Alasan Seseorang Sulit Membuang Baju Lama Meski Jarang Dipakai? Ini 10 Penyebab yang Sering Terjadi

6 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Baju lama yang jarang dipakai sering kali tetap bertahan di dalam lemari selama bertahun-tahun. Meski sudah tidak menjadi pilihan untuk dikenakan, pakaian tersebut terasa sulit untuk dilepaskan. Alasan seseorang sulit membuang baju lama meski jarang dipakai ternyata tidak selalu berkaitan dengan rasa sayang semata.

Ada berbagai pertimbangan yang membuat seseorang memilih menyimpan pakaian lama, mulai dari kenangan, harga saat membeli, hingga kekhawatiran akan membutuhkannya di kemudian hari. Kondisi baju yang masih bagus juga kerap menjadi alasan untuk menunda keputusan menyingkirkannya.

Menariknya, kebiasaan menyimpan baju lama bisa menunjukkan cara seseorang memandang barang, kenangan, dan perubahan dalam hidupnya. Lantas, apa saja alasan yang membuat pakaian yang jarang dipakai tetap sulit dilepaskan? Berikut sejumlah penyebab yang mungkin pernah Anda alami, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Kamis (13/8/2026).

1. Nilai Sentimental yang Kuat

Pakaian seringkali berfungsi sebagai wadah bagi kenangan dan pengalaman pribadi yang berharga. Sebuah kaus konser, pakaian wisuda, atau barang warisan dari orang terkasih dapat menyimpan bobot emosional yang kuat, menjadikannya lebih dari sekadar kain biasa.

Melepaskan barang-barang ini terasa seperti kehilangan memori itu sendiri, meskipun kenangan tersebut tetap ada tanpa objeknya. Penelitian tentang keterikatan emosional pada pakaian menunjukkan bahwa barang yang paling lama disimpan biasanya memiliki hubungan keluarga yang kuat atau terkait dengan memori pribadi.

2. Identitas Aspiratif yang Belum Terwujud

Seseorang sering membeli pakaian untuk versi diri yang ingin mereka capai di masa depan, bukan untuk diri mereka saat ini. Ini bisa berupa pakaian untuk pekerjaan impian, tubuh yang lebih ramping, atau gaya hidup yang belum terwujud. Psikolog konsumen Kit Yarrow menjelaskan bahwa orang berbelanja dengan memvisualisasikan gaya hidup yang mungkin tidak pernah ada.

Pakaian ini menjadi simbol harapan dan potensi, dan melepaskannya terasa seperti melepaskan versi kehidupan yang dibayangkan. Ketika masa depan yang diimpikan itu tidak pernah tiba, pakaian tersebut tetap tidak tersentuh di lemari.

3. Rasa Bersalah Finansial atas Pembelian

Banyak orang merasa sulit membuang pakaian karena merasa bersalah atas uang yang telah dikeluarkan. Konsep sunk cost fallacy berperan di sini, di mana seseorang enggan melepaskan sesuatu karena investasi awal yang telah dilakukan.

Membuang atau menyumbangkan barang mahal terasa seperti mengakui bahwa pembelian tersebut adalah kesalahan. Rasa bersalah finansial ini membuat seseorang tetap terikat pada barang yang tidak pernah dipakai, menghindari ketidaknyamanan mengakui kesalahan tersebut.

4. Pola Pikir "Untuk Berjaga-jaga"

Banyak orang menyimpan pakaian dengan pemikiran "untuk berjaga-jaga" jika suatu saat dibutuhkan, seperti celana jeans yang tidak lagi muat atau jaket untuk gaya hidup yang berbeda.

Pola pikir ini terkait dengan optimisme tentang rencana masa depan, apakah itu kembali ke berat badan tertentu, perubahan karier, atau menghadiri acara yang mungkin tidak pernah terwujud. Melepaskan pakaian ini terasa seperti melepaskan kemungkinan masa depan yang diimpikan.

5. Keterikatan dengan Identitas Diri

Pakaian adalah salah satu cara paling langsung bagi seseorang untuk menampilkan diri kepada dunia. Pilihan warna, potongan, dan gaya mulai mengkomunikasikan nilai, afiliasi, dan sejarah pribadi kepada orang lain.

Pakaian mencerminkan identitas dengan cara yang dibentuk oleh budaya, konteks sosial, dan ekspresi individu. Melepaskan pakaian tertentu dapat terasa seperti melepaskan bagian dari identitas diri yang telah terbangun.

6. Memori Otobiografi dalam Pakaian

Pakaian dapat berfungsi sebagai pemicu emosional yang membawa, menyimpan, dan merekam memori, membangkitkan memori taktil, sensorik, dan emosional. Kontak dekatnya dengan tubuh memberikan kemampuan untuk menyimpan cerita pribadi dan intim dari masa lalu.

Pakaian yang pernah dipakai mewakili jejak kehidupan yang dijalani, hidup dengan semua yang telah disaksikannya, membangkitkan perasaan mendalam, dan dapat menceritakan kisah nyata. Melepaskan pakaian ini terasa seperti memutuskan hubungan dengan versi diri di masa lalu.

7. Keengganan Mengakui Perubahan Tubuh

Banyak orang menyimpan pakaian yang tidak lagi muat dengan harapan suatu hari nanti akan kembali ke ukuran tersebut. Sebuah studi menemukan bahwa 85% wanita memiliki pakaian di lemari mereka yang tidak muat.

Selama pakaian "kurus" disimpan, ada motivasi untuk berubah. Membuangnya terasa seperti mengakui kekalahan atau melepaskan harapan untuk mencapai tujuan berat badan tertentu, sehingga pakaian ini sering berfungsi sebagai timbangan berat badan.

8. Kelelahan Pengambilan Keputusan

Proses merapikan lemari melibatkan banyak keputusan kecil tentang setiap barang, yang dapat menyebabkan kelelahan pengambilan keputusan. Ini terjadi ketika kapasitas otak untuk membuat keputusan yang baik berkurang karena penggunaan berulang.

Ketika dihadapkan pada lemari yang penuh, volume keputusan mikro yang terlibat dalam menyortir pakaian dapat membanjiri bahkan orang yang umumnya tegas. Hal ini membuat proses menyingkirkan barang terasa melelahkan dan seringkali dihindari.

9. Ketakutan Akan Penyesalan di Masa Depan

Seseorang mungkin takut akan penyesalan jika membuang pakaian yang mungkin dibutuhkan di kemudian hari. Ketakutan ini sangat terkait dengan "loss aversion", bias universal yang membuat otak merasa kehilangan barang lebih menyakitkan daripada kegembiraan mendapatkan yang baru.

Ketakutan ini dapat menghambat proses decluttering, membuat seseorang mempertahankan barang yang tidak perlu hanya karena kemungkinan kecil akan dibutuhkan di masa depan. Ada kekhawatiran tidak memiliki uang, waktu, atau kemampuan untuk menemukan pengganti yang disukai.

10. Kepemilikan Psikologis yang Kuat

Keterikatan psikologis terhadap barang, termasuk pakaian, dapat menjadi fenomena yang kuat. Pakaian tertentu selaras dengan konsep diri, memicu respons emosional saat melihat, memakai, atau memikirkannya.

Dalam konteks mode, di mana pakaian sering berfungsi sebagai ekspresi identitas pribadi, hubungan antara kepemilikan psikologis dan perilaku menimbun mungkin sangat jelas. Investasi diri dalam memperoleh barang dapat memperkuat hubungan psikologis ini.

Pertanyaan Seputar Alasan Seseorang Sulit Membuang Baju Lama Meski Jarang Dipakai

Mengapa sulit membuang barang yang memiliki nilai sentimental? Sulit membuang barang sentimental karena berfungsi sebagai tautan nyata ke masa lalu, mampu membangkitkan emosi dan kenangan yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh foto sederhana.

Apakah menimbun pakaian merupakan gangguan psikologis? Ketika seseorang mengalami kesulitan ekstrem untuk berpisah dengan barang-barang, termasuk pakaian, perilaku tersebut dapat diidentifikasi sebagai gangguan menimbun.

Bagaimana cara mengatasi kelelahan pengambilan keputusan saat merapikan lemari? Strategi yang efektif adalah mengurangi jumlah keputusan yang harus dibuat pada satu waktu, misalnya dengan membatasi ruang lingkup menjadi satu rak atau kategori tertentu.

Apakah pakaian memengaruhi suasana hati dan kepercayaan diri? Ya, pakaian dapat memengaruhi suasana hati, harga diri, dan keadaan mental secara keseluruhan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai "enclothed cognition".

Apa manfaat dari merapikan lemari pakaian? Merapikan lemari pakaian dapat mengurangi stres, meningkatkan kepercayaan diri, memberikan pelepasan emosional, dan berkontribusi pada gaya hidup yang lebih sehat dengan mengurangi kelelahan pengambilan keputusan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |