BTC Alami Akhir Pekan Terburuk Sejak 2022, Ini Penyebab Kejatuhannya

2 days ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) mengalami kejatuhan tajam sepanjang akhir pekan, dengan harga sempat merosot hingga USD 75.000, menandai kinerja terburuk sejak crypto winter 2022. Aset kripto terbesar di dunia ini tercatat menghapus sekitar USD 800 miliar kapitalisasi pasar dari puncak Oktober di atas USD 126.000.

Dikutip dari Coinmarketcap, Jumat (6/2/2026), penurunan tersebut membuat Bitcoin terlempar dari jajaran 10 besar aset global untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Aksi jual besar-besaran juga memaksa penutupan hampir USD 2,5 miliar posisi leverage, serta membuat Bitcoin tertinggal dari aset tradisional seperti Tesla dan Saudi Aramco dalam peringkat kapitalisasi pasar.

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto. Pada periode yang sama, harga emas turun 9 persen ke USD 4.900, sementara perak anjlok 26 persen ke USD 85,30, mencatat salah satu penurunan terdalam dalam sejarahnya. Hal ini menunjukkan bahwa gejolak pasar terjadi secara luas, tidak terbatas pada kripto semata.

Pemicu Awal Kejatuhan Bitcoin

Pemicu langsung kejatuhan harga Bitcoin berasal dari meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran pada Sabtu. Saat risiko geopolitik meningkat, investor global cenderung melakukan flight to safety, yakni memindahkan dana ke dolar AS.

Karena diperdagangkan 24 jam tanpa henti, Bitcoin menjadi aset pertama yang terkena dampak, terutama di tengah likuiditas akhir pekan yang tipis.

Tekanan Dolar AS dan Kerusakan Struktur Teknikal

Penguatan dolar AS semakin diperkuat oleh nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve. Langkah ini memicu reli besar dolar AS, sehingga aset berdenominasi dolar seperti Bitcoin, emas, dan perak menjadi lebih mahal bagi investor global. Akibatnya, terjadi aksi jual serempak di berbagai aset keras (hard assets).

Kondisi pasar juga diperparah oleh likuiditas yang belum pulih sepenuhnya sejak kejatuhan pasar pada 10 Oktober. Data Kaiko menunjukkan bahwa kedalaman pasar—indikator kemampuan pasar menyerap transaksi besar—masih lebih dari 30 persen di bawah level puncak Oktober. Order book belum sepenuhnya pulih, sementara selisih harga jual dan beli masih lebih lebar dari normal.

Breakdown Teknikal Mempercepat Penurunan

Dari sisi teknikal, pergerakan Bitcoin pada Sabtu menunjukkan tekanan berat. Harga gagal bertahan di level support krusial USD 82.500, yang selama ini dipantau ketat analis teknikal. Jebolnya level ini memicu aksi jual lanjutan, baik dari sistem perdagangan algoritmik maupun trader manual.

Bitcoin juga menembus garis tren naik yang terbentuk sejak akhir Desember. Lebih jauh, harga turun di bawah rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 50 hari di kisaran USD 75.500, yang kini berubah fungsi menjadi area resistance.

Untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023, Bitcoin juga jatuh di bawah realized market value di level USD 80.700, yakni titik rata-rata harga beli seluruh pemegang Bitcoin. Kondisi ini membuat mayoritas pelaku pasar berada dalam posisi rugi, meningkatkan risiko panic selling.

Likuidasi Paksa dan Perbedaan Aksi Investor

Aksi jual Bitcoin semakin diperparah oleh likuidasi paksa di pasar derivatif. Saat harga turun, bursa secara otomatis menutup posisi trader yang tidak lagi memiliki jaminan cukup. Data Coinglass mencatat, lebih dari USD 850 juta posisi long terlikuidasi hanya dalam jam-jam awal pada Sabtu.

Jumlah tersebut kemudian melonjak hingga hampir USD 2,5 miliar, dengan sekitar 200.000 akun trader terlikuidasi di berbagai bursa. Likuidasi ini menciptakan efek domino, di mana penjualan paksa menekan harga lebih dalam dan memicu likuidasi lanjutan.

Whale Akumulasi, Investor Ritel Menyerah

Data dompet digital Glassnode menunjukkan perbedaan tajam perilaku pasar. Investor kecil dengan kepemilikan di bawah 10 BTC tercatat terus menjual selama lebih dari sebulan terakhir, seiring harga Bitcoin turun sekitar 35 persen dari rekor tertinggi USD 126.000.

Sebaliknya, mega-whale yang memegang 1.000 BTC atau lebih justru melakukan akumulasi. Kepemilikan kelompok ini meningkat ke level tertinggi sejak akhir 2024, menyerap suplai dari investor yang panik menjual. Namun, pembelian tersebut belum cukup besar untuk membalikkan tren penurunan harga.

Tekanan Tambahan dari Sisi Korporasi

Kepemilikan Bitcoin oleh Strategy juga menjadi sorotan ketika harga sempat turun di bawah harga rata-rata beli perusahaan di USD 76.037. Meski sempat muncul kekhawatiran, tidak ada skenario penjualan paksa karena Bitcoin milik Strategy tidak dijadikan jaminan utang.

Namun, tekanan muncul dari sisi lain. Saham Strategy telah turun hampir 70 persen dari puncak Juli 2024, sehingga menyulitkan perusahaan untuk menghimpun dana murah guna membeli Bitcoin tambahan. Kondisi ini mengurangi salah satu sumber permintaan institusional terbesar di pasar.

Secara teknikal, grafik harian menunjukkan Bitcoin masih berada di wilayah bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 21,50, jauh di bawah ambang 30 yang menandakan kondisi jenuh jual.

Meski demikian, kondisi oversold bisa bertahan lama dalam tren turun yang kuat, sehingga belum menjadi jaminan pembalikan harga dalam waktu dekat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |