Ternyata Keberuntungan Bisa Kita Ciptakan Sendiri, Begini Caranya Menurut Ilmu Sains

8 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Selama ini banyak orang menganggap keberuntungan sebagai sesuatu yang datang begitu saja tanpa bisa dikendalikan. Namun hal ini dibantah oleh ilmu psikologi yang termasuk dari sains. American Psychological Association (APA), melalui Dictionary of Psychology di laman resminya, tertulis konsep locus of control, yaitu keyakinan seseorang terhadap seberapa besar kendali yang ia miliki atas kejadian dalam hidupnya, termasuk soal nasib baik dan nasib buruk.

Psikolog Richard Wiseman dari University of Hertfordshire, Inggris, menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam meneliti banyak orang yang menyebut diri mereka sangat beruntung dan sangat tidak beruntung. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa keberuntungan bukan semata soal kebetulan, melainkan hasil dari cara berpikir dan bertindak yang bisa dipelajari siapa saja.

"Lucky people are skilled at creating, noticing and acting upon chance opportunities. They do this in various ways, including networking, adopting a relaxed attitude to life and by being open to new experiences," tulis Richard di laman resminya, richardwiseman.wordpress.com.

Temuan ini lantas membuka pandangan baru bahwa nasib baik tidak selalu datang dari luar diri seseorang, namun bisa diciptakan dengan memahami pola pikir dan kebiasaan yang biasa dimiliki orang-orang. Lantas bagaimana caranya? Untuk mengetahuinya, simak informasi selengkapnya, dihadirkan Liputan6, Jumat (14/8).

Ilmu di Balik Konsep Keberuntungan

Dalam dunia psikologi, keyakinan terhadap nasib baik berkaitan erat dengan konsep locus of control yang pertama kali dikembangkan oleh Julian Rotter. Orang dengan locus of control internal cenderung percaya bahwa hasil dalam hidupnya ditentukan oleh usaha dan pilihannya sendiri, sementara orang dengan locus of control eksternal lebih sering mengaitkan hasil dengan nasib atau keadaan di luar dirinya.

Penelitian Wiseman menemukan bahwa orang yang menyebut diri beruntung punya lima kebiasaan psikologis yang sama. Lima kebiasaan itu meliputi kemampuan menangkap peluang, membangun jaringan sosial, mendengarkan intuisi, memiliki harapan positif terhadap masa depan, serta cara mengubah kejadian buruk menjadi pelajaran atau peluang baru.

Konsep ini juga sejalan dengan penelitian tentang belief in good luck scale yang dikembangkan Darke dan Freedman. Skor keyakinan terhadap nasib baik pada skala tersebut terbukti berkaitan dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi serta tingkat kecemasan dan gejala depresi yang lebih rendah pada individu yang mengisinya.

1. Peka Terhadap Peluang di Sekitar

Dalam salah satu eksperimen, Wiseman meminta partisipan menghitung jumlah foto dalam sebuah koran. Di tengah halaman koran itu terdapat pesan besar yang menyatakan bahwa partisipan bisa berhenti menghitung karena ada hadiah uang di halaman tersebut.

Partisipan yang menganggap diri tidak beruntung cenderung terlalu fokus pada tugas menghitung foto sehingga melewatkan pesan itu. Sebaliknya, partisipan yang menganggap diri beruntung lebih santai dan lebih mudah menyadari hal-hal di luar rencana awal mereka.

Pola ini menjelaskan mengapa sebagian orang tampak lebih sering bertemu peluang. Bukan karena peluang itu memang lebih banyak muncul di hadapan mereka, melainkan karena cara pandang mereka membuat peluang itu lebih mudah terlihat dan tidak terlewat begitu saja.

2. Membangun dan Menjaga Jaringan Sosial

Wiseman menemukan bahwa orang yang menganggap diri beruntung terbiasa memperluas lingkaran pertemanan dan menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Kebiasaan ini membuat mereka lebih sering mendapat informasi, ajakan, atau perkenalan baru yang kemudian tampak sebagai kejadian kebetulan yang menguntungkan.

Jaringan sosial yang luas juga membuka jalan bagi hal-hal yang sulit direncanakan sebelumnya. Sebuah obrolan singkat dengan orang baru bisa saja berujung pada peluang kerja, kerja sama, atau pertemanan yang bertahan lama, sesuatu yang sulit terjadi jika seseorang menutup diri dari interaksi sosial.

Kebiasaan menjaga hubungan ini tidak selalu berarti membangun relasi baru setiap saat. Menghubungi kembali teman lama atau menyapa kenalan yang sudah lama tidak berkomunikasi juga termasuk cara sederhana untuk memperluas jaringan yang pada akhirnya memperbesar peluang bertemu kejadian baik.

3. Percaya Pada Intuisi dan Firasat

Wiseman mencatat bahwa orang yang menganggap diri beruntung lebih terbiasa mendengarkan firasat dalam mengambil keputusan, baik soal pekerjaan, hubungan, maupun pilihan hidup lainnya. Kebiasaan ini bukan berarti mengabaikan logika, melainkan menambahkan pertimbangan dari pengalaman yang terekam secara tidak sadar.

Kebiasaan mendengarkan intuisi juga sering muncul bersamaan dengan sikap terbuka terhadap pengalaman baru. Orang dengan sikap ini lebih mudah mencoba hal yang belum pernah dilakukan sehingga peluang bertemu kejadian baik pun ikut bertambah.

Riset di bidang psikologi kognitif turut mendukung gagasan bahwa intuisi merupakan hasil kerja otak dalam mengolah pengalaman masa lalu secara cepat. Dengan kata lain, firasat yang sering dianggap sebagai nasib baik sebenarnya berasal dari proses berpikir yang telah terlatih dari waktu ke waktu.

4. Menjaga Harapan Terhadap Masa Depan

Orang yang menganggap diri beruntung cenderung yakin bahwa masa depan mereka akan tetap baik meski sedang menghadapi kesulitan. Keyakinan ini membuat mereka tidak mudah menyerah dan tetap berusaha mengejar tujuan yang sudah ditetapkan.

Sikap optimis semacam ini turut memengaruhi cara seseorang menetapkan target dan menjalani proses mencapainya. Semakin kuat harapan terhadap hasil yang baik, semakin besar pula dorongan untuk terus mencoba meski menghadapi hambatan di tengah jalan.

Penelitian tentang locus of control internal menunjukkan pola serupa, yaitu kaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi serta pencapaian yang lebih konsisten di bidang pekerjaan maupun pendidikan. Harapan yang terjaga membuat seseorang tetap bergerak alih-alih menunggu keadaan berubah dengan sendirinya.

5. Mengubah Nasib Buruk Menjadi Pelajaran

Kebiasaan terakhir yang ditemukan Wiseman adalah cara orang beruntung memaknai kejadian buruk yang menimpa mereka. Alih-alih larut dalam kekecewaan, mereka membayangkan bagaimana keadaan bisa saja lebih buruk dan mencari sisi yang masih bisa disyukuri.

Cara pandang ini membantu seseorang bangkit lebih cepat setelah mengalami kegagalan atau musibah. Kejadian buruk tidak dijadikan alasan untuk berhenti, melainkan bahan evaluasi agar kejadian serupa bisa dicegah di kemudian hari.

Wiseman menyebut kebiasaan ini sebagai kunci utama yang membedakan orang beruntung dan tidak beruntung dalam jangka panjang. Kemampuan mengubah nasib buruk menjadi pelajaran pada akhirnya membentuk pola hidup yang membuat peluang baik lebih sering ditemukan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Keberuntungan Bisa Kita Ciptakan Sendiri

1. Apakah keberuntungan benar-benar bisa dipelajari menurut sains?

Menurut penelitian Richard Wiseman, hal ini berkaitan dengan pola pikir dan kebiasaan yang bisa dipelajari, bukan semata bawaan atau kebetulan.

2. Apa hubungan locus of control dengan keberuntungan?

American Psychological Association menjelaskan locus of control sebagai keyakinan seseorang atas kendali terhadap hidupnya, termasuk cara memandang nasib baik dan nasib buruk.

3. Apa saja kebiasaan orang yang dianggap beruntung?

Penelitian Wiseman mencatat lima kebiasaan, yaitu peka terhadap peluang, membangun jaringan sosial, percaya pada intuisi, menjaga harapan pada masa depan, dan mengubah nasib buruk menjadi pelajaran.

4. Mengapa sebagian orang lebih mudah menemukan peluang?

Orang yang lebih santai dan terbuka terhadap hal di luar rencana cenderung lebih mudah menyadari peluang yang sebenarnya berada di sekitar mereka.

5. Apakah optimisme berkaitan dengan keberuntungan?

Penelitian tentang belief in good luck scale menunjukkan skor keyakinan terhadap nasib baik berkaitan dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi pada individu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |