BTC Anjlok di Bawah USD 64 Ribu, Masih Layakkan Bitcoin Dikoleksi?

2 days ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin (BTC) turun tajam dalam beberapa bulan terakhir dan kembali menjadi sorotan pelaku pasar global. Mata uang kripto terbesar di dunia ini tercatat merosot lebih dari 50 persen dari level tertingginya yang sempat menyentuh USD 126 ribu, atau sekitar Rp 2,1 miliar (estimasi kurs Rp 16.825 per dolar AS) pada Oktober lalu, hingga jatuh ke bawah USD 64 ribu, atau setara Rp 1 miliar.

Koreksi dalam ini memicu kembali perdebatan klasik di kalangan investor:

Apakah Bitcoin masih layak dipertahankan, menjadi peluang beli, atau sebaiknya dilepas sebelum risiko semakin besar?

Dikutip dari CNBC, Jumat (6/2/2026), penurunan harga Bitcoin terjadi di tengah kombinasi tekanan global, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan yang tinggi, hingga sikap investor yang semakin berhati-hati meski kondisi ekonomi secara umum masih relatif stabil.

Kondisi ini cukup kontras dengan ekspektasi pasar sebelumnya, terutama setelah peluncuran ETF Bitcoin spot pada Januari 2024 yang digadang-gadang akan menarik arus modal institusional dan menopang harga dalam jangka panjang.

Selain itu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai lebih ramah terhadap industri kripto sempat memberikan sentimen positif. Namun, faktor-faktor tersebut belum mampu menahan tekanan jual yang terjadi belakangan ini.

Sejumlah analis menilai, pergerakan Bitcoin memang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen dan likuiditas, sehingga ketika pasar global memasuki fase “risk-off”, aset kripto cenderung mengalami fluktuasi yang jauh lebih tajam dibandingkan saham atau obligasi.

Situasi ini membuat banyak investor ritel kembali mengevaluasi peran Bitcoin dalam portofolio mereka, terutama di tengah risiko koreksi lanjutan yang masih membayangi pasar kripto global.

Bitcoin dan Volatilitas Pasar Global

Secara historis, Bitcoin dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi. Berbeda dengan saham atau obligasi yang memiliki dasar kinerja perusahaan atau arus kas, pergerakan harga Bitcoin sebagian besar didorong oleh sentimen investor.

Analisis S&P Global Ratings pada 2023 menyebutkan bahwa kripto cenderung bereaksi lebih ekstrem saat pasar mengalami tekanan atau ketidakpastian.

John Blank, Kepala Ahli Strategi Ekuitas di Zacks Investment Research, memperingatkan, Bitcoin sangat bergantung pada permintaan berkelanjutan. Ketika minat beli melemah, harga dapat “meledak naik dan turun” dalam waktu singkat.

Ia tidak menutup kemungkinan Bitcoin bisa turun hingga level USD 40 ribu, atau sekitar Rp 673 juta apabila tekanan pasar semakin dalam.

Apakah Bitcoin Masih Layak Dipertahankan?

Para penasihat keuangan menegaskan bahwa tidak ada keputusan tunggal yang berlaku untuk semua investor. Langkah mempertahankan, menambah, atau menjual Bitcoin sangat bergantung pada tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan toleransi risiko masing-masing individu.

Vered Frank, perencana keuangan bersertifikat sekaligus pendiri StackWealth, menilai volatilitas ekstrem ini menegaskan bahwa kripto masih merupakan aset spekulatif. Ia menyarankan agar Bitcoin hanya menjadi bagian kecil dari portofolio yang terdiversifikasi.

 “Alokasi 1 persen hingga 5 persen bisa masuk akal bagi investor dengan fondasi keuangan yang kuat dan toleransi risiko yang tinggi,” katanya.

Menurut Frank, penurunan pasar tidak mengubah peran kripto, tetapi menyoroti ketidakpastiannya.

Volatilitas Jadi ‘Ciri Khas’ Bitcoin

Di sisi lain, Douglas Boneparth, perencana keuangan bersertifikat dan salah satu pendiri Bone Fide Wealth, melihat volatilitas Bitcoin sebagai fitur, bukan kelemahan. Ia yang telah memegang Bitcoin sejak 2014 memandang aset kripto ini sebagai penyimpan nilai jangka panjang bagi investor tertentu.

Boneparth menilai, pasokan Bitcoin yang terbatas serta independensinya dari pemerintah dan bank sentral tetap menjadi faktor pendukung nilai dalam jangka panjang. Menurutnya, investor perlu bertanya pada diri sendiri apakah fundamental keyakinan mereka terhadap Bitcoin benar-benar berubah akibat koreksi harga saat ini.

“Jika Anda memiliki Bitcoin dengan keyakinan bahwa itu adalah kelas aset yang sah dengan peluang jangka panjang, Anda harus bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya berubah dengan penurunan harga baru-baru ini," katanya.

Tetap Spekulatif, Bukan Fondasi Portofolio

Meski memiliki potensi jangka panjang, para ahli sepakat, Bitcoin tidak menghasilkan pendapatan atau arus kas seperti saham atau obligasi. Artinya, keuntungan sepenuhnya bergantung pada apresiasi harga, yang disertai risiko fluktuasi tajam.

Frank menyebut, bagi sebagian besar investor, Bitcoin dinilai tidak cocok menjadi fondasi utama perencanaan keuangan.

“Bagi kebanyakan orang, kripto hanya masuk akal sebagai bagian kecil dari portofolio yang terdiversifikasi dan dalam jumlah yang mampu mereka tanggung kerugiannya. Kripto tidak seharusnya menggantikan saham, obligasi, atau tabungan darurat,” kata Frank.

Penurunan harga Bitcoin di bawah USD 64 ribu, atau setara Rp 1 miliar kembali menjadi pengingat bahwa meski menjanjikan peluang, aset kripto tetap menyimpan risiko besar yang perlu dikelola secara bijak oleh investor.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |