7 Ciri-Ciri Pasangan Narsistik yang Sering Luput Dari Perhatian

7 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Ciri-ciri pasangan narsistik biasanya tidak langsung tampak sejak awal hubungan karena perilaku ini muncul secara bertahap dan tersamar di balik sikap yang terkesan perhatian. Banyak orang baru menyadari pola tersebut setelah menjalani hubungan yang terasa berat sebelah dan menguras emosi dalam waktu lama, bahkan hingga bertahun-tahun tanpa mereka sadari sepenuhnya.

Pola ini sering dimulai dari hal kecil, seperti komentar yang terdengar seperti candaan atau saran, namun lama-lama berubah menjadi kritik yang menekan rasa percaya diri pasangan. Kebutuhan pasangan lambat laun menjadi nomor dua, sementara segala sesuatu tampak berpusat pada keinginan satu pihak saja setiap waktu.

Memahami ciri-ciri pasangan narsistik penting agar seseorang bisa mengenali tanda bahaya sejak dini dan mengambil langkah yang tepat untuk melindungi kesehatan mentalnya. Berikut ini adalah beberapa tanda pasangan narsistik yang perlu diwaspadai yang dilansir oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (13/8/2026).

Terus-Menerus Dikritik dan Diremehkan

Kritik yang datang berulang kali menjadi salah satu tanda paling umum dalam hubungan dengan pasangan narsistik. Akan tetapi, kritik yang mereka sampaikan tidak selalu terbuka. Seperti yang disampaikan Mindful Health, pasangan narsistik sering merendahkan pasangannya dengan bentuk kritik yang disamarkan sebagai nasihat ataupun candaan.

Sebagai contoh, ketika pasangan mencapai sesuatu yang membanggakan, respons yang muncul justru komentar yang mengecilkan pencapaian itu atau anggapan bahwa hal tersebut biasa saja. Situasi seperti ini membuat kamu mungkin merasa apa pun yang telah dilakukan tidak pernah cukup di mata pasangan.

Pola ini bisa berlangsung lama tanpa disadari karena kritik semacam itu datang dengan nada yang terdengar peduli. Lama-kelamaan, kebiasaan ini membuat seseorang terbiasa meragukan kemampuan diri sendiri dan merasa harus selalu berusaha lebih keras hanya untuk mendapat pengakuan sederhana dari pasangannya.

Mereka Haus Pujian

Kebutuhan akan pujian menjadi ciri lain yang kerap muncul pada pasangan narsistik. Nedra Glover Tawwab, pendiri Kaleidoscope Counseling, dalam keterangannya yang dilansir dari Healthline mengatakan mereka butuh banyak pujian, dan jika pasangan tidak memberikannya, mereka akan memancing pasangan untuk memuji mereka.

Cara memancing pujian ini biasanya muncul lewat cerita berulang tentang pencapaian diri, sindiran halus tentang hal yang telah dilakukan, atau raut wajah kecewa saat tidak ada tanggapan yang diharapkan. Pola semacam ini bisa terjadi hampir di setiap percakapan sehari-hari, bahkan pada topik yang sebenarnya tidak berkaitan dengan mereka.

Ketergantungan pada pujian ini sering menutupi rasa percaya diri yang sebenarnya rapuh di balik sikap yang tampak yakin pada diri sendiri. Begitu pujian tidak datang, mereka bisa menunjukkan sikap dingin atau bahkan menyalahkan pasangan atas kurangnya perhatian yang mereka rasakan.

Sering Mengabaikan Kebutuhanmu

Pasangan narsistik umumnya tampil menarik dan meyakinkan pada tahap awal hubungan. Psychology Today menuliskan bahwa mereka biasanya pandai merayu dan meyakinkan orang lain, sehingga mudah bagi pasangan untuk terbawa mengikuti keinginan mereka karena awalnya terasa menyenangkan dan penuh perhatian.

Namun, sikap itu berubah seiring waktu. Sumber yang sama mencatat bahwa pasangan narsistik sering menjadi pendengar yang buruk, lebih banyak membicarakan diri sendiri, kerap memotong pembicaraan, dan kurang memperhatikan pikiran maupun perasaan pasangannya dalam percakapan sehari-hari.

Akibatnya, kebutuhan emosional pasangan jarang menjadi prioritas dalam hubungan tersebut. Topik yang dibahas lebih banyak diarahkan pada hal yang menguntungkan satu pihak, sementara keluhan atau harapan pasangan lain kerap dianggap tidak penting untuk dibahas lebih jauh.

Mereka Tidak Memiliki Banyak Teman yang Bertahan Lama

Riwayat pertemanan bisa menjadi petunjuk penting untuk mengenali pola narsistik pada seseorang. Healthline mencatat bahwa orang dengan gangguan kepribadian narsistik umumnya sering berkonflik dengan orang lain, sehingga jika ditelusuri lebih dalam, mereka biasanya hanya memiliki sedikit teman dekat yang bertahan.

Kondisi ini berkaitan dengan sikap yang mudah tersinggung dan merasa tidak aman terhadap hubungan pertemanan pasangannya. Sumber yang sama menjelaskan bahwa mereka cenderung bereaksi berlebihan ketika pasangan ingin menghabiskan waktu bersama orang lain, termasuk teman lama atau keluarga dekat.

Reaksi berlebihan itu sering muncul dalam bentuk tuduhan bahwa pasangan tidak memberi cukup waktu untuknya, meski waktu yang diminta sebenarnya wajar. Pola ini pelan-pelan membuat pasangan menjauh dari lingkaran sosialnya sendiri karena merasa harus terus meredakan kecemburuan tersebut.

Kamu Merasa Bertanggung Jawab atas Segalanya

Rasa bersalah yang terus muncul juga kerap dialami pasangan dari seseorang dengan sifat narsistik. Verywell Mind menuliskan bahwa mereka cenderung menganggap segala sesuatu selalu menjadi kesalahan orang lain, termasuk kesalahan yang sebenarnya mereka lakukan sendiri, sehingga permintaan maaf hampir tidak pernah keluar dari mereka.

Pola menyalahkan ini biasanya diarahkan langsung kepada pasangan. Ketika muncul masalah dalam hubungan, sekecil apa pun, tanggung jawab hampir selalu dilimpahkan kepada pasangan, meski mereka sendiri yang menjadi penyebab utama persoalan tersebut.

Situasi semacam ini membuat seseorang perlahan merasa segala hal buruk dalam hubungan adalah tanggung jawabnya sendiri. Perasaan ini terus terbawa hingga ke aspek kehidupan lain, membuat pasangan sulit membedakan mana kesalahan yang benar-benar miliknya dan mana yang bukan.

Mereka Membuatmu Meragukan Diri Sendiri

Gaslighting menjadi salah satu taktik yang paling sering dipakai pasangan narsistik untuk mengendalikan pasangannya. Verywell Mind menjelaskan bahwa ketika seseorang terus-menerus menyangkal hal yang diketahui pasangannya sebagai kebenaran, itulah bentuk gaslighting, sebuah pola yang umum ditemukan dalam hubungan yang bersifat mengendalikan.

Taktik ini biasanya muncul saat terjadi perselisihan. Pasangan narsistik akan menyangkal kejadian yang sebenarnya berlangsung, memutarbalikkan cerita, atau menyalahkan pasangan atas hal yang sebenarnya mereka lakukan sendiri, sehingga kejadian yang jelas justru dipertanyakan kembali kebenarannya.

Dampaknya, pasangan mulai ragu terhadap ingatannya sendiri meski yakin sesuatu benar-benar terjadi. Rasa percaya terhadap penilaian diri sendiri terkikis sedikit demi sedikit, membuat seseorang cenderung meminta maaf lebih dulu meski sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa pun.

Memperlakukanmu Seperti Piala untuk Dipamerkan

Sebagian pasangan narsistik memperlakukan hubungan sebagai sarana untuk membangun citra di depan orang lain. Psychology Today menuliskan bahwa banyak dari mereka senang melakukan hal-hal yang bisa membuat diri mereka terlihat baik di mata orang lain, termasuk memanfaatkan pasangannya sebagai bagian dari citra tersebut.

Sumber yang sama menyebutkan bahwa orang lain, benda, status, maupun pencapaian sering dijadikan representasi diri untuk menutupi sosok asli yang sebenarnya rapuh dan merasa tidak cukup. Dalam kehidupan sehari-hari, pola ini terlihat dari kebiasaan memamerkan pasangan hanya pada momen tertentu yang menguntungkan citra mereka.

Perlakuan semacam ini membuat pasangan merasa dihargai hanya ketika bisa menaikkan citra pasangannya, bukan karena dirinya sendiri. Ketika tidak lagi dianggap berguna untuk tujuan tersebut, perhatian yang diberikan pun ikut berkurang secara drastis tanpa penjelasan yang jelas.

Pertanyaan Seputar Ciri-Ciri Pasangan Narsistik

Apa penyebab seseorang memiliki sifat narsistik dalam hubungan? Sifat ini sering berkaitan dengan pola asuh masa kecil, rasa tidak aman yang tersembunyi, serta kebutuhan berlebihan akan pengakuan dari orang lain, meski faktor pastinya bisa berbeda pada setiap individu.

Apakah pasangan narsistik bisa berubah? Perubahan mungkin terjadi jika orang tersebut mau mengakui masalahnya dan menjalani proses konseling secara konsisten, meski hal ini sulit karena mereka jarang merasa ada yang salah pada dirinya.

Bagaimana cara menghadapi pasangan yang narsistik? Menetapkan batasan yang jelas, menjaga hubungan dengan keluarga maupun teman dekat, serta mencari dukungan dari terapis menjadi langkah yang bisa membantu seseorang menghadapi situasi ini.

Apakah gaslighting selalu berarti pasangan narsistik? Tidak selalu, karena gaslighting bisa dilakukan siapa saja, namun taktik ini memang umum ditemukan pada orang dengan kecenderungan narsistik sebagai cara mengendalikan pasangannya.

Kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan narsistik? Ketika hubungan sudah memengaruhi kesehatan mental secara serius dan pasangan menolak berubah meski sudah diberi kesempatan, mengakhiri hubungan bisa menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan demi kesejahteraan diri sendiri.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |