik yang Efektif

Setelah pupuk cair organik siap, penting untuk mengetahui cara aplikasi yang benar agar manfaatnya maksimal bagi tanaman. Pupuk cair organik dapat disiramkan langsung ke media tanam di sekitar pangkal tanaman, membantu menyuburkan tanah dan menyediakan nutrisi langsung ke akar. Lakukan penyiraman ini pada pagi atau sore hari saat suhu tidak terlalu ekstrem.

Selain disiramkan ke tanah, PCO yang sudah diencerkan juga efektif jika disemprotkan langsung ke daun tanaman, atau dikenal sebagai foliar spray. Daun memiliki stomata yang mampu menyerap nutrisi secara langsung, memberikan efek yang lebih cepat pada tanaman. Waktu terbaik untuk penyemprotan daun adalah pagi hari sebelum pukul 09.00 atau sore hari setelah pukul 16.00, ketika stomata daun terbuka dan sinar matahari tidak terlalu terik.

Frekuensi aplikasi pupuk cair organik dapat disesuaikan dengan jenis dan kondisi tanaman. Umumnya, untuk tanaman sayuran dan hias, aplikasi dapat dilakukan 1-2 kali seminggu. Sementara itu, untuk tanaman buah, frekuensi 2-4 minggu sekali sudah cukup. Penting untuk mengamati respons tanaman dan menyesuaikan frekuensi serta konsentrasi pupuk sesuai kebutuhan.

Untuk penyimpanan, simpan pupuk cair organik dalam wadah tertutup rapat, seperti botol plastik bekas atau jerigen, guna mencegah kontaminasi dan penguapan. Pilih tempat yang sejuk, kering, dan tidak terkena sinar matahari langsung, karena suhu yang stabil akan membantu menjaga kualitas pupuk. Pupuk yang disimpan dengan benar dapat bertahan hingga beberapa bulan, bahkan lebih dari satu tahun, tanpa kehilangan banyak kualitasnya. Namun, jika tercium bau busuk atau muncul jamur yang tidak biasa, sebaiknya pupuk tidak digunakan.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Cara Mengolah Sisa Makanan Menjadi Pupuk Cair Organik untuk Tanaman

1. Apa itu Pupuk Cair Organik (PCO)?

Jawaban: Pupuk Cair Organik (PCO) adalah larutan kaya nutrisi hasil dekomposisi atau fermentasi bahan organik yang mudah diserap tanaman untuk pertumbuhan optimal.

2. Bahan sisa makanan apa saja yang cocok untuk membuat PCO?

Jawaban: Sisa buah dan sayuran, ampas kopi/teh, nasi basi, air cucian beras, serta gula merah/molase sangat cocok untuk membuat PCO.

3. Berapa lama proses pembuatan PCO dengan metode fermentasi anaerob?

Jawaban: Proses fermentasi anaerob biasanya memakan waktu 2-4 minggu, disimpan di tempat teduh dan wadah tertutup rapat.

4. Bagaimana cara mengaplikasikan PCO ke tanaman?

Jawaban: PCO dapat diaplikasikan dengan disiramkan ke media tanam di sekitar pangkal tanaman atau disemprotkan langsung ke daun setelah diencerkan.

5. Berapa rasio pengenceran PCO yang ideal sebelum digunakan?

Jawaban: Rasio pengenceran umum adalah 1:10 hingga 1:20 (1 bagian PCO berbanding 10-20 bagian air bersih), disesuaikan dengan usia tanaman.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |