Liputan6.com, Jakarta - Emas merupakan salah satu logam mulia yang paling banyak diminati sebagai instrumen investasi maupun perhiasan. Nilainya yang stabil dan keindahannya yang abadi menjadikannya pilihan favorit banyak orang. Namun, maraknya peredaran emas palsu di pasaran menuntut kewaspadaan ekstra dari pembeli.
Mengetahui cara membedakan emas asli dan imitasi menjadi keterampilan penting bagi siapa saja yang ingin berinvestasi atau membeli perhiasan emas. Banyak kasus pemalsuan emas merugikan konsumen karena kurangnya pengetahuan dalam mengidentifikasi keaslian logam mulia ini.
Cara membedakan emas asli dan imitasi ini dapat diterapkan baik untuk emas batangan maupun perhiasan, memastikan Anda mendapatkan nilai investasi yang sebenarnya. Melansir dari berbagai sumber, Senin (22/12/2025), simak ulasan informaisnya berikut ini.
1. Warna dan Kilau
Emas asli memiliki karakteristik warna kuning khas yang konsisten di seluruh permukaannya. Kilau yang dihasilkan pun lembut namun tetap memancarkan gemerlap, tidak terlalu cemerlang berlebihan. Warnanya tidak akan berubah atau memudar meskipun terpapar air, sabun, atau bahan kimia lainnya seiring waktu.
Sebaliknya, emas palsu sering menunjukkan warna yang tidak merata, terlalu mengkilap, atau bahkan cenderung terlalu kuning atau pucat. Jika ditemukan tanda-tanda karat atau korosi pada permukaan, ini adalah indikasi kuat bahwa benda tersebut bukan emas asli. Emas asli mempertahankan warnanya yang cemerlang dan mengkilap tanpa perubahan.
Penting untuk mengamati permukaan emas di bawah pencahayaan yang baik. Emas asli akan menunjukkan warna yang konsisten dan kilau hangat, berbeda dengan emas berlapis atau palsu yang mungkin terlihat terlalu reflektif atau menunjukkan perubahan warna seiring waktu. Konsistensi warna adalah kunci utama dalam identifikasi awal keaslian emas.
2. Tanda atau Cap (Hallmarks/Stamps)
Perhiasan emas asli umumnya dilengkapi dengan tanda atau cap khusus yang menunjukkan kadar kemurniannya. Cap ini bisa berupa angka seperti 1-999 yang menandakan persentase kemurnian, atau dalam bentuk karat seperti 10K, 18K, 22K, atau 24K. Angka 999, misalnya, menunjukkan emas murni 99,9%, sementara 24K berarti 99,9% emas murni.
Cap ini biasanya terletak di bagian perhiasan yang tidak mencolok, seperti bagian dalam cincin atau pengait kalung. Keberadaan cap ini menjadi indikator penting keaslian dan kualitas emas yang sah. Memeriksa cap ini adalah langkah awal yang krusial dalam membedakan emas asli dan imitasi.
Jika perhiasan tidak memiliki cap sama sekali, atau jika capnya tidak sesuai dengan standar yang berlaku, ada kemungkinan besar emas tersebut palsu atau hanya berlapis emas. Contohnya, cap "K18GP" mengindikasikan bahwa perhiasan tersebut hanya berlapis emas (gold-plated) dan bukan emas padat.
3. Uji Magnet
Emas murni memiliki sifat non-magnetis, yang berarti ia tidak akan tertarik oleh magnet kuat. Oleh karena itu, jika sebuah benda emas menunjukkan reaksi terhadap magnet, kemungkinan besar benda tersebut bukan emas murni. Reaksi ini menandakan adanya campuran logam lain yang bersifat magnetis, seperti besi atau nikel.
Namun, perlu diperhatikan bahwa beberapa logam non-magnetis lainnya, seperti aluminium, juga tidak bereaksi terhadap magnet. Selain itu, perhiasan emas dengan kadar tinggi pun mungkin mengandung sedikit campuran logam lain yang bisa menyebabkan reaksi magnetis yang sangat lemah. Uji magnet ini lebih akurat untuk emas batangan 24 karat yang seharusnya tidak menunjukkan reaksi sama sekali.
Jika perhiasan menempel pada magnet, ini menjadi indikasi kuat bahwa perhiasan tersebut bukan emas murni atau memiliki kandungan logam campuran yang signifikan. Uji ini merupakan cara sederhana namun efektif untuk membedakan emas asli dan imitasi di rumah.
4. Uji Berat/Kepadatan (Density Test)
Emas dikenal sebagai logam yang sangat padat, sehingga emas asli akan terasa lebih berat dibandingkan dengan logam lain yang memiliki ukuran serupa. Kepadatan emas murni 24 karat adalah sekitar 19,3 gram per mililiter (g/ml) atau 19,3 gram per cm³. Properti ini menjadikannya unik di antara logam lainnya.
Untuk melakukan uji kepadatan, Anda dapat menimbang benda emas dan membandingkan beratnya dengan volume air yang dipindahkan. Metode ini memerlukan perhitungan yang lebih presisi untuk hasil yang akurat, seringkali dilakukan oleh profesional. Emas asli adalah logam berat dan tidak akan mengapung di air.
Jika emas terasa ringan untuk ukurannya, kemungkinan besar itu adalah emas palsu. Emas palsu umumnya tidak memiliki kepadatan setinggi emas asli dan bisa terasa terlalu ringan atau bahkan terlalu berat jika dibandingkan dengan emas asli dengan dimensi yang sama.
5. Uji Goresan pada Keramik (Ceramic Scratch Test)
Salah satu metode sederhana untuk menguji keaslian emas adalah dengan menggoreskannya pada permukaan keramik yang tidak diglasir. Emas asli akan meninggalkan goresan berwarna keemasan atau kuning terang pada keramik tersebut. Ini adalah indikator visual yang jelas.
Sebaliknya, jika goresan yang muncul berwarna hitam, atau tidak ada bekas sama sekali, ini mengindikasikan bahwa emas tersebut palsu atau hanya berlapis. Emas palsu atau campuran biasanya akan meninggalkan garis hitam karena kandungan logam campurannya.
Meskipun metode ini cukup efektif untuk membedakan emas asli dan imitasi, perlu diingat bahwa proses pengujian ini dapat sedikit merusak permukaan emas. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan uji goresan dengan hati-hati pada bagian yang tidak terlalu terlihat atau pada bagian yang memang ditujukan untuk pengujian.
6. Uji Asam Nitrat/Cuka (Nitric Acid/Vinegar Test)
Emas asli memiliki ketahanan terhadap asam nitrat, sehingga tidak akan bereaksi terhadap tetesan asam ini. Namun, emas palsu akan menunjukkan perubahan warna yang spesifik ketika bereaksi dengan asam nitrat. Misalnya, warna kuning keemasan menunjukkan kuningan berlapis emas, hijau menandakan besi berlapis emas, dan putih susu menunjukkan perak berlapis emas.
Pengujian serupa juga dapat dilakukan menggunakan cuka. Emas asli tidak akan menunjukkan perubahan warna atau noda ketika terkena cuka. Sebaliknya, emas palsu mungkin akan menunjukkan tanda-tanda perubahan warna atau noda akibat reaksi dengan asam cuka. Ini menunjukkan adanya logam lain yang bereaksi dengan asam.
Meskipun metode ini cukup akurat, sangat penting untuk berhati-hati karena asam nitrat bersifat korosif dan berbahaya bagi pernapasan. Pengujian ini lebih sering digunakan oleh profesional karena potensi risiko kerusakan pada perhiasan dan bahaya bagi penguji, sehingga tidak disarankan untuk dilakukan sendiri tanpa keahlian.
7. Perubahan Warna pada Kulit (Skin Discoloration Test)
Emas asli tidak akan bereaksi dengan kulit manusia dan tidak menyebabkan perubahan warna pada kulit yang bersentuhan dengannya. Ini adalah salah satu indikator sederhana namun efektif untuk membedakan emas asli dari imitasi. Emas murni bersifat inert dan tidak akan bereaksi dengan keringat.
Jika perhiasan yang dianggap emas dikenakan selama beberapa menit, dan kulit di bawahnya berubah menjadi agak gelap atau kehijau-hijauan, ini adalah tanda kuat bahwa perhiasan tersebut palsu. Perubahan warna ini terjadi karena reaksi kimia antara keringat kulit dengan logam campuran yang ada pada emas palsu, seperti tembaga atau nikel.
Untuk melakukan pengujian ini, cukup pegang benda emas di tangan selama beberapa menit. Jika itu palsu, reaksi antara keringat kulit dan logam paduan dapat menyebabkan kulit berubah menjadi hijau atau hitam. Ini adalah cara cepat untuk mendapatkan indikasi awal keaslian emas.
8. Uji Suara (Sound Test/Ping Test)
Ketika emas asli dijatuhkan pada permukaan keras, seperti keramik, ia akan menghasilkan suara dering yang khas. Suara ini biasanya nyaring, panjang, dan bernada agak tinggi, sering disebut sebagai "ping test". Emas batangan asli, karena bentuknya yang padat, akan menghasilkan suara yang tetap nyaring.
Sebaliknya, emas palsu cenderung menghasilkan suara dering yang lebih pendek, kurang jelas, atau tumpul. Logam dasar yang digunakan pada emas palsu tidak memiliki resonansi yang sama dengan emas murni. Perbedaan ini cukup mencolok bagi telinga yang terlatih.
Logam mulia akan menghasilkan suara dering yang panjang dan bernada tinggi saat dipukul, berbeda dengan logam dasar yang suaranya akan lebih tumpul dan jauh lebih pendek. Perbedaan karakteristik suara ini dapat menjadi petunjuk awal keaslian emas, meskipun memerlukan sedikit latihan untuk membedakannya dengan akurat.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Bagaimana cara membedakan emas asli dan palsu dari warnanya?
Jawaban: Emas asli memiliki warna kuning khas yang konsisten dan kilau lembut, tidak memudar atau berkarat, sedangkan emas palsu warnanya tidak merata atau terlalu mengkilap.
2. Apakah emas asli tertarik magnet?
Jawaban: Tidak, emas murni tidak memiliki sifat magnetis. Jika emas tertarik magnet, kemungkinan besar itu bukan emas murni atau mengandung campuran logam lain.
3. Apa itu cap atau hallmark pada emas?
Jawaban: Cap atau hallmark adalah tanda khusus pada emas asli yang menunjukkan kadar kemurniannya, seperti 24K atau 999, biasanya terletak di bagian yang tidak mencolok.
4. Bagaimana cara menguji emas dengan goresan keramik?
Jawaban: Gosokkan emas pada keramik tidak diglasir; emas asli akan meninggalkan goresan kuning keemasan, sementara emas palsu akan meninggalkan goresan hitam atau tidak berbekas.
5. Mengapa kulit bisa berubah warna saat memakai emas palsu?
Jawaban: Perubahan warna kulit (gelap atau kehijauan) terjadi karena reaksi kimia antara keringat kulit dengan logam campuran (seperti tembaga atau nikel) pada emas palsu.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507857/original/034935200_1771556198-Gunakan_Gelombang_Ultrasonik__Si_Suara_Pengusir_Tikus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476914/original/062753400_1768803122-tips_ternak_ikan_nila__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479122/original/031799500_1768969304-teras_rumah_penuh_dengan_lumut_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501741/original/018482500_1770954839-unnamed__20_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510386/original/056051100_1771827221-Menambal_Panci_Bolong_dengan_Pasta_Gigi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510260/original/034248300_1771824015-Tempat_Tidur_Multifungsi_dengan_Laci_Penyimpanan_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399654/original/024759900_1761986069-unnamed_-_2025-11-01T153047.261.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466583/original/088057600_1767848985-kulkas_stailess.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3453887/original/059861500_1620644690-Photo_1_-_Inspirasi_Warna_Idul_Fitri_dari_Dulux_yang_Berikan_Ketenangan_Hati.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509150/original/021878200_1771658832-WhatsApp_Image_2026-02-21_at_14.12.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5007237/original/075205400_1731658154-cara-menghilangkan-bau-bangkai-tikus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443901/original/078602300_1765764990-Tikus_berkeliaran_di_sampah_dapur__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508739/original/032699400_1771591675-Kandang_Burung_di_Teras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2216745/original/005505100_1526533221-_2__776314-bagian-dapur-yang-jorok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505002/original/062992800_1771317781-desain_kebun_sayur_gang_sempit__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500598/original/060036200_1770871666-ilustrasi_tandon_air__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493186/original/056821500_1770196927-Rak_Bertingkat_untuk_Simpan_Wadah_Makanan_di_Dapur_Sempit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5222470/original/049368400_1747396063-id-11134207-7rbke-m6f5pkcsms2v3e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501745/original/014373900_1770954841-unnamed__22_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472800/original/077444100_1768376283-Lemari_Gantung_Melayang__Gemini_AI_.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429292/original/062234400_1764579561-Tanaman_Cabai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397519/original/027419100_1761810681-Galvanis_dan_Stainless.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4659718/original/012191600_1700712502-kanchanara-3ESepqQ5Yf0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4220943/original/011844600_1668039398-Kripto_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4372917/original/005900600_1679903027-27_maret_2023-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133406/original/5400_1739534519-DALL__E_2025-02-14_19.00.40_-_A_vibrant_digital_illustration_showcasing_multiple_cryptocurrency_coins__including_Bitcoin__BTC___Ethereum__ETH___Binance_Coin__BNB___Solana__SOL___Do.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415133/original/051205500_1763361754-Unsplash_-James_Tiono.jpg)