Liputan6.com, Jakarta - Dispenser air merupakan perangkat penting di banyak rumah tangga untuk menyediakan air minum siap konsumsi, baik panas maupun dingin. Namun, perangkat ini rentan ditumbuhi lumut atau biofilm di bagian dalam tangki maupun saluran airnya karena sifatnya yang sering lembap, tertutup, dan jarang dibongkar. Masalah lumut pada dispenser tidak boleh dianggap sepele karena air yang tampak bersih sekalipun bisa saja tercemar jika saluran dispenser tidak terawat dengan baik.
Kelembapan tinggi, sisa air yang mengendap, kebersihan galon yang kurang, serta jarang dibersihkan menjadi penyebab utama dispenser berlumut. Paparan sinar matahari langsung juga dapat memicu pertumbuhan lumut karena mikroorganisme ini membutuhkan sinar untuk fotosintesis.
Mengonsumsi air yang terkontaminasi lumut dan bakteri dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan ringan seperti diare dan kram perut, hingga infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri patogen. Lantas apa saja tanda dispenser air berlumut yang sering diabaikan di rumah? Bagaimana cara membersihkannya? Melansir dari berbagai sumber, Senin (19/1), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Perubahan Visual pada Air dan Dispenser
Salah satu tanda paling jelas bahwa dispenser air Anda berlumut adalah adanya perubahan visual pada air atau bagian dalam dispenser. Perubahan ini dapat berupa lendir, noda, atau bahkan perubahan warna air itu sendiri yang menunjukkan adanya biofilm atau pertumbuhan mikroorganisme.
Lendir atau biofilm sering terlihat sebagai lapisan licin di dinding bagian dalam tangki, di sekitar keran, atau di dalam selang. Biofilm adalah kumpulan mikroorganisme yang menempel pada permukaan dan membentuk lapisan pelindung, menjadi tempat ideal bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak.
Selain itu, perhatikan adanya noda atau bintik-bintik berwarna gelap, hijau, atau hitam di area yang sulit dijangkau, seperti di sudut tangki atau di bawah penutup galon. Noda ini bisa jadi merupakan koloni lumut atau jamur yang mulai tumbuh dan mengindikasikan dispenser sudah kotor.
Jika lumut sudah sangat parah, air yang keluar dari dispenser mungkin terlihat keruh, kekuningan, atau bahkan kehijauan. Perubahan warna air ini adalah tanda bahwa kontaminasi sudah sangat meluas dan air tersebut tidak aman untuk dikonsumsi oleh keluarga.
2. Bau dan Rasa Air yang Tidak Sedap
Tanda lain yang sering diabaikan namun sangat penting adalah perubahan pada bau dan rasa air yang keluar dari dispenser. Air minum yang bersih seharusnya tidak memiliki bau atau rasa yang aneh, sehingga perubahan ini menjadi indikator kuat adanya masalah kebersihan.
Jika air dari dispenser mulai tercium bau apek, amis, atau bahkan seperti lumpur, ini adalah indikasi kuat adanya penumpukan kotoran, bakteri, atau mikroorganisme di dalam dispenser. Bau tidak sedap ini biasanya semakin terasa saat air pertama kali keluar dari keran setelah lama tidak digunakan.
Air yang terasa aneh, pahit, atau bahkan memiliki rasa logam dapat menandakan adanya penumpukan mineral seperti kalsium dan magnesium, serta pertumbuhan bakteri atau jamur berbahaya. Rasa yang tidak menyenangkan ini menunjukkan bahwa air sudah terkontaminasi dan tidak layak dikonsumsi.
Bau dan rasa tidak sedap ini seringkali disebabkan oleh filter air yang kotor, keran dispenser yang jarang dibersihkan, atau selang dispenser yang penuh jamur dan bakteri. Keran dispenser yang sering berkontak dengan lingkungan luar mudah kotor, sementara selang dispenser rentan lembap dan menjadi sarang kotoran.
3. Aliran Air Berkurang atau Tersumbat
Aliran air dari dispenser yang melambat atau bahkan tersumbat sepenuhnya adalah tanda yang sering diabaikan, namun dapat mengindikasikan adanya penumpukan lumut atau kotoran di dalam saluran air. Masalah ini tidak hanya mengganggu kenyamanan tetapi juga potensi bahaya kesehatan.
Air yang mengalir melalui dispenser sering mengandung mineral seperti kalsium dan magnesium, yang seiring waktu dapat menumpuk di dalam tabung dispenser. Penumpukan ini menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur, yang bersama biofilm dan lumut, dapat menghalangi aliran air.
Lumut halus atau lendir yang mengendap di dalam selang atau pipa dispenser dapat menyempitkan jalur air, menyebabkan aliran air menjadi kecil atau bahkan berhenti sama sekali. Kondisi ini juga bisa terjadi pada keran dispenser yang memiliki lubang kecil, sehingga perlu perhatian khusus.
Selain mengurangi kenyamanan, aliran air yang terhambat juga dapat membebani komponen dispenser, seperti pompa pada dispenser galon bawah, dan mengurangi efisiensi energi dispenser. Membersihkan dispenser secara menyeluruh dapat menghilangkan penyumbatan dan mengembalikan tekanan air ke kondisi optimal.
4. Lumut atau Jamur Terlihat di Bagian Luar Dispenser
Meskipun lumut atau jamur yang terlihat di bagian luar dispenser mungkin tidak langsung mencemari air minum, keberadaannya adalah indikator penting bahwa lingkungan di sekitar dispenser mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Kontaminasi dari luar dapat dengan mudah menyebar ke bagian dalam perangkat.
Baki tetes (drip tray) adalah area yang sering basah dan jarang dibersihkan, menjadikannya tempat yang sempurna untuk pertumbuhan lumut dan jamur. Jika Anda melihat bintik-bintik hijau, hitam, atau lendir di baki tetes, ini adalah tanda jelas bahwa dispenser Anda membutuhkan pembersihan segera.
Keran dispenser adalah bagian yang paling sering disentuh dan dapat menjadi sumber kontaminasi bakteri yang signifikan. Lumut atau jamur yang terlihat di sekitar keran, terutama di celah-celah atau di bawah tuas, menunjukkan bahwa area tersebut tidak bersih dan berpotensi mentransfer kuman.
Lumut atau jamur juga bisa tumbuh di bagian luar bodi dispenser, terutama di area yang lembap atau jarang dibersihkan. Ini bisa menjadi tanda bahwa lingkungan sekitar dispenser terlalu lembap, berdebu, atau ada percikan air yang tidak dibersihkan secara teratur, memicu pertumbuhan mikroorganisme.
5. Muncul Masalah Kesehatan yang Tidak Jelas
Tanda paling serius dan sering diabaikan adalah munculnya masalah kesehatan yang tidak jelas pada anggota keluarga, yang mungkin terkait dengan konsumsi air dari dispenser yang terkontaminasi. Gejala ini bisa menjadi peringatan penting yang tidak boleh diabaikan.
Jika anggota keluarga sering mengalami gangguan pencernaan seperti diare, mual, muntah, kram perut, atau bahkan demam tanpa penyebab yang jelas, ada kemungkinan air minum dari dispenser telah terkontaminasi. Air yang kotor dan berbau sangat mungkin terkontaminasi mikroba patogen, seperti bakteri E. coli atau Salmonella typhi.
Kontaminasi air minum secara terus-menerus dengan mikroba dan senyawa kimia juga dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang seperti penyakit tiroid dan kanker. Oleh karena itu, penting untuk segera mengambil langkah pembersihan dispenser secara rutin dan menyeluruh.
Cara Membersihkan Dispenser Air Berlumut
Membersihkan dispenser secara rutin sangat penting, idealnya setiap 2-4 minggu sekali, atau setidaknya sebulan sekali, untuk menjaga kualitas air minum.
1. Persiapan Awal:
- Matikan dispenser dan cabut kabel listrik dari stopkontak untuk menghindari risiko korsleting.
- Lepaskan galon air dan kosongkan sisa air di dalam tangki dispenser hingga benar-benar kosong.
- Sediakan wadah untuk menampung air kotor dan lakukan pembersihan di area yang memiliki drainase, seperti dapur atau kamar mandi.
- Siapkan alat dan bahan seperti sarung tangan karet, spons lembut, lap microfiber, sikat kecil atau sikat gigi bekas, air hangat, cuka putih, soda kue, dan sabun cair ringan.
2. Membersihkan Bagian Dalam Tangki dan Saluran Air:
- Jika model dispenser memungkinkan, buka penutup tangki bagian dalam.
- Tuangkan air panas ke dalam tangki dan diamkan beberapa menit untuk mematikan lumut dan mengangkat lendir.
- Untuk lumut yang sulit hilang, tambahkan larutan cuka putih (perbandingan 1:1 atau 2:1 dengan air hangat) atau soda kue ke dalam tangki. Cuka putih efektif membunuh bakteri dan jamur. Jangan pernah mencampur pemutih dan cuka karena dapat menghasilkan gas beracun.
- Gunakan sikat panjang atau spons untuk menggosok permukaan tangki yang berlumut.
- Untuk bagian saluran air, jalankan air panas melalui keran dispenser agar lumut dan kotoran yang menempel di dalam pipa ikut larut dan keluar. Anda juga bisa menuangkan larutan cuka ke dalam saluran air dan membiarkannya meresap sebelum dibilas.
- Kuras larutan pembersih melalui keran dispenser sampai habis.
3. Membersihkan Keran dan Nozel:
- Jika memungkinkan, lepaskan keran atau nozel dari housing.
- Rendam keran/nozel di larutan cuka atau air panas untuk membantu melarutkan kerak dan membersihkan bakteri.
- Gosok bagian dalam keran dengan sikat kecil atau sikat gigi bekas, lalu bilas hingga bersih sebelum dipasang kembali.
4. Membersihkan Bagian Luar dan Baki Tetes:
- Lap permukaan dispenser, termasuk tombol dan bodinya, dengan kain bersih yang dibasahi air sabun ringan. Hindari penggunaan bahan kimia keras.
- Lepaskan baki tetes dan cuci dengan deterjen ringan.
5. Pembilasan Akhir:
- Setelah selesai menggosok dan mengalirkan air, bilas tangki dan saluran dengan air bersih berkali-kali hingga tidak ada bau cuka atau residu soda yang tersisa.
- Isi ulang tangki dengan air bersih dan tiriskan lagi untuk menghilangkan sisa-sisa larutan, ulangi setidaknya dua kali.
- Biarkan bagian dalam mengering dengan membuka tutup dispenser dan membiarkannya terpapar udara agar kelembapan berkurang. Hindari langsung menutup atau menggunakan dispenser saat bagian dalam masih basah karena dapat memicu lumut kembali tumbuh.
Untuk mencegah lumut tumbuh kembali setelah dibersihkan, lakukan pembersihan ringan setiap mengganti galon, hindari membiarkan air menggenang, dan simpan dispenser di tempat yang tidak terlalu lembap. Selain itu, pastikan segel galon tidak rusak sebelum dipasang untuk menjaga kebersihan air.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Topik
1. Kenapa dispenser bisa berlumut?
Jawaban: Dispenser bisa berlumut karena kelembapan tinggi, sisa air yang mengendap, kebersihan galon yang kurang, serta jarang dibersihkan secara rutin.
2. Apa saja tanda dispenser berlumut yang sering diabaikan?
Jawaban: Tanda-tanda yang sering diabaikan meliputi perubahan visual (lendir, noda, warna air), bau dan rasa air yang tidak sedap, aliran air berkurang, lumut atau jamur di bagian luar, serta masalah kesehatan yang tidak jelas.
3. Apakah air yang terkontaminasi lumut berbahaya bagi kesehatan?
Jawaban: Ya, mengonsumsi air yang terkontaminasi lumut dan bakteri dapat menyebabkan gangguan pencernaan, infeksi bakteri seperti E. coli, dan masalah kesehatan jangka panjang.
4. Berapa sering dispenser air harus dibersihkan?
Jawaban: Dispenser air idealnya dibersihkan setiap 2-4 minggu sekali, atau setidaknya sebulan sekali, untuk menjaga kehigienisan dan kualitas air minum.
5. Bolehkah membersihkan dispenser dengan cuka?
Jawaban: Ya, cuka putih aman dan efektif digunakan sebagai bahan pembersih alami yang membantu membunuh bakteri dan jamur pada dispenser.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476914/original/062753400_1768803122-tips_ternak_ikan_nila__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479122/original/031799500_1768969304-teras_rumah_penuh_dengan_lumut_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501741/original/018482500_1770954839-unnamed__20_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510386/original/056051100_1771827221-Menambal_Panci_Bolong_dengan_Pasta_Gigi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510260/original/034248300_1771824015-Tempat_Tidur_Multifungsi_dengan_Laci_Penyimpanan_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399654/original/024759900_1761986069-unnamed_-_2025-11-01T153047.261.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466583/original/088057600_1767848985-kulkas_stailess.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3453887/original/059861500_1620644690-Photo_1_-_Inspirasi_Warna_Idul_Fitri_dari_Dulux_yang_Berikan_Ketenangan_Hati.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509150/original/021878200_1771658832-WhatsApp_Image_2026-02-21_at_14.12.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5007237/original/075205400_1731658154-cara-menghilangkan-bau-bangkai-tikus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443901/original/078602300_1765764990-Tikus_berkeliaran_di_sampah_dapur__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508739/original/032699400_1771591675-Kandang_Burung_di_Teras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2216745/original/005505100_1526533221-_2__776314-bagian-dapur-yang-jorok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505002/original/062992800_1771317781-desain_kebun_sayur_gang_sempit__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500598/original/060036200_1770871666-ilustrasi_tandon_air__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493186/original/056821500_1770196927-Rak_Bertingkat_untuk_Simpan_Wadah_Makanan_di_Dapur_Sempit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5222470/original/049368400_1747396063-id-11134207-7rbke-m6f5pkcsms2v3e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501745/original/014373900_1770954841-unnamed__22_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472800/original/077444100_1768376283-Lemari_Gantung_Melayang__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507059/original/099938800_1771482380-4ecc2106-4248-48f3-9cff-1293b05419e0.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429292/original/062234400_1764579561-Tanaman_Cabai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397519/original/027419100_1761810681-Galvanis_dan_Stainless.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4659718/original/012191600_1700712502-kanchanara-3ESepqQ5Yf0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4220943/original/011844600_1668039398-Kripto_3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133406/original/5400_1739534519-DALL__E_2025-02-14_19.00.40_-_A_vibrant_digital_illustration_showcasing_multiple_cryptocurrency_coins__including_Bitcoin__BTC___Ethereum__ETH___Binance_Coin__BNB___Solana__SOL___Do.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4372917/original/005900600_1679903027-27_maret_2023-1.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3932277/original/005220300_1644714392-13_februari_2022-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415133/original/051205500_1763361754-Unsplash_-James_Tiono.jpg)