Bitcoin Kalahkan S&P 500 hingga Emas Sejak Perang Iran, Tanda Comeback Kripto?

2 days ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin kembali menunjukkan sinyal penguatan di tengah ketidakpastian pasar global akibat konflik Iran. Mata uang kripto terbesar di dunia ini bahkan tercatat mampu mengungguli sejumlah aset utama seperti indeks saham dan emas sejak perang tersebut dimulai.

Saat bitcoin memasuki pekan penguatan terbaru, analis dari ProShares menyoroti tren positif yang sedang terjadi pada aset kripto tersebut.

Strategi investasi global ProShares, Simeon Hyman, menyampaikan pandangannya dalam program “ETF Edge” di CNBC. Menurutnya, kinerja bitcoin menunjukkan peran pentingnya sebagai instrumen diversifikasi di tengah gejolak pasar.

“Jika Anda melihat bitcoin, nilainya sedikit naik sementara saham justru turun sejak perang Iran dimulai,” ujar Hyman dikutip dari CNBC, Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan, kondisi ini menunjukkan bahwa narasi bitcoin sebagai alat diversifikasi portofolio masih relevan dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian.

“Saya pikir cerita mengenai diversifikasi benar-benar terbukti dalam lingkungan pasar seperti sekarang,” kata Hyman.

Kinerja Bitcoin Lebih Baik Dibanding Saham Global

Data hingga penutupan pasar pada Jumat menunjukkan bitcoin naik sekitar 5 persen dalam sepekan, dengan sebagian besar kenaikan terjadi dalam rentang waktu 24 jam.

Secara keseluruhan, bitcoin juga tercatat menguat sekitar 8 persen sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.

Sebaliknya, sejumlah aset utama justru mengalami penurunan. Indeks S&P 500 dan emas tercatat turun lebih dari 3 persen sejak konflik tersebut dimulai. Sementara itu, indeks teknologi Nasdaq Composite juga melemah lebih dari 2 persen.

ProShares sendiri dikenal aktif di sektor investasi kripto dan mengelola lebih dari selusin ETF berbasis mata uang kripto.

Perusahaan tersebut bahkan baru meluncurkan produk ProShares CoinDesk 20 Crypto ETF (KRYP) pada bulan lalu. Sejak perang Iran dimulai, dana tersebut naik hampir 5 persen, meski masih turun sekitar 7 persen sejak pertama kali diluncurkan pada awal Februari.

Meski menunjukkan penguatan dalam beberapa pekan terakhir, harga bitcoin masih berada jauh di bawah rekor tertingginya.

Analis Sebut Bitcoin Masih dalam Fase Crypto Winter

Bitcoin saat ini masih tercatat turun lebih dari 40 persen dari rekor tertinggi USD 126.198 yang dicapai pada Oktober tahun lalu.

CEO sekaligus pendiri Main Management, Kim Arthur, menilai kondisi ini merupakan bagian dari siklus alami dalam industri kripto yang dikenal sebagai crypto winter.

Fenomena ini biasanya terjadi sekitar setiap empat tahun dalam pasar kripto.

Menurut Arthur, bitcoin saat ini kemungkinan berada pada fase dasar atau bottoming stage sebelum potensi pemulihan lebih lanjut.

“Bitcoin diperdagangkan di sekitar USD 125.000 lima bulan lalu. Jadi nilainya sudah turun lebih dari 50 persen ketika konflik ini pecah,” ujar Arthur dalam wawancara yang sama.

Meski demikian, ia mengakui kinerja bitcoin tetap menarik dibandingkan sejumlah kelas aset lain sejak konflik Iran dimulai.

“Saya menyukai fakta bahwa bitcoin mampu mengungguli banyak kelas aset lain sejak perang ini, tetapi kita juga perlu melihat gambaran yang lebih luas,” kata Arthur.

Jadi Tolok Ukur Utama

Dalam strateginya saat ini, Arthur mengaku memilih pendekatan investasi yang lebih pasif terhadap bitcoin.

Ia bahkan menjadikan bitcoin sebagai tolok ukur utama dalam menilai performa aset lain dalam portofolionya.

“Sebagai pengalokasi aset dan manajer portofolio, saya melihat bitcoin sebagai benchmark saya, lalu membandingkan aset lainnya dengan itu,” ujarnya.

Dalam lima tahun terakhir, mata uang digital ini tercatat telah naik sekitar 15 persen.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |