Bitcoin Beri Kejutan di Tengah Perang Iran

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Kripto terutama bitcoin (BTC) telah menonjol sebagai pemenang di antara kelas aset sejak pecahnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Akan tetapi, ketahanan aset digital mungkin bergantung pada waktu.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (18/3/2026), bitcoin yang tercatat sebagai kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar dan sejumlah aset digital lebih kecil telah menjadi oasis ketenangan terhadap volatilitas di pasar saham, emas dan minyak.

Sementara itu, harga minyak mentah melonjak lebih dari 40%, harga emas turun sekitar 5% pada bulan ini dan indeks MSCI World turun 4%.

Sementara itu, harga bitcoin menembus angka psikologis penting di USD 75.000 atau Rp 1,27 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.950) pada Selasa, 17 Maret 2026.

Namun, pada perdagangan Rabu sore pukul 15.14 WIB, harga bitcoin turun 0,29% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin naik 6,29%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 74.019 atau Rp 1,25 miliar.

Adapun kenaikan harga bitcoin sejak perang dimulai pada akhir Februari mencapai hampir 14%.

Ini menandai kontras yang tajam dengan penurunan drastis pada Oktober, yang menyebabkan nilai kripto tersebut turun setengahnya dari puncaknya di atas USD 126.000. Namun, pemulihan sementara yang dimulai pada akhir Februari di tengah ketidakpastian geopolitik telah meningkat pesat bulan ini, karena para pedagang kripto kembali berinvestasi di dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).

“Ketahanan Bitcoin di sini bukan hanya tentang narasi, tetapi lebih tentang mekanisme,” ujar Analis BTC Markets, Rachael Lucas.

“Pembeli institusional, khususnya perusahaan-perusahaan besar, menyerap pasokan setiap kali terjadi penurunan,” ia menambahkan.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot di AS telah mencatat arus masuk sekitar USD 1,5 miliar atau Rp 25,42 triliun bulan ini.

Faktor Pendorong Sinyal Bullish di Bitcoin

Kepala Riset 10x Research, Markus Thielen menuturkan, sinyal bullish terbaru di pasar kripto tampaknya sebagian didorong oleh para trader yang menutup taruhan opsi Bitcoin akan terus jatuh di bawah level USD 55.000 hingga USD 60.000.Saat para trader menutup posisi negatif mereka, Bitcoin menguat.

“Penjualan atau penutupan opsi put Bitcoin mengurangi tekanan hedging penurunan dan memaksa pelaku pasar untuk membeli BTC guna menyeimbangkan kembali eksposur mereka, menciptakan arus pendukung yang dapat mendorong harga lebih tinggi,” tulis Thielen dalam sebuah catatan riset.

Menurut data dari platform perdagangan derivatif Deribit, sekitar USD 1,5 miliar opsi jual (put option) Bitcoin terkonsentrasi di sekitar USD 60.000, sementara ada USD 1,3 miliar opsi beli (call option) di USD 75.000.

Bitcoin sempat anjlok setelah AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman terhadap Iran pada 28 Februari, jatuh hingga serendah USD 63.038.

“Reli selanjutnya "didukung oleh posisi yang sebenarnya," ujar Managing Partner Tokenize Capital, Hayden Hughes.

"Apa yang dimulai sebagai pemulihan yang didukung secara struktural telah beralih menjadi perdagangan momentum, di mana pemegang posisi awal telah mengambil keuntungan," ia menambahkan.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Strategy Beli Bitcoin Rp 26,63 Triliun, Terbesar Sepanjang 2026

Sebelumnya, Strategy membeli bitcoin (BTC) senilai USD 1,57 miliar atau Rp 26,63 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.960) pada pekan lalu. Aksi beli itu termasuk pembelian terbesar oleh Strategy pada 2026 sebesar 22.337 BTC. Hal ini seiring meningkatnya permintaan terhadap STRC, saham preferen dengan suku bunga variabelnya.

Mengutip Yahoo Finance, Selasa (17/3/2026), pekan lalu, perusahaan pembeli bitcoin ini mengumpulkan hampir USD 1,2 miliar atau Rp 20,35 triliun melalui produk yang memberikan dividen. Angka ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan pendapatan USD 377 dari STRC pekan sebelumnya.

Perusahaan yang berbasis di Tysons Corner, Virginia ini sekarang memiliki sekitar 761.000 bitcoin, berdasarkan siaran pers. Dengan bitcoin yang baru-baru ini diperdagangkan sekitar USD 73.340 atau Rp 1,24 miliar, jumlah itu bernilai sekitar USD 55,8 miliar atau Rp 946,59 triliun, berdasarkan data CoinGecko.

Saham Strategy

Seiring bitcoin telah jatuh dalam beberapa bulan terakhir, persedian Strategy menunjukkan kerugian besar di atas kertas. Namun, seiring bitcoin yang semakin mendekati rata-rata harga pembelian sekitar USD 76.700 atau Rp 1,3 miliar, kepemilikan bitcoin perusahaan hanya turun USD 1,7 miliar pada Senin pekan ini.

Harga saham Strategy melonjak ke level tertinggi 45 hari di USD 148 pada Senin, dan baru-baru ini diperdagangkan naik 4% pada hari itu di USD 145,40, menurut Yahoo Finance. Namun, saham telah turun lebih dari 56% selama enam bulan terakhir.

Sejak STRC diluncurkan pada Juli, Strategy telah menggunakan saham preferen sebagai sumber pendanaan alternatif dibandingkan dengan saham biasa. Produk ini saat ini memberikan imbal hasil 11,5%, yang berarti pembayaran bulanan sekitar $0,9583 per STRC untuk investor.

Setelah pembelian terbaru Strategy, STRC memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 5 miliar, yang mewakili peningkatan nilai produk sebesar 30% selama bulan lalu. Sebelumnya, salah satu pendiri dan Ketua Eksekutif Strategy menyebut STRC sebagai "momen iPhone" perusahaan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |