12 Ciri Orang yang Terlalu Membutuhkan Validasi, Kenali Tanda dan Kebiasaannya

3 hours ago 2

Orang yang sangat bergantung pada penerimaan sosial dapat merasa bersalah ketika tidak memenuhi harapan orang lain.

Perasaan bersalah sesekali merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang memang melakukan kesalahan. Namun, rasa bersalah yang muncul hanya karena menetapkan batas, berbeda pendapat, atau menolak permintaan orang lain merupakan hal yang perlu dicermati.

Kebutuhan untuk diterima dan terhubung dengan orang lain memang penting. Akan tetapi, kebutuhan tersebut idealnya berjalan bersama dengan kemampuan mempertahankan otonomi dan rasa kompetensi diri.

11. Menganggap Penolakan sebagai Cerminan Harga Diri

Penolakan dari seseorang tidak selalu berarti bahwa diri kita tidak berharga. Orang lain dapat menolak ajakan, ide, permintaan, atau hubungan karena berbagai alasan.

Namun, ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi dapat terlihat ketika penolakan langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

Cara berpikir seperti ini membuat pengalaman sosial yang sebenarnya biasa menjadi terasa jauh lebih personal.

12. Terlalu Bergantung pada "Like" dan Komentar

Media sosial memungkinkan seseorang mendapatkan umpan balik secara cepat. Karena itu, jumlah like, komentar, atau respons dapat menjadi sumber validasi yang mudah diakses.

Tidak masalah jika seseorang merasa senang ketika unggahannya mendapat respons positif. Yang perlu diperhatikan adalah ketika angka tersebut menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah dirinya menarik, sukses, atau berharga.

Dalam konteks psikologi, orientasi yang sangat dikendalikan oleh penghargaan atau persetujuan eksternal berbeda dengan motivasi yang lebih otonom, yaitu melakukan sesuatu karena memang dianggap penting atau sesuai dengan nilai pribadi.

Cara Menyikapi Kebutuhan Validasi

Memiliki beberapa tanda di atas bukan berarti seseorang dapat langsung disebut memiliki gangguan mental tertentu. Ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi lebih tepat dipahami sebagai pola perilaku yang perlu dilihat secara menyeluruh.

Salah satu langkah yang dapat dicoba adalah mulai membedakan antara meminta masukan dan membutuhkan persetujuan. Masukan membantu seseorang mempertimbangkan informasi sebelum mengambil keputusan, sedangkan ketergantungan pada persetujuan dapat membuat seseorang merasa tidak mampu memutuskan tanpa orang lain.

Cobalah pula menanyakan kepada diri sendiri sebelum mencari pendapat orang lain: "Apa sebenarnya yang saya pikirkan?", "Apa yang saya inginkan?", dan "Apakah keputusan ini sesuai dengan nilai saya?"

Membangun rasa kompetensi juga dapat membantu. Alih-alih hanya mencari pujian, seseorang dapat mengevaluasi proses, usaha, keterampilan yang berkembang, dan hal yang berhasil dipelajari. Dalam Self-Determination Theory, kompetensi dan otonomi merupakan bagian dari kebutuhan psikologis dasar yang berkaitan dengan fungsi dan kesejahteraan.

Jika kebutuhan akan validasi sudah sangat mengganggu pekerjaan, hubungan, pengambilan keputusan, atau keseharian, berbicara dengan psikolog dapat menjadi pilihan yang lebih tepat. Penilaian profesional diperlukan untuk memahami penyebab dan pola yang mendasarinya, bukan sekadar menyimpulkan kondisi seseorang berdasarkan daftar tanda di internet.

Pertanyaan Seputar Orang yang Terlalu Membutuhkan Validasi

1. Apakah terlalu membutuhkan validasi berarti seseorang memiliki rasa percaya diri yang rendah? Belum tentu. Kebutuhan validasi dapat berkaitan dengan rasa percaya diri, tetapi juga bisa dipengaruhi pengalaman hidup, pola hubungan, lingkungan sosial, atau kebiasaan mencari kepastian dari orang lain. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan kondisi psikologis seseorang hanya berdasarkan satu perilaku.

2. Apakah kebutuhan validasi bisa berubah seiring waktu? Bisa. Pola mencari validasi dapat berubah ketika seseorang semakin mengenali dirinya, membangun kepercayaan terhadap kemampuan sendiri, dan belajar mengambil keputusan tanpa selalu bergantung pada penilaian orang lain. Perubahan juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman baru.

3. Bagaimana cara mengetahui bahwa kebutuhan validasi sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari? Perhatikan dampaknya. Kebutuhan validasi patut mendapat perhatian lebih apabila membuat seseorang terus-menerus cemas terhadap penilaian orang lain, sulit mengambil keputusan, menghindari aktivitas tertentu, atau mengalami masalah dalam pekerjaan dan hubungan. Jika dampaknya cukup berat atau berlangsung lama, konsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami penyebab dan pola perilakunya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |