Liputan6.com, Jakarta - Setiap orang memiliki kebiasaan dan cara mengekspresikan diri yang berbeda. Namun, ketika seseorang berpenampilan tidak biasa, memiliki minat yang sangat spesifik, atau berbicara dengan cara yang dianggap aneh, ia sering kali langsung mendapat label tertentu. Padahal, batas eksentrik dan gangguan mental tidak dapat ditentukan hanya dari seberapa berbeda perilaku seseorang dibandingkan orang lain.
Perilaku yang tidak lazim belum tentu menunjukkan adanya masalah psikologis. Seseorang bisa saja memiliki kepribadian eksentrik, tetapi tetap mampu bekerja, menjalin hubungan, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah seseorang terlihat “aneh”, melainkan apakah keunikan tersebut disertai gangguan pada cara berpikir, pengaturan emosi, perilaku, atau kemampuan menjalankan kehidupan. Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan utama Richard M. Restak, M.D. dalam artikel Psychology Today berjudul Is It a Behavioral Peculiarity or Psychiatric Disorder? Berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (14/8/2026).
Mengapa manusia mudah menganggap orang lain aneh?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4652124/original/015812200_1700185694-girlfriends-gossiping-home.jpg)
Perbesar
Manusia secara alami cenderung mengelompokkan orang berdasarkan karakteristik yang terlihat. Ketika bertemu seseorang untuk pertama kali, misalnya, kita mungkin segera menilai apakah ia ramah, pendiam, mudah diajak berbicara, terlalu serius, atau memiliki gaya yang berbeda. Masalah muncul ketika penilaian sosial tersebut berubah menjadi label psikologis tanpa dasar yang memadai.
Dalam artikel Psychology Today, Restak menyoroti kecenderungan manusia untuk memberi label kepada orang lain. Bahkan, semakin seseorang akrab dengan istilah-istilah psikiatri, semakin mudah ia tergoda menjelaskan perilaku tertentu menggunakan istilah kesehatan mental. Padahal, diagnosis bukan sekadar pemberian label terhadap perilaku yang dianggap tidak biasa.
Perbedaan antara “tidak biasa” dan “bermasalah” menjadi penting karena standar mengenai perilaku normal juga dipengaruhi lingkungan sosial dan budaya. Cara berpakaian, berbicara, memilih hobi, atau mengekspresikan gagasan yang dianggap aneh di satu tempat belum tentu dipandang sama di tempat lain.
Apa yang dimaksud dengan perilaku eksentrik?
Eksentrik secara sederhana dapat dipahami sebagai kecenderungan seseorang untuk memiliki perilaku, minat, penampilan, kebiasaan, atau cara berpikir yang menyimpang dari kebiasaan umum. Keunikan tersebut dapat terlihat dalam berbagai bentuk, mulai dari gaya berpakaian yang tidak konvensional hingga ketertarikan yang sangat mendalam terhadap bidang tertentu.
Restak mengutip pandangan psikolog klinis David Weeks yang membedakan eksentrisitas dari psikosis. Dalam perspektif tersebut, orang eksentrik pada dasarnya masih dapat memiliki fungsi kognitif yang baik. Mereka mungkin menjalani kehidupan dengan cara yang tidak lazim, tetapi keunikan itu tidak otomatis membuat mereka kehilangan kemampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Eksentrisitas juga tidak selalu muncul sebagai sesuatu yang negatif. Seseorang mungkin sengaja memilih gaya hidup berbeda karena merasa nyaman dengannya. Ada pula orang yang sangat tenggelam dalam minat intelektual, artistik, atau ilmiah tertentu sehingga tampak berbeda dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Dengan kata lain, menjadi berbeda bukanlah diagnosis.
Batas eksentrik dan gangguan mental tidak ditentukan oleh keanehan semata
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3762072/original/046017000_1640002178-pexels-photo-3251664.jpeg)
Perbesar
Inilah bagian terpenting dalam memahami batas eksentrik dan gangguan mental. Perilaku yang dianggap aneh secara sosial tidak cukup untuk menyatakan bahwa seseorang mengalami gangguan mental.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa gangguan mental ditandai oleh gangguan yang bermakna secara klinis pada kognisi, regulasi emosi, atau perilaku. Kondisi tersebut biasanya berkaitan dengan tekanan psikologis atau gangguan fungsi dalam bidang kehidupan penting.
Artinya, perhatian tidak hanya diarahkan pada bentuk perilakunya, tetapi juga pada dampaknya. Dua orang mungkin sama-sama memiliki kebiasaan yang tidak biasa, tetapi kondisi keduanya belum tentu sama. Salah satunya mungkin tetap mampu menjalani pekerjaan dan hubungan sosial dengan baik, sementara yang lain mengalami gangguan serius dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, menilai seseorang hanya berdasarkan penampilan atau kebiasaan tertentu dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Apa saja yang membedakan eksentrisitas dari gangguan mental?
Ada beberapa aspek yang dapat membantu memahami perbedaannya secara lebih hati-hati.
1. Kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari
Seseorang dengan kepribadian eksentrik masih dapat menjalankan berbagai tanggung jawabnya. Ia mungkin berpakaian dengan cara yang tidak umum, memiliki meja kerja yang penuh benda koleksi, atau mempunyai hobi yang dianggap unik, tetapi tetap mampu bekerja, belajar, mengurus kebutuhan pribadi, dan berinteraksi dengan orang lain.
Sebaliknya, gangguan mental dapat menyebabkan perubahan yang secara signifikan menghambat fungsi seseorang. WHO memasukkan gangguan pada fungsi personal, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan, atau bidang penting lainnya sebagai bagian penting dalam memahami gangguan mental.
2. Ada atau tidaknya tekanan psikologis
Eksentrisitas tidak selalu membuat seseorang menderita. Bahkan, seseorang dapat menikmati keunikannya dan menganggap cara hidup tersebut sebagai bagian penting dari identitas dirinya.
Sebaliknya, banyak gangguan mental berkaitan dengan tekanan psikologis yang nyata. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua kondisi mental selalu membuat seseorang menyadari atau merasakan penderitaan secara langsung. WHO sendiri menjelaskan bahwa tekanan atau gangguan fungsi biasanya muncul, tetapi tidak selalu menjadi satu-satunya syarat dalam setiap kondisi.
Karena itu, aspek ini sebaiknya tidak digunakan sebagai “tes” mandiri, melainkan sebagai salah satu pertimbangan dalam penilaian klinis.
3. Kemampuan membedakan realitas
Perbedaan yang sangat penting muncul ketika membicarakan psikosis. Dalam artikel Restak, eksentrisitas dibedakan dari kondisi psikosis yang dapat mengganggu proses berpikir dan fungsi seseorang.
Seseorang dapat mempunyai keyakinan atau minat yang tidak biasa tanpa kehilangan kemampuan untuk memahami realitas. Sebaliknya, kondisi psikosis dapat melibatkan gangguan serius dalam hubungan seseorang dengan realitas.
Karena itu, perilaku yang tampak aneh dari luar tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami psikosis. Penilaian mengenai kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan profesional.
Tidak semua orang dengan gaya unik sedang mengalami masalah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3762011/original/081558400_1639997964-pexels-andrea-piacquadio-3812719.jpg)
Perbesar
Bayangkan seseorang yang selalu mengenakan pakaian dengan kombinasi warna mencolok, mengoleksi benda-benda yang tidak umum, dan menghabiskan waktu luangnya mempelajari topik yang sangat spesifik. Lingkungannya mungkin menganggap kebiasaan tersebut aneh, tetapi selama ia tetap mampu menjalankan kehidupannya dan tidak menunjukkan gangguan psikologis yang signifikan, keunikan tersebut tidak otomatis menjadi gangguan mental.
Contoh lain adalah orang yang sangat menyukai kesendirian. Ia mungkin tidak banyak berbicara dalam pertemuan sosial dan lebih nyaman menghabiskan waktu dengan membaca atau mengerjakan proyek pribadi. Perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari kepribadian tanpa harus diberi label patologis.
Persoalannya menjadi berbeda apabila perubahan perilaku disertai gangguan yang nyata pada kemampuan berpikir, mengendalikan emosi, mengatur perilaku, atau menjalankan kehidupan. Di sinilah evaluasi profesional menjadi lebih relevan.
Artikel Psychology Today menggunakan kisah Joshua Abraham Norton, tokoh abad ke-19 yang menyatakan dirinya sebagai Kaisar Amerika Serikat. Norton mengenakan seragam militer lengkap dengan aksesori khas dan menjalani berbagai kebiasaan yang sangat tidak lazim. Ia bahkan mengeluarkan mata uangnya sendiri dan selama bertahun-tahun berkeliling San Francisco.
Bagi sebagian psikiater, perilaku tersebut dapat dilihat melalui kerangka delusi. Namun, David Weeks menilai Norton sebagai contoh klasik seorang eksentrik, bukan semata-mata orang yang mengalami psikosis. Perbedaan penafsiran tersebut justru menunjukkan betapa sulitnya menentukan kondisi seseorang hanya dari perilaku yang terlihat oleh masyarakat.
Kisah tersebut tidak berarti bahwa semua perilaku ekstrem harus dianggap normal. Sebaliknya, contoh itu mengingatkan bahwa konteks, fungsi kehidupan, proses berpikir, serta kondisi psikologis seseorang perlu dipertimbangkan secara keseluruhan.
Eksentrisitas juga dapat berkaitan dengan kreativitas
Perilaku yang berbeda dari norma sosial tidak selalu membawa dampak negatif. Restak juga membahas gagasan tentang weirdness atau keanehan sebagai sesuatu yang dalam konteks tertentu dapat dikaitkan dengan kreativitas dan pemikiran kewirausahaan. Ia menyinggung penelitian Jun-Yeob Kim mengenai weirdness dalam konteks kewirausahaan.
Dalam konteks tersebut, tidak mengikuti norma sosial mengenai penampilan, ucapan, atau perilaku dapat menjadi bagian dari karakteristik individual yang membuat seseorang terlihat berbeda. Perbedaan tersebut bahkan dapat menarik perhatian dan membuka ruang bagi cara berpikir yang lebih kreatif.
Namun, bukan berarti semua orang eksentrik pasti kreatif atau sukses. Keunikan hanyalah salah satu karakteristik manusia, bukan jaminan pencapaian tertentu.
Hal yang sama berlaku sebaliknya: seseorang yang tidak terlihat eksentrik juga tidak otomatis terbebas dari masalah kesehatan mental.
Eksentrik bukan diagnosis dalam DSM atau ICD-11
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5196410/original/024222000_1745403753-Mimpi_menakutkan.jpg)
Perbesar
Salah satu poin penting dari artikel Restak adalah bahwa eksentrisitas sendiri tidak tercantum sebagai diagnosis gangguan mental dalam DSM maupun ICD-11. Psychology Today mencatat bahwa perilaku eksentrik tidak dengan sendirinya dianggap sebagai gangguan kesehatan mental dalam kedua sistem klasifikasi tersebut.
WHO menjelaskan bahwa ICD-11 merupakan sistem klasifikasi yang digunakan untuk membantu identifikasi dan diagnosis berbagai gangguan mental secara akurat dalam konteks klinis.
Sementara itu, American Psychiatric Association menjelaskan bahwa DSM berisi klasifikasi dan kriteria diagnostik untuk gangguan mental yang digunakan oleh profesional terlatih. Kriteria tersebut tidak dirancang agar masyarakat melakukan diagnosis terhadap diri sendiri atau orang lain.
Karena itu, menyebut seseorang “mengalami gangguan mental” hanya karena ia berperilaku aneh merupakan langkah yang tidak tepat.
Mengapa kita perlu berhati-hati memberikan label?
Label dapat memengaruhi cara seseorang dipandang oleh lingkungan. Ketika perilaku unik langsung dianggap sebagai tanda gangguan mental, ruang untuk memahami kepribadian, latar belakang, budaya, dan pilihan personal seseorang menjadi semakin sempit.
Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Dia memiliki kebiasaan yang tidak biasa,” dan “Dia pasti mengalami gangguan mental.” Pernyataan pertama menggambarkan sesuatu yang dapat diamati, sedangkan pernyataan kedua sudah masuk ke wilayah diagnosis.
Padahal, diagnosis mental membutuhkan penilaian terhadap berbagai aspek dan dilakukan dengan menggunakan kriteria klinis. American Psychiatric Association menegaskan bahwa kriteria DSM ditujukan untuk digunakan oleh profesional terlatih dengan pertimbangan klinis, bukan sebagai alat diagnosis oleh masyarakat umum.
Pada akhirnya, memahami batas eksentrik dan gangguan mental berarti belajar menahan diri dari penilaian yang terlalu cepat. Perilaku unik boleh saja menjadi bagian dari kepribadian seseorang selama tidak otomatis dianggap sebagai penyakit.
Yang lebih penting adalah melihat keseluruhan kondisi seseorang: apakah fungsi kehidupannya terganggu, apakah terdapat tekanan psikologis yang signifikan, apakah kemampuan berpikir dan mengatur emosi mengalami perubahan, serta apakah perilaku tersebut menimbulkan masalah serius dalam kehidupan.
Keunikan manusia memang tidak selalu mudah dipahami. Namun, berbeda dari kebanyakan orang bukan berarti salah, dan terlihat aneh bukan berarti mengalami gangguan mental.
Tanya Jawab Seputar Perilaku Unik Manusia
1. Apakah orang yang berperilaku aneh pasti mengalami gangguan mental?
Tidak. Perilaku yang dianggap aneh secara sosial tidak cukup untuk menentukan adanya gangguan mental. Penilaian perlu mempertimbangkan kondisi psikologis, fungsi kehidupan, kemampuan berpikir, regulasi emosi, serta dampak perilaku tersebut terhadap kehidupan seseorang.
2. Apa yang dimaksud dengan orang eksentrik?
Orang eksentrik adalah orang yang memiliki perilaku, minat, penampilan, kebiasaan, atau cara mengekspresikan diri yang tidak lazim dibandingkan norma sosial di lingkungannya. Eksentrisitas bukan diagnosis gangguan mental.
3. Apakah menjadi eksentrik bisa menjadi tanda psikosis?
Eksentrisitas dan psikosis merupakan hal yang berbeda. Perilaku yang tidak biasa saja tidak cukup untuk menunjukkan psikosis. Psikosis berkaitan dengan gangguan yang lebih serius dalam proses berpikir dan hubungan seseorang dengan realitas, sehingga penilaiannya membutuhkan pemeriksaan profesional.
4. Kapan perilaku unik perlu mendapat perhatian?
Perilaku unik perlu mendapat perhatian lebih ketika disertai perubahan signifikan dalam kemampuan menjalankan kehidupan sehari-hari, gangguan dalam hubungan sosial atau pekerjaan, tekanan psikologis yang berat, gangguan dalam berpikir atau mengatur emosi, maupun kondisi lain yang mengkhawatirkan.
5. Apakah kita boleh mendiagnosis orang lain berdasarkan perilakunya?
Sebaiknya tidak. Diagnosis gangguan mental membutuhkan penilaian profesional dan penggunaan kriteria klinis yang sesuai. American Psychiatric Association secara khusus menjelaskan bahwa kriteria DSM ditujukan bagi profesional terlatih dan bukan untuk digunakan masyarakat umum sebagai alat diagnosis.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324534/original/019611900_1786717571-pexels-rdne-6669802.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2556406/original/044314600_1545825364-Guilherme_Stecanella.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4875026/original/062405400_1719373879-bilimbi-7613287_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323870/original/008480300_1786678271-ChatGPT_Image_Aug_14__2026__10_28_23_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/719505/original/ilustrasi_orang_kaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324127/original/058129900_1786691144-4d5d13c6-ff64-47c3-93d1-55263d65f72b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382408/original/016152300_1680579815-young-woman-sitting-cafe-with-her-laptop-stressful-wor_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3018960/original/048990500_1578725389-bill-oxford-aIlAhLdwk2g-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219953/original/035257700_1747264262-WhatsApp_Image_2025-05-15_at_5.59.57_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323778/original/051028800_1786674883-5ba512ec-0b4f-4e2f-b73a-5be92ed6bf08.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2710708/original/060756000_1548219714-ilustrasi-wawancara-kerja.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323519/original/032441800_1786617681-2704d138-08bd-4642-be8d-401a4540199b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5255462/original/086682000_1750161189-gloomy-asian-female-student-sitting-bored-with-laptop-home-tired-bored-studying-having-onli.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524359/original/072346100_1772943134-mix_and_match_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323431/original/056393800_1786612261-2149354291.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323288/original/064602100_1786608194-238b5113-3dcb-4b6e-921c-08fd7ce42194.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3217043/original/099770000_1598248459-woman-2696408_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326033/original/090766100_1756083081-0SnmlzVR5a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9322817/original/003692000_1786590596-pexels-ivan-s-4240505.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3538156/original/097512300_1628748534-pexels-streetwindy-2912515.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332650/original/077346000_1756525484-Gemini_Generated_Image_j4ny4uj4ny4uj4ny.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316820/original/042254200_1755251109-pexels-alireza-kaviani-535828-1374448.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936009/original/000915000_1645001334-16_februari_2022-4.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572021/original/014285000_1777729522-ChatGPT_Image_May_2__2026__08_45_00_PM__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4674211/original/014291300_1701747020-aleksi-raisa-DCCt1CQT8Os-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5028270/original/083764000_1732871855-fotor-ai-20241129161657.jpg)