Harga Bitcoin Makin Loyo, Tekanan Global Bikin Investor Mundur

3 days ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan dan mencatatkan penurunan tajam untuk hari kedua berturut-turut, memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelanjutan tren pelemahan aset digital global.

Dikutip dari CNBC, Kamis (05/02/2026), mata uang kripto terbesar di dunia itu nyaris menyentuh level psikologis USD 72 Ribu, atau lebih dari Rp 1,207 miliar (kurs USD 1 = Rp 16.765), sebuah posisi terendah dalam sekitar 16 bulan terakhir sekaligus menandai koreksi lebih dari 40 persen dari rekor tertingginya yang tercatat pada Oktober lalu.

Tekanan terhadap Bitcoin tidak datang dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dinamika global yang semakin kompleks. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa, terutama terkait manuver Presiden AS Donald Trump di wilayah Greenland, telah mendorong investor global menjauh dari aset berisiko tinggi.

Pada saat yang sama, berakhirnya penutupan sebagian pemerintah AS turut menunda rilis sejumlah data ekonomi penting, memperburuk ketidakpastian arah pasar.

Sentimen negatif juga diperkuat oleh ekspektasi perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat setelah Presiden Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve.

Pasar menilai langkah tersebut berpotensi menggeser sikap bank sentral terhadap suku bunga dan likuiditas, yang selama ini menjadi penopang utama aset spekulatif seperti kripto. Selain itu, lambatnya realisasi regulasi dan kebijakan legislatif yang lebih ramah kripto di AS turut menahan minat investor institusional.

Kondisi tersebut membuat pasar kripto berada dalam fase defensif, dengan investor lebih memilih mengamankan aset dan menunggu kejelasan arah ekonomi global.

Bitcoin Dekati Level Kunci USD 70 Ribu

Bitcoin sempat merosot hingga USD 72.096,20, lebih dari Rp 1,208 miliar atau turun lebih dari 5 persen dalam satu hari, sebelum sedikit membaik dan diperdagangkan di kisaran USD 72.958,38, setara Rp 1,223 miliar.

Analis menilai level USD 70 ribu, atau lebih dari Rp 1,207 miliar menjadi batas psikologis penting yang perlu dicermati investor. Menurut catatan Citi kepada klien, jika level ini ditembus, tekanan jual berpotensi semakin dalam.

Bitcoin sebelumnya telah menembus level USD 73 ribu, atau lebih dari Rp 1,223 pada Selasa, mendekati harga sebelum momentum pemilihan presiden AS, yang selama ini dianggap sebagai salah satu katalis reli kripto.

Arus Keluar ETF Bitcoin Tekan Likuiditas

Tekanan harga juga diperparah oleh arus keluar dana institusional dalam jumlah besar. Analis Deutsche Bank mencatat, ekspektasi koreksi lanjutan mendorong investor institusi menarik dana mereka dari pasar Bitcoin, sehingga mengurangi likuiditas secara signifikan.

ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar lebih dari USD 3 miliar, atau sekitar Rp 50 triliun sepanjang Januari, setelah sebelumnya kehilangan sekitar USD 2 miliar, sekitar Rp 33 triliun pada Desember dan USD 7 miliar, sekitar Rp 117 triliun pada November. Tren ini terjadi sejak gelombang likuidasi besar-besaran posisi kripto dengan leverage tinggi pada Oktober lalu.

Saham Kripto Ikut Tertekan

Penurunan harga Bitcoin turut berdampak pada saham-saham terkait kripto. Strategy, perusahaan pengelola Bitcoin, tercatat melemah sekitar 5 persen. Sementara itu, saham perusahaan penambangan aset digital seperti Riot Platforms dan MARA Holdings anjlok hampir 11 persen dalam satu hari perdagangan.

Tekanan yang meluas ini menunjukkan bahwa pelemahan Bitcoin tidak hanya berdampak pada pasar kripto, tetapi juga merembet ke sektor saham yang memiliki eksposur besar terhadap aset digital.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |